Pages

Showing posts with label bisnis. Show all posts
Showing posts with label bisnis. Show all posts

Tuesday, January 26, 2016

Berkaryalah dengan Hati



Momong anak sambil jualan di toko :)



Ketika kita berpikir out of the box, ternyata ada banyak peluang yang bisa kita raih yang tak terbayangkan sebelumnya

Ketika kita berani keluar dari zona nyaman, ada banyak marabahaya mengancam..namun anehnya, kita menjadi kuat

Ketika kita mau bersahabat dengan ketidakpastian, ternyata kepastian itu akan datang dengan sendirinya

Quote-quote diatas saya yakini sebagai mantra penguat saat akan melakukan suatu hal baru dalam hidup saya. Seringkali, keraguan dan ketakutan lebih mendominasi pikiran sehingga sukses menggagalkan diri sendiri dari segala rencana. Iya, saya butuh dopping motivasi untuk menguatkan. Untuk meyakinkan diri sendiri bahwa kekuatan pikiran itu luar biasa ampuhnya.

Enam tahun yang lalu, saya dan suami adalah seorang karyawan, buruh biasa di suatu perusahaan. Sepertiga dari waktu hidup kami, habis untuk bekerja. Suami bekerja di pabrik, sedangkan saya bekerja di suatu perusahaan jasa. Jadwal libur suami sesuai dengan kalender Masehi, sedangkan jadwal libur saya adalah hari biasa selain hari Minggu. Yap, hari Minggu adalah hari paling ramai di perusahaan saya bekerja, jadi jika bisa libur di hari Minggu adalah kemewahan bagi saya. 

Alhasil, saya sering kucing-kucingan dengan suami. Bertemu hanya saat di malam hari seusai bekerja. Saat saya off kerja, suami masuk. Saat ia libur di hari Minggu, saya bekerja. Tak pernah bisa menikmati hari libur bersama kecuali salah satu ada yang cuti. Dan itu, terus terang membuat saya lelah. Dan ini semakin kami rasakan saat kami mempunyai anak. Kapan bisa barengan pergi libur ? Pergi malam hari anaknya sudah keburu tidur. Huft..

Walau awalnya hal ini tak terlalu kami permasalahkan, pada akhirnya kami berdua merindukan saat-saat bersama. Merindukan libur bersama tanpa takut dipecat, tanpa takut dimarahi bos, tanpa takut gaji tak cukup untuk hidup sehari-hari, dan tanpa takut lain-lainnya.

Lalu, muncullah ide gila itu. Kami berdua sepakat untuk resign bareng, dan buka usaha bersama. Apa ? Senekad itu ? Disaat suami mulai dipromosikan dan mendapat posisi cukup strategis di perusahaannya, dan disaat saya mulai dinaikkan gajinya ? Yup..kami sudah bertekad !

Apa yang kami punya untuk berani buka usaha sendiri ? Memangnya kami punya modal berapa ? Memangnya kami sudah tahu seluk beluk bisnis ? Memangnya kami sudah tahu apa yang akan kami kerjakan ? Jawabannya adalah : product knowledge kami tentang bisnis nol besar, modal materi kami cuma uang di tabungan sebesar 20 juta rupiah, tapi kami punya kemauan dan tekad untuk berjuang demi suatu perubahan yang lebih baik.

Here we go, kami memilih daerah pinggiran sebagai tempat usaha kami. Bukan di kota besar. Anti mainstream kan..? Memangnya dengan uang 20 juta rupiah bisa buka usaha apa ? Banyak yang meragukan itu, termasuk kami pada awalnya. Antara yakin dan tak yakin,  bisa nggak ya..? Tapi kami percaya, Tuhan selalu beserta kami. Senantiasa memberkati langkah-langkah kami. 

Dalam mimpi pun, kami tak berani terlalu muluk. Namun apa yang kami lakukan, melampaui segala mimpi-mimpi kami. Usaha kami dilancarkan, waktu untuk keluarga bisa lebih fleksibel. Saya bebas melihat tumbuh kembang anak-anak saya setiap saat setiap waktu. Kebetulan, tempat usaha dan rumah tinggal kami satu atap. Lantai atas sebagai toko ban mobil dan onderdil, lantai bawah sebagai tempat tinggal. Jadi, saya bisa memantau pekerjaan dan anak-anak sekaligus. Di sela-sela kesibukan sebagai entrepeneur dan mom of two, saya juga bisa menyalurkan passion saya sebagai blogger. Bukankah hidup ini begitu indah. Saya menikmati setiap waktu yang bisa saya habiskan bersama keluarga.

O ya, di awal buka usaha perjalanan usaha memang tidak mudah adanya. Peran saya dan suami sangat random. Kami belum mampu membayar karyawan, semua kami kerjakan sendiri. Saya menjadi admin, kasir, marketing, debt collector, customer service dan peran lain yang tak terduga. Semuanya harus bisa saya handle. Mau tak mau, saya harus belajar untuk bisa. Pun, suami harus lihai menjadi teknisi, mencari suplier terbaik, marketing, customer service sekaligus pimpinan dari usaha kami. Semuanya cukup mendebarkan namun mengasyikkan. Kami memulai semuanya benar-benar dari nol. Suka dan duka benar-benar kami rasakan bersama.

Pencapaian-pencapaian mulai kami rasakan selangkah demi langkah. Semakin bersemangat ketika Bank mulai mempercayai dengan memberikan pinjaman modal. Kami mulai bisa membayar karyawan yang membantu pekerjaan kami. Pasar mulai bisa kami raih walaupun himpitan kompetitor mulai terasa. Semuanya kami nikmati prosesnya. Segala hambatan dan rintangan selalu kami atasi bersama. Menjaga konsistensi dan kepercayaan pelanggan adalah motto usaha kami yang harus selalu kami camkan. Tak bisa main-main dengan kepercayaan. Hancurlah suatu bisnis jika kepercayaan sudah tidak ada.

Kami harus mau meninggakan zona nyaman kami yang terima gaji setiap bulan saat jadi karyawan. Kami harus mau bersahabat dengan ketidakpastian karena hari ini belum tentu seramai hari kemarin atau sebaliknya. Kami harus mampu berpikir keluar dari kotak jika ingin maju dan dianggap beda dari kompetitor. Kami harus proaktif mencari inovasi-inovasi yang bisa memikat pelanggan kami. Semuanya adalah proses yang harus kami lewati dan nikmati.
Percayalah, selalu ada jalan jika kita mau berusaha. Selalu ada jalan jika kita tahu tujuan kita mau kemana. Selalu ada kemudahan yang menyertai langkah-langkah kita bahkan dari hal yang tidak kita sangka-sangka. Semuanya selalu penuh kejutan. Dan tentunya, membuat hidup selalu penuh warna. Seperti bianglala.

Bertepatan dengan buka usaha di tahun 2009 itulah, saya dan suami mulai belajar membuat blog. Masih blog gratisan sampai sekarang. Suami membuat blog tentang usaha kami. Saya mulai membuat blog pribadi. Jujur, tujuan utama membuat blog awalnya ingin mendapat penghasilan dari Google adsense. Maka saya semangat beternak blog ketika Google approved permohonan adsense saya. Ada empat blog yang saya kelola, semuanya saya pasang Google adsense. Harapannya, bisa dapat dolar sebanyak mungkin...hahaha.. Apakah dari keempat blog itu update selalu..? Hm..kadang-kadang..( kalau sempat )..hehehe..

Maunya sih, semua peran saya sebagai istri, ibu, entrepeneur, blogger semuanya bisa selaras dan seimbang. Tapi kenyataannya ? Tetaplah saya dengan keterbatasan saya. Kemampuan saya ada batasannya. Semangat menyala, tapi tenaga ngos-ngosan. Ya, saya tidak punya ART. Di sela-sela membantu suami di toko, saya juga mengurus dua anak. Satu kelas  2 SD, satu lagi masih 22 bulan dan masih ASI. Jadi ya, antar jemput anak sekolah sambil tetap terima telepon dari karyawan di toko, menyusui anak di toko sudah biasa bagi saya. Yang penting semuanya bisa ke-handle. Walaupun kadang saya lelah namun tetap bahagia .. :)

Tak sengaja, saya mengenal komunitas KEB dari sosial media teman. Lalu terpikatlah saya untuk ikut bergabung. Dan..wow..senangnya saya ketika di approved oleh mak Sari Melati kala itu. Saya merasa diterima dan mendapat rumah nyaman di Komunitas Emak Blogger ini. Di KEB, ada banyak cerita yang mengingatkan bahwa saya tak sendiri. Ada banyak Ibu-ibu, dengan segala kerempongannya mengurus rumah tangga, anak, suami dan bekerja..ternyata punya power untuk memaksimalkan segala potensi dalam diri.


Pemenang lomba blog hampir semuanya member KEB :)

Saya selalu kagum dengan sederet prestasi yang telah diukir dari emak-emak KEB ini. Menang lomba blog, blognya laris manis dilirik brand, diperhitungkan dalam acara-acara blogger, jadi buzzer, penulis buku, ghost writer, writer content dan sederet atribut prestise disandang oleh emak-emak hebat ini.

Jujur saya akui, KEB berperan besar dalam passion menulis saya. Dengan blogwalking, saya terpacu untuk giat menulis lagi. Saya termotivasi juga untuk berani ikut lomba blog. Dari beberapa lomba blog yang saya ikuti, lumayanlah ada yang nyangkut dapat hadiah hiburan. Melalui teman blogger dari KEB juga, saya dan anak saya bisa masuk majalah Ayahbunda tentang testimoni ASI. Banyak hal yang bisa saya dapatkan dari menjadi bagian komunitas KEB ini. Berupa materi ataupun ilmu, semuanya memperkaya jiwa saya. Terasa sekali aura di KEB yang saling mendukung antar member yang beragam itu, adem ayem dan jauh dari bullying. Dan saya merasa, di KEB ini tidak ada diskriminasi sekalipun latar belakang membernya berbeda-beda. Perbedaan yang ada justru menjadi kekayaan dari KEB. Sungguh, tiada kenyamanan terindah yang saya dapatkan dari berbagai komunitas blogger selain KEB ini.


Saat dimuat di Majalah Ayahbunda :)

KEB menunjukkan kepada dunia bahwa emak-emak tidak hanya bisa berkutat dengan bawang, daster dan gendong anak saja. Emak jaman sekarang pun melek teknologi sehingga tak kalah dengan anak gaul yang ngehits. Dan yang pasti, bisa menghasilkan sesuatu dari rumah tanpa melupakan tugas dan tanggungjawab kodratnya. Hebat kan..? Juelasss..

Semakin bangga saya, ketika suatu hari, ada customer di toko bilang sama saya,”Mbak..masih suka blogging ya..?”

Lho..kok Mas tahu..,”kata Saya.

Iya, saya tahu toko ini juga dari tulisan mbak di blog. Saya suka baca-baca tulisan mbak..”

Oh..”

Saya terpana. Ternyata kegiatan blogging saya ada manfaatnya. Apa yang saya tulis, mungkin tidak begitu penting bagi saya, ternyata bisa menghibur bagi orang lain. Saya semakin percaya, apapun karya kita jika dilakukan dengan hati, pasti ada manfaatnya. Mungkin tidak sekarang, tapi suatu saat pasti. Mungkin bukan bagi kita, tapi untuk orang lain. Pasti. 

Selamat ulang tahun keempat KEB. Teruslah berkarya, teruslah memotivasi jiwa-jiwa yang ragu seperti saya untuk terus berkarya dengan hati. Terus meninggalkan jejak indah hingga melegenda bagi anak cucu kita. Terus berprestasi dan mengukir sejarah. Tetap rendah hati dan selalu update. Hidup KEB ! KEB memang ter-muah di hati..I love You polll..



Wednesday, October 19, 2011

101011


Kadang, angka tertentu diyakini mendatangkan keberuntungan. Entah sebagai sugesti atau apa, banyak orang berburu nomor cantik yang diyakini mendatangkan rejeki. Bahkan beramai-ramai orang memasang nomor supaya menang..eh..itu mah togel ya, masih adakah..atau ada yang setia pasang sampai sekarang ? Hehe..


Lain halnya dengan saya, tanggal 10 Oktober 2011, yang disingkat jadi angka 101011 merupakan hari istimewa, karena ada dua peristiwa yang menyertainya. Yang pertama, di tanggal ini genap anak kami, Andro berulang tahun ke-4. Secara kebetulan pula, hari ini adalah perayaan dua tahun Wiyono Putro Autoshop berdiri. Keduanya masih umur balita, sedang lucu-lucunya. Dua tahun adalah usia dimana anak sedang senang-senangnya berjalan, berlari, berbicara dan menyanyi. Sedangkan empat tahun adalah usia dimana anak sedang senang-senangnya bersekolah mempersiapkan pra TK-nya. Mulai senang menggambar, belajar huruf dan angka bahkan berusaha untuk bisa membaca dan menulis.


Keduanya adalah anugerah yang tak ternilai. Anak dan usaha. Harapannya, keduanya bisa sama-sama berkembang seiring sejalan saling melengkapi. Tidak mudah menciptakan sinergi yang seimbang untuk keduanya. Anak penting, usaha juga penting.


Percaya atau tidak, motivasi awal kami membuka usaha adalah karena anak. Anak adalah anugerah dari Tuhan yang sudah selayaknya dilimpahi kasih sayang yang berlimpah dari orang tuanya. Hal yang berkaitan dengan ini adalah waktu. Saat menjadi karyawan, saya dan suami sering kehabisan waktu bersama. Keduanya larut dalam pekerjaan di kantor yang menghabiskan seharian waktu kami. Akibatnya, kami terbatas untuk bertemu dan bersama dengan anak kami yang waktu itu masih bayi. Bahkan saat ibu saya yang biasa mengasuh anak kami harus pergi ke Kalimantan karena ada urusan keluarga, terpaksa anak kami titipkan eyangnya dari pihak suami yang tinggal di Yogya selama beberapa bulan sementara kami bekerja di Cirebon. Sedih rasanya harus berpisah dengan buah hati. Dua minggu sekali saya dan suami pulang ke Yogya untuk menengok anak.


Di sisi lain, menjadi dilema bagi kami untuk mencari nafkah yang sebanyak-banyaknya demi penghidupan dan pendidikan yang layak bagi buah hati. Tentunya dibutuhkan materi yang tidak sedikit. Karena itu, kami bersama-sama merancang masa depan kami dengan buka usaha bersama. Dengan berani membuka usaha, kami bisa menghasilkan pendapatan yang tidak terbatas. Tidak seperti saat menjadi karyawan yang gajinya naik tidak lebih dari 20% setiap tahunnya.


Jadi, saat ini kami merasakan banyak manfaat dengan buka usaha sendiri. Saya dan suami bisa ketemu anak setiap hari, setiap saat di toko dan di rumah. Waktunya juga lebih fleksibel untuk bertemu dengan anak. Bahkan kadang anak juga diajak ke toko. Waktu untuk kebersamaan melimpah, dan dengan restu Tuhan, semoga panghasilan yang tak terbatas bisa kami dapatkan. Tujuan akhirnya adalah keluarga harmonis, usaha lancar jaya, bermanfaat bagi semua orang. Selaras, serasi dan seimbang.


Masih teringat jelas dalam ingatan saya saat 2 tahun yang lalu, 10 Oktober 2009, awal berdirinya Wiyono Putro Autoshop yang sengaja tanggalnya dipilih sama dengan tanggal ulang tahun ke-2 anak kami. Tanggal ini dipilih sekaligus sebagai pengingat dan penyemangat bahwa ada 2 kelahiran yang sangat penting bagi kami yaitu anak dan usaha.


Sekedar diketahui, pembicaraan tentang buka usaha ini berlangsung sangat cepat. Saat lebaran di bulan September 2009, kami bertemu dengan Om Nur , Om dari suami saya yang mengajak kami untuk buka usaha di gunung Kidul, yang selanjutnya menjadi penyuport pinjaman modal awal dan motivasi. Beliau mengatakan kalau toko ban dan onderdil mobil di Gunung Kidul belum sebanyak seperti yang sudah ada di kota Yogya. Dikatakan pula, peluang buka usaha disana masih banyak.


Masalahnya, usaha harus segera dibuka karena Om Nur, memberikan deadline bahwa kalau tidak buka di bulan Oktober sesudah lebaran di tahun ini yang dianggap sebagai bulan baik untuk memulai usaha, maka usaha diundur setahun lagi. Mau tak mau kami harus bergerak cepat. Kami tertarik dengan tawaran itu, dan dalam jangka waktu satu bulan, tepatnya di bulan Oktober awal, kami resign dari pekerjaan masing-masing.


Kebetulan, tempat saya bekerja lebih memudahkan proses pengunduran diri saya karena kebetulan, karyawan pengganti posisi saya bisa cepat dicari sehingga saya bisa resign tepat sebelum anak saya berulang tahun. Sedangkan suami saya masih harus menunggu satu bulan lagi, yaitu di bulan November karena masih mengurus soal serah terima tugas dengan orang yang akan menjadi penggantinya nanti dan masih harus mengurus prosedur lain-lainnya di perusahaan yang cukup besar di Cirebon itu. Jadi, saya duluan pulang ke Yogya menyusul anak saya, sedangkan suami masih di Cirebon.


Tanggal 10 Oktober 2009, ulang tahun anak saya dirayakan di Gunung Kidul di kediaman Om kami. Suami bisa pulang dan berkumpul bersama keluarga terdekat sekaligus sebagai penanda bahwa usaha mulai dibuka. Sehari sesudah ulang tahun anak saya, suami kembali bekerja di Cirebon, anak saya ikut eyangnya di Yogya, satu jam dari Gunung Kidul. Jadi, saya terdampar sendirian di Gunung Kidul, membuka usaha sendiri. Bayangkan bagaimana rasanya jauh dari suami dan anak tercinta, dan untuk sementara saya tinggal di rumah keluarga Om Nur yang belum lama saya kenal dengan baik. Tentu rasa asing melingkupi perasaan saya. Untunglah, keluarga Om Nur adalah keluarga yang baik dan sangat mensupport sepenuh hati. O,ya Om kami ini punya usaha toko besi yang sudah besar di Gunung Kidul ini. Selama 13 tahun buka usaha, sudah punya karyawan lebih dari 20, mempunyai armada truk 10 buah, dan aset pribadi lainnya yang cukup banyak. Sudah menuai hasil pokoknya.


Awalnya, tempat yang digunakan sebagai toko ban dan onderdil ini adalah gudang tempat Om Nur menyimpan keramik dagangannya. Sambil menunggu kedatangan suami saya di bulan November nanti, saya hanya berjualan ban mobil saja tanpa onderdil. Pertimbangannya, saya masih sendirian sedangkan onderdil itu itemnya banyak sekali dan saya sama sekali belum tahu pengetahuan dasar tentang onderdil mobil. Ban saja saya belum paham. Jadi, silakan dibayangkan bagaimana bengongnya saya yang latar belakang pendidikannya adalah Sarjana Sains dari Biologi UGM, harus menjual produk berupa ban mobil yang saya belum paham betul jenisnya. Jadi, saya mempelajari sendiri sambil dibimbing oleh Om. Sedikit demi sedikit saya mulai bisa membedakan ban radial yang mana, ban standart , ukuran ban, merk ban yang ternyata jenisnya itu banyak sekali. Ampun deh..


Lama-lama, saya mulai enjoy jualan ban mobil. Apalagi saat ada yang beli. Wah..senangya tak terkira. Pernah, ada dua orang dengan perawakan tinggi besar, pakai baju u can see, trus lengannya bertato datang ke toko saya. Saya sendirian di toko dan biasanya memang sendiri, terdampar diantara tumpukan ban-ban. Awalnya agak takut juga saya, takutnya orang ini berniat jahat eh nggak tahunya beli ban truk dua. Hahay..kekhawatiran berubah menjadi keceriaan. Uang dua juta lebih saya terima. Larisss..hehe..


Lalu, bulan November suami sudah resmi keluar dari pekerjaan, bergabung bersama saya di toko. Saya lega sudah ada teman. Onderdil mobil mulai diorderkan. Ada 1000 item lebih, hah..? Gimana caranya belajar nih. Untung suami saya lulusan teknik mesin UGM, paham tentang onderdil mobil jadi saya bisa belajar pelan-pelan. Kemudian saya dan suami mulai menempati rumah sendiri, tidak tinggal di rumah Om dan bulek lagi. Masih ngontrak sih, tapi bagus untuk tempat tinggal. Kan masih berjuang.


Bulan Desember, kami dapat orang yang akan mengasuh anak kami dan mengurus kebutuhan rumah tangga saat kami di toko. Jadi, anak kami bawa, tidak dititipkan di eyangnya lagi. Resmi di bulan Desember kami tinggal sebagai keluarga yang utuh tidak tercerai berai lagi. Senangnya..


Bulan Maret 2010, kami mulai membeli alat tyre changer ( untuk memasang ban ) dan alat untuk balancing ban. Sedikit demi sedikit mulai ada perkembangan pelanggan. Paling tidak, setiap hari ada pembeli. Entah membeli onderdil atau beli ban atau sekedar balancing. Walaupun rame atau sepinya tidak mesti, tapi paling tidak ada pemasukan yang bisa membuat dapur ngebul. Pokoknya harus bisa mengatur keuangan saja. Berapa persen untuk kulakan, untuk kebutuhan sehari-hari, untuk biaya operasional, semuanya sudah ada posnya sendiri-sendiri.


Bulan Juni 2010, kami dipercaya oleh suplier ban truk dari India untuk menjadi agen satu-satunya di Gunung Kidul. Kami tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Terbukti, ban ini sangat awet dan berkualitas baik bila dibandingkan dengan ban truk lainnya. Sedikit demi sedikit kami bisa menjual produk ini.


Hingga perjalanan usaha kami menginjak usia dua tahun ini, banyak suka duka yang kami kecap. Ada kalanya kami merasakan enak saat jadi karyawan ( biasanya kalau toko lagi sepi ) karena gaji tiap bulan sudah pasti. Saat sekarang, pendapatan tidak pasti, tapi banyak sekali tantangan yang harus kami taklukkan. Saat toko ramai, gaji satu bulan bisa kami dapatkan dalam waktu beberapa jam. Rasanya senang sekali saat itu. Campur-campurlah rasanya. Trus, di usia 2 tahun ini kami juga sudah punya satu karyawan. Harapannya, dari satu ini bisa berkembang lebih banyak lagi seiring dengan perkembangan usaha.


Nah, semoga usia usaha kami yang masih hijau ini bisa berkembang secara signifikan dari waktu ke waktu, semakin dikenal, semakin banyak pasar yang diraih dan semakin menunjukkan kualitasnya. Dan semoga, anak kami pun semakin bertumbuh secara alami, menjadi anak yang membanggakan dan memuliakan semua orang. Amin.


Hm..ceritanya cukup sekian dulu ya, ada yang ban mobilnya bocor tuh, mau nambal ban tubeless dulu hehe..( karyawannya maksudnya, saya bagian kasir aja..). Dagh..lain kali disambung lagi ceritanya..semoga bermanfaat.

Monday, August 23, 2010

Andro Mau Bisnis...


Andro terlelap dalam pangkuanku. Melihat wajahnya saat tidur begitu, ibaku tumbuh. Dia bagaikan malaikat kecil yang memberi kedamaian. Beda sekali saat dia terjaga, tingkah polahnya sangat aktif. Membuatku berkali-kali harus mengejarnya, berteriak, dan akhirnya kelelahan saat menjaganya. Baru kusadari ternyata tidak gampang menjadi seorang ibu. Butuh pengorbanan dan waktu. Ada kalanya terselip rasa bangga saat banyak orang melihat Andro berkata," Duh, cakepnya, anak siapa ini ?"

“Mama..mau pergi kerja ya..?”

Ucap Andro setiap kali melihatku sudah rapi hendak berangkat kerja.

“Iya..mama mau bisnis..”, ucapku tanpa dipikir.

“Bisnis..? Mama..Andro mau ikut bisnis. Andro ikut mama bisnis..”

Andro merengek berulang-ulang. Aku tertawa. Tak menyangka Andro meniru ucapanku.

“Sayang, mama mau kerja, bisnis, cari uang buat beli susunya Andro..”

Tampak Andro berpikir sejenak.

“Beli telur juga kan, Ma ? Beli mainan, beli baju, beli vitamin, beli rumah, beli mobil..”

Ah..pemahaman luar biasa, nak. Tak kukira sedemikian cepatnya pola pikirmu. Berapa waktu yang telah terlewat tanpa sempat kulihat perkembangannya. Memang, jarak toko dan rumah tidak seberapa. Tapi meninggalkan Andro beberapa jam saat bekerja membuatku kehilangan beberapa momen baru yang kadang tidak sempat aku ketahui. Aku sebagai ibunya tidak menjadi yang pertama atas perkembangannya. Selalu aku ketahui dari mbak Ikem, yang mengasuh Andro dari pagi hingga sore.

“Tadi dik Andro main sandiwara sendiri Bu, bicara sendiri kalau mama lagi kerja, cari uang..trus liat gambar-gambar..”

“Tapi nggak rewel kan ?”

“Nggak Bu, tadi asyik nyanyi dan mewarnai sendiri..”

Syukurlah, Andro bukan tipe anak yang suka rewel. Walau kadang ada sifat manja, tapi saat diberi pengertian, dia akan mengerti. Sesekali aku ajak Andro ke toko supaya melihat kegiatan ayah ibunya berjualan mencari uang. Saat akan tutup toko pun, Andro paling semangat membantu ayahnya menggelindingkan ban-ban ke dalam. Andro hanya tertawa saat tangan-tangannya menghitam kena kotoran yang menempel di ban.

“Nanti cuci tangan..”, katanya sambil menatapku dan ayahnya.

Ah..Andro, masih panjang perjalanan hidupmu. Masih panjang pula perjuangan ayah dan ibumu dalam merintis usaha bersama ini.

Mungkin beda saat di zona nyaman menjadi karyawan dulu, yang bisa kita prediksi penghasilan setiap bulannya. Tapi sekarang, saat toko ramai ataupun sepi, berkawan dengan ketidak pastian, kita harus siap menghadapi semuanya. Semua demi meraih impian kita bersama, Nak..kita berjuang bareng-bareng dari nol..Okey..?