Pages

Showing posts with label parenting. Show all posts
Showing posts with label parenting. Show all posts

Monday, October 26, 2015

Saat Anak Demam




Sebagai seorang ibu, pasti kita panik jika anak yang masih kecil apalagi bayi badannya panas atau demam. Sebenarnya, badan panas bukanlah suatu penyakit, namun hal ini merupakan reaksi tubuh saat terjadi suatu infeksi. Infeksi ini bisa ditimbulkan oleh virus, flu misalnya.

Saya pribadi, saat anak mengalami badan panas tidak serta merta saya kasih obat panas atau langsung periksa ke dokter. Yang saya lakukan pertama kali adalah memantau suhu tubuh dengan termometer sambil mengingat-ingat apa yang telah dilakukan oleh si kecil. Jika suhu tubuh masih dibawah 38 derajat Celcius, obat panas belum saya berikan. Namun jika suhu diatas 38 derajat Celcius, baru saya kasih obat panas berupa Paracetamol sesuai dosis yang dianjurkan untuk usia anak. O,ya saya selalu siap sedia obat panas untuk si kecil di lemari obat.

Langkah selanjutnya adalah saya selalu memantau perubahan suhu yang terjadi. Jika panas tubuh tidak mengalami penurunan sampai tiga hari meskipun sudah dikasih obat, ini yang perlu diwaspadai. Segera bawa si kecil periksa ke dokter. Biasanya dokter akan menyarankan untuk cek darah jika panasnya sudah lebih dari tiga hari. Jangan dibayangkan paniknya jika kondisi anak seperti itu. Kasihan bingit..

Pengalaman saya beberapa hari yang lalu, si bungsu yang berusia 19 bulan tiba-tiba badannya agak panas dan sedikit rewel. Saya cek suhunya, masih dibawah 38 derajat Celcius. Saya belum memberi obat. Saya balur tubuhnya dengan minyak telon, sambil memijat badannya. Asupan makanan saya perhatikan yang bergizi tinggi dan tetap memberi ASI secukupnya. Asumsi saya, si kecil kecapekan bermain di luar rumah yang anginnya cukup besar. Bisa jadi dia masuk angin. Dan puji Tuhan, keesokan harinya suhu badannya sudah turun dan normal kembali. Senangnyaaa..

Saya selalu membiasakan anak untuk tidak tergantung pada obat-obatan. Periksa ke dokter pun jarang saya lakukan jika sakitnya belum taraf mengkhawatirkan. Jika pertolongan pertama bisa dilakukan di rumah, itu yang saya maksimalkan. Pun saat ada obat tradisional aman yang bisa diberikan, akan saya berikan. Iya, saya biasa mengerok punggung anak saya dengan bawang merah saat ia sakit panas. Kemudian membalurkan parutan bawang merah dicampur minyak telon ke dahi anak yang panas. Biasanya manjur. Turun suhunya bisa cepat. Atau bisa juga dikompres pakai air hangat.

Saya tidak akan terlalu khawatir jika anak saya badannya panas tapi aktivitasnya masih seperti biasa, nafsu makannya masih bagus dan ketika dia masih ceria tertawa-tawa. Biasanya panas yang seperti ini akan segera berlalu. Bisa jadi dia kecapekan, atau tubuhnya sedang diserang virus tapi kekebalan tubuhnya bisa melawan.

Jadi, sakit panas pada anak semacam alarm bahwa tubuhnya sedang tidak sehat. Sesegara mungkin bisa kita tangani dengan memperhatikan hal-hal di atas. Jangan sampai kita kecolongan, suhu badan anak sudah tinggi, tidak diberi obat, langsung dibawa ke rumah sakit , ternyata sampai di rumah sakit anaknya sampai mengalami kejang-kejang. Pernah ada kejadian seperti itu. Dokter menyarankan bahwa anak perlu diberi obat panas sebagai pertolongan pertama jika suhunya diatas 38 derajat Celsius. Jika panasnya tidak mengalami penurunan baru dibawa ke rumah sakit. Jangan sampai anak kejang. Jika kejang, resiko yang ditimbulkan lebih berbahaya. Bisa menyerang syaraf dan mengakibatkan kelumpuhan. Duh..jangan sampai ya, mom..

Ok, mom..sekian ceritanya. Semoga anak-anak selalu sehat dan ceria yaaa...

Tuesday, July 21, 2015

Tips Supaya Anak Belajar Efektif


Hai..hai..mommy-mommy..anak-anak dah pada libur kan..? Gimana..bisa agak santai ya.. Yang biasanya heboh bangun pagi langsung ke dapur nyiapin sarapan sekarang bisa agak santai dikit lah bangunnya, kecuali yang lagi pada puasa..tetep hehe..Maaf ya, ini tulisan sudah kelamaan ngendon di draft, jadi topik bahasannya seputar libur anak sekolah, sempet postingnya baru sekarang pas anak sudah mau masuk sekolah lagi n abis lebaran. Ah, iya..selamat lebaran ya mom, mohon maaf lahir dan batin..

Oke, lanjut yah..nilai anak-anak gimana, mom..? Bagus kan..pada naik kelas..and ada yang lulus juga kan ya..Syukurlah..Semenjak kurtilas tidak diberlakukan, sistem peringkat alias ranking ada lagi ya..Dan saya cukup surprise ketika kemarin anak mbarep saya dapat juara III di kelasnya. Aih..senangnya..padahal si sulung ini termasuk jarang belajar kecuali kalau ada PR, ada ulangan dan menjelang ujian. Selebihnya..banyakan nonton film kartun, main PS, main sepedaan sama temennya dan kegiatan lainnya yang jauh-jauh dari buku pelajaran.

Ya namanya anak kelas 1 SD, tentunya masih seneng mainnya daripada belajarnya. Tapi satu hal pasti yang selalu saya tekankan kepadanya  tentang tips supaya bisa menyerap pelajaran ada mom..Karena dengan resep itu, bersyukur saya dulu langganan ranking 1-3 dari SD sampai kelas satu SMA hehe..Dan bonusnya, bisa dapat beasiswa dari SD sampai kuliah, sering mewakili sekolah untuk ikut lomba mata pelajaran ( matematika, bahasa Indonesia, cerdas cermat P4, dll). Jadi, resepnya apa..mau tahu ? Baiklah..akan saya share ya..

Sebelumnya, kilas balik dulu tentang pengalaman belajar saat saya sekolah dulu. Saat kelas 1 SD, prestasi belajar saya biasa saja. Bahkan kelas 1 SD awal-awal saya belum bisa baca, baru mengenal huruf doang. Secara, waktu di TK saya tidak diajarin cara membaca. Atau saya yang lupa ya..pokoke, yang saya inget, saya belum bisa membaca dan bingung saat ada pelajaran mendikte.Lambat laun, saya mulai bisa adaptasi dan nilai pelajaran mulai membaik. Mulai kelas tiga SD, saya mendapat peringkat rangking satu trus berlanjut hingga kelas-kelas selanjutnya. Ranking satu terus ? Nggak juga sih, ada juga kalanya nilai menurun jadi ranking 2 terus ranking 3 juga pernah. Trus tahu-tahu melejit ke ranking satu lagi. Ya sekitar 3 besar itu aja. Masuk SMP, peringkat masih 3 besar di kelas, malah sempat meraih juara umum ketiga satu sekolah. Bangga..? Ya pastilah..tapi ada yang lebih penting dari sekedar peringkat itu. Ilmunya bagaimana, apakah benar-benar nyangkut di otak saya atau hanya sekedar angka-angka bagus dan peringkat saja yang saya kejar. Trus dengan pencapaian itu apakah saya belajar terus sampai gak ada waktu untuk main dan santai-santai.

Nehi..nehi..waktu bermain dengan teman tetap harus ada. Saya nggak mau nilai bagus tapi sosialisasi kurang. Itu juga yang selalu saya tekankan untuk anak saya. Nilai dan prestasi boleh bagus, namun potensi diri yang lain juga harus dikembangkan.

Ini dia tips supaya anak belajar efektif versi saya based on true story..hihihih..

1. Konsentrasi dan Fokus 

Ini berlaku saat anak berada di kelas sementara guru menerangkan pelajaran. Saya selalu  mengingatkan supaya anak saya jangan berpikir soal lain kecuali apa yang diajarkan oleh guru saat itu. Jadi harus konsentrasi dan fokus, kalo udah ngerti diingat-ingat dan kalo belum paham segera bertanya. Sehingga, pelajaran diusahakan nyantol di otak saat itu juga. Kan, jadi lebih mudah untuk mengingatnya lagi kapan-kapan
2. Mengulang kembali pelajaran setelah sampai di rumah 

Nah setelah di sekolah tadi udah ngerti soal pelajaran yang diterima, sampai rumah diulang lagi karena masih fresh jadi lebih gampang ingetnya. Ini juga cara untuk nyicil pelajaran dari sedikit-sedikit lama-lama jadi bukit. Gak usah lama-lama juga, paling sekitar 15 menit aja. Yang penting sudah terekam di otak. Tujuannya sih, supaya anak tidak terjebak pada sks (sistem kebut semalam) menjelang ujian

3. Say big no for cheat

Yap..saya menegaskan kepada anak saya jangan sampai menyontek. Selalu saya tekankan, berapapun nilai yang berhasil ia raih akan selalu saya hargai jika mengandalkan kemampuannya. Tak ada toleransi jika anak saya mendapat nilai bagus namun hasil dari mencontek. Itu curang. Dosa, dan tentunya tidak baik untuk perkembangan mental anak. Proses lebih penting dari sekedar hasil. Saya usahakan untuk selalu menumbuhkan kepercayaan diri pada anak sehingga dengan kemampuan dirinya dia akan lebih comfort dengan apa yang ia capai. Jika suatu waktu mendapat nilai jelek, ya dievaluasi dicari penyebabnya apa. Jika memang kurang belajar ya dibenahi. Tapi jangan sampai anak mencari jalan pintas demi mendapat nilai bagus hanya karena takut dimarahi jika nilainya jelek.

4. Mengatur jadwal saat di rumah

Walaupun kadang agak sulit untuk bisa teratur, namun setidaknya sebagai orang tua harus tegas memberlakukan peraturan di rumah. Ada waktu untuk belajar, santai dan bermain bersama teman. Sejauh ini sih, anak saya masih bisa diatur kapan dia harus makan, bermain, mandi dan belajar.

Ya..ya..ya..ehm..tips apalagi ya..saya rasa sih udah ya.. Yang terpenting sih saya dan suami sebagai orang tua harus bisa menjadi contoh yang baik untuk anak. Selalu support apa yang menjadi keinginan positif anak. Jangan sampai anak merasa terabaikan dan tidak diperhatikan. Kuncinya sih kalau anak tidak kekurangan kasih sayang orang tua, biasanya anak bisa lebih mudah diatur. Komunikasi dua arah sangat penting dan harus menjadi prioritas utama. 

Oke..oke..sekian dulu tipsnya..dadah.. :D

Monday, June 10, 2013

Mama Lucu Tapi Galak, Mirip Beruang !



Kata itu terlontar begitu saja dari mulut anak semata wayang saya. Ungkapan protes saat saya bergalak-galak ria atas kelakuannya yang kadang membuat kesabaran saya di ujung batas. Yah, sebenarnya..capek juga kadang-kadang menjadi galak. Namun, saat ucapan sudah tidak mempan, maka nada tinggi pun tak terasa tumpah begitu saja. Ujung-ujungnya, saat emosi mereda, datanglah penyesalan dan merasa iba telah menggalaki anak.

Di saat lain, menjadi ibu yang lucu juga sering saya lakoni. Senang rasanya melihat anak saya tergelak-gelak lepas saat mendengar lelucon atau tingkah laku mamanya yang kadang urat malunya sudah putus. Selain sebagai hiburan juga, menari bareng dengan anak mengikuti irama lagu menjadi momen yang membuat hubungan ibu dan anak menjadi tak berjarak. Ada rasa bahagia yang tak dapat dibeli dengan materi apapun. Kebersamaan yang membuat hidup begitu berwarna dan indah.

Sekedar info, anak lelaki semata wayang saya, tergolong anak yang sangat aktif bergerak. Dia bisa tiba-tiba berlari untuk sekedar melihat semut yang beriring saat dia sedang duduk bersama. Atau dia bisa mondar mandir berjalan tanpa sebab. Selalu bergerak dan kadangkala tidak fokus pada satu hal saja. Segala sesuatu yang menurutnya menarik, akan dicari sebabnya. Rasa ingin tahunya begitu besar. Hal itu terlontar dari beberapa pertanyaannya yang kadang susah untuk saya jawab segera.

Berikut daftar pertanyaan dan pernyataannya yang memaksa saya untuk bertanya balik kepada mbah Google untuk mendapatkan jawaban yang cukup memuaskan rasa ingin tahunya. Beberapa diantaranya sering membuat saya tergelak dan geleng-geleng kepala :

"Mama, bumi itu bulat ya, kenapa ?"
"Matahari itu kok panas kenapa ?"
"Kok ada malam dan siang ?"
"Dulu waktu Andro di dalam perut mama suka nendang-nendang itu lagi main sepakbola sama usus "

Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang sering terlupa. Beberapa ada yang menggelitik, saya tuangkan di tulisan Celoteh Anak.

Ngomong-ngomong soal beruang, hewan itu memang lucu ya..namun kalau ketenangannya diganggu, bisa berubah buas dan mengerikan. Seperti itukah gambaran saya di mata anak ? Wow..saya takjub anak saya bisa menganalogikan ibunya sedemikian rupa. Hal ini menjadi masukan yang berarti buat saya, dan menjadi sebuah kritik membangun untuk kinerja saya sebagai seorang ibu. Peran sebagai ibu yang baru saya jalani selama 5 tahun lebih 8 bulan ini. Masih panjang perjalanan sebagai seorang ibu, dan ini menjadi pelajaran yang berharga buat saya. Anak saya telah memberi pelajaran yang penuh makna, dimana saya harus lebih menghayati peran sebagai ibu yang lebih berkualitas bukan hanya sekedar  marah-marah tanpa arah. Saya harus lebih bisa menata emosi, punya stok sabar yang berlimpah, menekan ego saya dan bisa menyikapi segala sesuatunya lebih bijak. Mungkin, stok maklum saya pun harus diperbanyak. Namanya juga anak-anak, banyak hal yang kadang bertentangan dengan kemauan orang tua.

Intinya, menjadi orang tua harus bisa menjadi kompas dan peta yang sangat berguna untuk melanjutkan perjalanan hidup anak. Memberi arahan yang baik, tanpa harus membuat anak merasa terabaikan dan tidak berharga. Hanya perlu dibedakan antara galak dan tegas. Kalau galak hanya sekedar galak, anak bisa salah tangkap, namun jika tegas, anak bisa menangkap maksud. Mungkin seperti itu.

Ok, sekian dulu curhatnya. Semoga bermanfaat.


Friday, May 10, 2013

Aksi Kreatif Anak

Moms..kebahagiaan seperti apa yang dirasakan ketika melihat perkembangan dari waktu ke waktu si buah hati ?

Beberapa hari ini saya dan suami tergelak lepas ketika menyaksikan anak semata wayang saya, Andro menyanyi lagu "Ambilkan Bulan Bu" dan berdeklamasi. Lucu sekali. Gayanya berapi-api layaknya seorang orator sejati saat deklamasi. Deklamasinya tentang Indonesia. Pelajaran ini didapatnya dari bangku sekolah TK kecil. Garis besarnya tentang Indonesia negeri tercinta dan tuntunan agar cinta bangsa sejak kanak-kanak. Untuk lengkapnya silakan disimak videonya aja ya.. :)

Ah, saya jadi ingat juga waktu deklamasi saat kecil dulu. Rasanya senang sekali melakukannya. bahkan saat saya SD pernah diadaulat mewakili sekolah ikut lomba puisi antar SD. Sayangnya nggak menang, maklum biasanya saat tampil saya selalu grogi. Jadi ya..sekedar menyemarakkan saja.

Ini videonya Andro, cekidot..yow..


Wednesday, September 26, 2012

Hindari Stress Mental Pada Anak


Tidak seperti biasanya, pagi ini Andro ngadat nggak mau masuk sekolah. Alasannya macam-macam, katanya masuk anginlah, padahal saya yakin Andro baik-baik saja. Mau belajar di rumahlah, yang biasanya mesti disuruh-suruh. Saya heran, tidak biasanya Andro yang semangat setiap mendengar kata sekolah tiba-tiba mlempem begini. Saya bingung, bagaimana cara membujuknya. Mungkin ini akibat dari libur panjang saat lebaran kemarin. Seminggu lebih cukup untuk bersantai-santai bila dibandingkan harus bangun pagi, mandi saat mengantuk dan pergi ke sekolah.

“Ayo, Andro mandi, sudah saatnya masuk sekolah, liburannya sudah selesai..”

Kata saya saat Andro sudah dibangunkan. Membangunkannya pun penuh perjuangan. Lama meleknya, keliatan masih ngantuk sekali.

“Andro masuk angin, ma..capek..”

Saya raba keningnya. Biasa saja, tidak panas yang mengindikasikan kalau dia sakit. Kemarin, Andro liburan ke pantai bersama saudara-saudaranya. Mungkin masih pengin libur, pikir saya.

“Ya sudah, periksa ke dokter ya..”

Kata saya, dengan asumsi Andro segan pergi ke dokter.

“Iya, ma..Andro mau disuntik..”

Saya terkejut. Waduh..salah strategi nih..mikir lagi..Mana jam sudah mepet lagi, bisa telat pikir saya.

“Ya udah, yang penting mandi dulu, ayo..”

Andro mengangguk. Mau saya giring ke kamar mandi. Lalu ritual mandi pun berjalan lancar. Andro menurut saat sikat gigi dan disabun.

“Ke dokternya pakai seragam sekolah ya, biar dokternya tahu kalau Andro sudah TK..”

“Nanti dokternya biar tahu ya..ya..Andro mau..”

Yes..bujukan saya berhasil. Seragam saya pakaikan. Sepatu saya pakaikan. Beres, trus sarapan dan berangkat.

Saat arah motor saya belokkan ke kanan, Andro protes.

“Mama, kalau ke dokter kan belok kiri bukan ke kanan..”

Gawat. Andro sudah tahu arah. Memang arah rumah sakit ke kiri dari rumah.

“Ehm..yang di rumah sakit sini dokternya belum datang sayang, kita ke dokter yang di Wonosari..”

“Ya...”

Jawab Andro tanpa curiga. Maafkan mamamu, nak, berbohong demi kebaikanmu.

Lalu kendaraan saya pacu dan ketika mendekati sekolah Andro, Andro mulai curiga.

“Kok ke sekolah, nggak mau, Andro nggak mau...”

Saya mulai was-was. Segera saya parkir kendaraan di depan sekolah. Turun dari motor Andro langsung berlari menjauh dari sekolah, saya segera mengejarnya. Wajahnya tampak pucat, seperti takut terhadap sesuatu.

“Andro kenapa ? Biasanya paling senang ke sekolah..nanti ketemu teman-teman, sayang..”

Andro menggeleng kemudian hampir menangis. Saya menggandengnya, Andro tetap terdiam di tempat. Lalu tangisnya pecah. Saya kebingungan.

“Ayo, sayang..sudah telat ini, Andro ada upacara bendera kan..?”

Andro tetap menggeleng dan menangis keras.

“Ayo pulang, mama..Andro mau pulang..”

“Sayang, kalau Andro tidak mau masuk sekolah, mama harus minta ijin dulu sama Bu Guru. Ayo bilang sama bu Guru dulu..”

Tangis Andro berhenti.

“Mama aja yang bilang, Andro tunggu disini..”

“Baiklah..Andro jangan kemana-mana ya...”

Saya beranjak menuju sekolah. Andro pernah sekali tidak masuk sekolah karena sakit batuk dan pilek. Itupun karena melihat temannya sakit dan tidak masuk sekolah, makanya dia ikut-ikutan. Padahal biasanya, dalam keadaan apapun Andro tetap ingin masuk sekolah.

Saya bertemu dengan ibu-ibu dari teman-temannya Andro, yang menunggui anaknya. Kepada mereka saya cerita kalau Andro tidak mau masuk sekolah dan sekarang menunggu di parkiran. Mama Tita menyarankan agar saya menemui Bu Pri, guru kelasnya Andro agar mau dibujuk. Lalu saya menemui Bu Pri yang sedang mendampingi upacara dan menceritakan semuanya. Lalu Bu Pri dan saya menemui Andro di parkiran untuk menjemput dan membujuknya masuk.

“Andro belum salam sama Bu Guru...”

Sapa Bu Pri. Andro tampak terkejut, kemudian mengulurkan tangannya malu-malu.

“Ayo, sudah ditunggu temannya lho..belum tahu ceritanya mas Gilang ya..lucu lho..tadi cerita tentang binatang peliharaan di rumahnya..”

Andro menangis lagi. Ajakan saya untuk masuk tetap tidak ditanggapinya. Digandeng malah meronta, saya dan Bu Pri berkolaborasi membawanya masuk ke sekolah. Bahkan Bu Pri berinisiatif menggendong Andro yang meronta-ronta dan sangat berat itu. Andro menangis semakin keras, meronta sejadi-jadinya. Namun Bu Pri dan saya tetap berusaha untuk membawanya masuk ke sekolah. Tidak boleh berlarut-larut.

Sampai depan kelas, Andro berlari saya berhasil mengejarnya.

“Ayo, mama temani masuk kelas, ya...”

Sekuat tenaga saya mengajak Andro masuk ditemani Bu Pri. Akhirnya Andro menurut, mulai tenang. Saya duduk di bangku belakang. Andro menoleh ke arah saya dan mulai tersenyum. Tangisnya berhenti. Memang, selama ini emosi Andro yang meledak-ledak sering berlaku sebentar. Jadi harus pinter-pinternya saya menenangkannya.

Di dalam kelas, berkali-kali Bu Pri mengajak Andro berkomunikasi. Menanyakan cita-citanya mau jadi apa dan dijawab dengan semangat oleh Andro.

“Andro mau jadi Romo...”

“Hebat..Romo itu yang biasa memimpin misa, memimpin retreat dan pinter...Tepuk tangan untuk Andro...”

Teman-temannya bertepuk tangan. Andro mulai tenang, saya juga sedikit lega. Berkali-kali Andro menengok ke arah saya memastikan bahwa saya ada untuknya. Andro mulai biasa lagi, sudah tidak ada beban yang mengganjal. Kemudian saya dekati dan beri minuman. Andro mau minum.

“Sayang, mama tinggal dulu ya..mama mau ke bank dulu. Nanti dijemput..”

Andro mengangguk mantap. Segera saya pamit kepada Bu Pri dan mengucapkan terima kasih.

“Andro hebat ya..mau ditinggal mamanya. Tepuk tangan untuk Andro..”

Sekali lagi tepuk tangan membahana. Saya terharu. Dengan dibesarkan hatinya, Andro bisa menguasai emosinya lagi.

Saya runut-runut, beberapa waktu lalu, saat orang tua ada acara rapat di sekolah, Andro pernah disungkurkan teman-temannya yang usil ke dalam kolam ikan di depan sekolah. Saat itu, Andro masuk ke ruangan saya rapat, dan dengan wajah hampir menangis mengajak saya untuk pulang. Saya terkejut, bajunya basah semua. Mungkin, kejadian itu menjadi sebab kenapa Andro enggan masuk sekolah hari ini. Andro sedikit trauma dengan bullying dari teman-temannya. Saat kejadian itu saya tidak melihat siapa yang melakukannya. Yang jelas Andro tampak sedih dan tertekan setelah itu. Lalu saya jelaskan, bahwa teman-teman Andro itu banyak macam sifatnya. Ada yang baik, ada yang usil...tapi Andro tidak perlu membalas keusilan mereka. Biarkan saja, yang penting sekarang Andro lebih hati-hati dan waspada. Tidak usah takut, jadi lelaki harus tangguh, berani dan kuat. Jangan cengeng. Begitu nasehat saya saat itu. Ya, semoga saja pengalaman ini menjadi pelajaran yang berharga bagi kita semua.

Satu yang pasti, saat anak sedih, kehilangan rasa percaya diri, jangan kita lemahkan. Tetapi kita kuatkan, besarkan hatinya sehingga dia tidak merasa sendiri dan merasakan perhatian serta kasih sayang terutama dari kita orang tuanya. Perlakuan kasar dan main fisik hanya akan membuat anak trauma, stress dan menjadi pemberontak di kemudian hari, tentunya kita tidak ingin hal itu terjadi. Ok, sekian dulu ceritanya. Bye...

Thursday, July 19, 2012

Berapa Usia Anak masuk TK ?


Tanggal 16 Juli 2012 kemarin, anak saya masuk TK kecil di usianya 4 tahun 9 bulan. Di kelasnya, Andro  masuk golongan A2. TK kecil ini dibedakan 2 golongan yaitu A1 dan A2. Golongan A1 untuk usia kurang dari 4 tahun. Sedangkan A2 untuk golongan lebih dari 4 tahun. Pada awalnya, saya bingung mau memasukkan TK kecil setahun yang lalu. Andro yang lahir di bulan Oktober membuat segalanya serba tanggung. Lain kalau lahirnya di bulan Juli atau sebelumnya.

Menurut pengetahuan yang saya baca, perkembangan mental tiap anak berbeda-beda. Selisih beberapa bulan sangat berarti bagi anak kecil, beda dengan orang dewasa. Ketika usia anak kurang dari 4 tahun dimasukkan ke TK, mungkin secara kepandaian bisa mengikuti, namun jiwa dan mentalnya bisa jadi belum siap dalam hal tanggung jawab dan disiplin. Biasanya seperti itu. Namun ada juga sih, anak yang umurnya belum cukup namun mental dan jiwanya sudah siap, tergantung dari perkembangan anak-anak yang berbeda-beda.

Saya menilai, anak saya belum cukup matang mentalnya setahun yang lalu. Anak saya masih cocok ikut PAUD belum TK. Jadi menurut hemat saya, lebih baik mengundur waktu hingga cukup umur masuk TK daripada belum cukup umur namun dipaksakan untuk tetap mengikuti pelajaran. Mengingat di masa sekarang pelajaran anak TK begitu beragam dan cukup sulit bila dibandingkan jaman saya TK dulu.  Harapannya, saat lulus TK nanti, anak saya berumur 7 tahun kurang 3 bulan saat masuk SD. Pas waktu dan mentalnya.

Ketika Andro di PAUD, sama sekali tidak mau ditinggal sama mbak pengasuhnya. Maunya ditungguin sampai selesai, ditinggal sebentar ke kamar kecil saja sudah teriak-teriak. Belum lagi acara jalan-jalan sendiri saat ibu guru menerangkan. Pokoknya belum sepenuhnya mengerti bagaimana seharusnya bersikap saat belajar di sekolah. Namun kemarin, saya cukup berbangga hati ketika di hari pertama masuk, Andro sudah mau saya tinggal di lingkungan barunya yang masih asing. Bahkan Andro sudah bisa berbaur dengan teman-temannya dan para guru. Saya menilai Andro cukup antusias dan pro aktif dengan sekolah barunya.

Lalu, kebiasaan baru Andro yang membuat saya semakin bangga adalah Andro sudah bisa bangun pagi sendiri yang biasanya bangun sekitar jam 7 pagi. Kali ini Andro bangun jam setengah enam, kemudian mandi lalu sarapan dan sudah siap sebelum jam tujuh pagi tanpa acara rewel atau menangis. Bahkan berinisiatif memakai baju, kaos kaki dan sepatunya sendiri. Jiwa mandirinya mulai tampak. Saya terharu, tak terasa anak saya sudah besar.

Lalu, jarak 7 kilometer pun mampu ditempuh demi menuntut ilmu. Pulang pergi berarti 14 km. Memakan waktu 15 menit dalam perjalanan dengan sepeda motor atau kadang dengan mobil. Tergantung cuaca. Di TK nya, ada banyak kegiatan extra kurikuler seperti belajar komputer, bahasa Inggris, menari, berenang, dan marching band. Harapan saya, tenaga Andro yang hiperaktif mampu tersalurkan dengan mengembangkan bakat-bakatnya yang terpendam.

Bagi saya, pengembangan bakat di usia dini sangatlah penting karena dengan cepat bisa dilihat bakat mana yang paling menonjol. Sehingga, kita bisa memprioritaskan bakat mana yang paling fokus untuk dikembangkan berdasarkan minat yang besar pada anak. Ya, semoga saja anak saya mampu mengembangkan bakat-bakatnya sesuai dengan yang diminatinya. 

Saturday, August 13, 2011

Anakku Hiperaktif ?




Dari sejak bayi, saat usianya masih beberapa hari, anak saya termasuk tipe yang tidak bisa diam. Kaki dan tangannya selalu bergerak dan baru bisa diam saat matanya terpejam tidur. Awalnya, saya menganggap hal ini biasa namun lama kelamaan saya mulai merasakan adanya perbedaan sikap anak saya dengan anak-anak lain seusianya.

Dari berbagai sumber yang saya baca, Andro mempunyai ciri-ciri seperti anak yang hiperaktif. Saat usia 3 bulan, saat sudah bisa tengkurap, saya extra keras membolak balik badannya yang tak henti tengkurap untuk sekedar memasangkannya pampers. Saat ditelentangkan, dalam hitungan detik sudah balik tengkurap lagi. Dibalik lagi, sudah rubah posisi lagi. Sampai-sampai saya dan suami harus berkolaborasi untuk memegangnya supaya ritual memasang pampers bisa berjalan sukses dan lancar. Luar biasa..tenaganya besar sekali.

Saat usianya menginjak 7 bulan, sudah bisa merangkak, cepat sekali merangkaknya. Sampai saya sering kehilangan jejaknya berada dimana, ternyata sudah ada di bawah kolong tempat tidur atau pernah saat saya kebingungan mencarinya ternyata dia sudah berada di dapur dekat kompor dan tabung gas. Duh..

Lalu, ada cerita lagi saat dinaikkan baby walker, ternyata gerakannya lincah luar biasa. Gerak sana-sini sampai ngebut segala. Ya ampyun..sampai-sampai saya khawatir kalau baby walkernya terjungkal karena kelakuannya yang tidak bisa berhenti barang beberapa detik. Untung baby walkernya sengaja dipilih yang berbentuk kotak sehingga kemungkinan terjungkalnya kecil bila dibandingkan yang bentuk bundar. Sudah begitu, kami sebagai orang tua wajib melakukan pengawasan extra ketat mengingat kelakuannya yang lain dari biasa itu.

Semakin bertambah usia, sifat ingin tahu dan keaktifannya semakin bertambah. Andro sudah bisa berjalan saat usianya 11 bulan. Saat dia sudah bosan pakai baby walker ( saat usia 10 bulan ), alat itu didorong-dorongnya yang ternyata bisa menstimulus untuk cepat bisa berjalan.

Sejak bisa berjalan, otomatis daerah jelajahnya semakin luas. Perhatiannya juga mudah berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Apapun yang menarik hatinya, pasti akan dengan senang hati diikutinya. Mudah bosan, tidak fokus dan kesannya semau gue begitu. Kalau duduk, mana bisa betah duduk diam selama berjam-jam. Paling lama 5 menit, dia akan bangkit kemudian jalan-jalan tak tentu arah sehingga harus diikuti kemana saja perginya. Capek deeehhh...

Lain lagi ceritanya saat sudah bisa bicara, apa saja menjadi bahan pertanyaan. Kalau yang ditanya tidak bisa menjawab akan terus dikejar sampai memberikan jawaban yang cukup memuaskan. Gayanya ekspresif sekali. Saat dia ingin berlari, langsung berlari tak peduli itu jalan raya. Namun saat diberitahu bahwa harus hati-hati berjalan di jalan, dia akan menurut dan berjalan pelan-pelan di pinggir sekali. Saat ingin memanjat, langsung dia memanjat tanpa berpikir panjang. Meskipun sudah diingatkan untuk berhenti, dia tidak akan berhenti sebelum dia sendiri yang menghentikannya atau saat dialihkan perhatiannya dengan sesuatu yang menarik baru dia berhenti. Sebagai orang tua saya dituntut untuk kreatif dalam hal ini.

Soal hobby, Andro suka menyanyi. Saat usianya 1,5 tahun sudah hafal 30 lebih lagu anak-anak yang ditonton maupun yang didengarkannya dari CD lagu anak-anak. Kemampuan musiknya lebih menonjol bila dibandingkan dengan menggambar atau ketrampilan lainnya.

Saat diberi permainan pasang puzzle, dalam sekali diajari sudah langsung bisa memasang sendiri. Namun untuk mainan yang lain seperti mobil-mobilan kerapkali berubah bentuk atau rusak karena dibanting. Belum terlalu paham sebenarnya.

Tapi seringkali saya perhatikan, jika diberitahu baik-baik Andro akan mendengarkan dan fokus, matanya menatap mata saya. Tapi saat dikerasi, dia akan semakin berontak, protes, teriak-teriak dan menangis meraung-raung. Saat melihat CD lagu-lagu kesukaannya, dia bisa diam duduk dalam jangka waktu yang cukup lama. Dan saat diberitahu, sepertinya dia tetap sibuk dengan kegiatannya, tapi pada saat ditanya dia bisa menjawab dengan baik. Cukup membuat saya tenang, karena ternyata dia masih bisa fokus dan tidak cuek begitu saja seperti kebanyakan anak hiperaktif lainnya.

Dalam interaksi sosial dengan teman sebaya, Andro bisa bekerjasama tapi gampang sekali bosan. Temannya ada yang bawa bola, ikut-ikutan pegang bola, saat ada yang bawa mainan lain, ikut lagi. Tapi sejauh ini masih bisa diarahkan sehingga tidak mengarah ke sifat anarkhis seperti merebut mainan teman. Masih bisa diberi pengertian. Saat moodnya bagus tentunya. Saat bete, wah..jangan ditanya. Makanya saya selalu berusaha menjaga agar moodnya bagus selalu.

Sering saya salurkan kelebihan energinya dengan kegiatan naik sepeda, berenang, berlari kejar-kejaran di lapangan yang luas dan kegiatan olahraga lainnya. Karena saya sadar, selain menyehatkan, anak saya jadi tidak melakukan hal-hal lain yang di luar dugaan bisa membahayakan dirinya dan orang lain.

Saya mencoba menelaah apa penyebab dari sifatnya yang hiperaktif ini. Kemungkinan, dari sumber yang saya baca, bisa disebabkan dari proses melahirkan yang lama. Bisa jadi begitu, karena Andro lahir telat dari HPL dokter kurang lebih seminggu sehingga harus diinduksi supaya keluar dan saya mengalami kesulitan mengejan saat melahirkannya sehingga Andro lahir selamat secara normal setelah hampir satu setengah jam saya berjuang mengejan. Tepat di saat Dokter hampir memberikan keputusan Andro lahir secara di vacum atau caesar. Wah..dapat dibayangkan berapa biaya dan sakit yang sudah dirasakan jika akhirnya harus caesar. Untung akhirnya bisa lahir normal..

Kemungkinan lain, dari makanan. Menurut sumber yang saya baca, makanan saat hamil yang mengandung logam berat bisa mempengaruhi perkembangan otak anak. Bisa jadi begitu, karena saya suka makan ikan laut terutama saat hamil dulu. Kemungkinan ikan yang saya makan ada yang mengandung logam berat sehingga berpengaruh pada otaknya.

Memang harus extra sabar jika diberi titipan oleh Tuhan anak yang luar biasa ini. Luar biasa harus ditangani secara luar biasa juga. Yang penting, jika diarahkan dengan benar, anak hiperaktif bisa menjadi anak yang luar biasa cerdas di kemudian hari. Amin..semoga saya dan suami bisa mendidiknya dengan maksimal, semua yang terbaik untuknya..

Friday, August 12, 2011

Jawaban Jujur

Namanya anak-anak..selalu polos dan jujur. Termasuk Andro, buah hati tercintaku. Ceritanya begini, saat di sekolah bermainnya, Ibu Guru bertanya kegiatan anak-anak didiknya saat liburan sekolah.


Ibu Guru : Anak-anak pergi kemana saat liburan ?


Anak A : Ke Gembira loka, Bu..lihat binatang..


Anak B : Ke Kids Fun, Bu..banyak mainan..


Andro : Andro juga ke Jogja Bu Guru..sama papa mama..kulakan ban..


O..o..benar sekali nak. Hampir tiap bulan kita ke Jogja, mengantar papa mama kulakan untuk dagangan di toko ya. Memang belum sempat ke Gembiraloka lagi sejak kesana saat Andro masih 1,5 tahun dulu, juga belum ke Kids Fun. Nanti lah ya..kita cari waktu yang tepat untuk itu. Sementara ini, Andro naik andong dulu keliling Malioboro ya..

Tuesday, November 2, 2010

Balita Mengenal Kambing Hitam ?

Gambar dipinjam dari sini


Semalam anak saya, Andro mengompol. Untuk yang kesekian kali sejak setahun yang lalu tidak memakai pampers. Jarang-jarang mengompol sebenarnya, tapi beberapa minggu ini cukup sering dibandingkan biasanya. Mungkin akibat cuaca yang dingin ditambah hujan yang turun akhir-akhir ini, atau saya yang kadang lalai mengantarkannya ke kamar mandi saat dia terbangun di malam hari diantara kantuknya. Memang semalam Andro tidak terbangun seperti biasanya, tidur pun cukup nyenyak jadi saya tidak tega membangunkannya untuk sekedar pipis di kamar mandi, toh sebelumnya sudah pipis dulu sebelum tidur.

Tahu-tahu menjelang dini hari Andro terbangun sambil bilang,” Ganti celana..ganti celana..”

Ups..benar saja celana, baju dan kasur sudah bersimbah pipis yang baunya khas itu. Dengan mata yang enggan melek, segera saya bawa ke kamar mandi, ganti celananya setelah saya lap badannya dengan air bersih. Setelah itu..dua-duanya tertidur pulas kembali.

Saat bangun tidur, saya tanya kepada Andro,”Siapa yang ngompol semalam ?”

Andro menjawab dengan keras,”Idot...!”

Saya sudah menduga, akhir-akhir ini Andro selalu memakai nama Idot untuk keperluan tertentu. Setahu saya, tidak ada nama temannya yang bernama Idot.

“Siapa Idot ?”, tanya saya untuk yang kesekian kali.

Andro tidak menjawab. Wajahnya menatap saya ragu-ragu. Belakangan saya tahu, Andro selalu memakai nama Idot saat dia mengompol dan untuk hal-hal yang kurang baik lainnya.

Saat saya tanya :

“Siapa yang nakal ?” jawabnya :”Idot...”

“Siapa yang malas ?” jawabnya : Idot...”

“Siapa yang jelek ?” jawabnya : Idot....”

“Siapa yang ngeyel ? Jawabnya : “Idot..”


Tapi saat saya tanya :

“Siapa yang pintar ?” jawabnya :”Andro..”

“Siapa yang rajin ?” jawabnya : “Andro..”

“Siapa yang ganteng ?” jawabnya : “Andro..”

“Siapa yang baik ?” jawabnya :”Andro..”

Hm..saya geleng-geleng kepala. Siapa yang ngajarin ya ? Idot adalah nama khayalan sekaligus kambing hitamnya untuk yang jelek-jelek. Asumsi saya, dengan memakai nama Idot, Andro tidak akan kena marah. Saya jadi ingat, waktu kecil dulu juga punya tokoh khayalan si baik dan si jahat dalam diri saya. Kedua tokoh itu laksana si kembar yang berbeda karakter. Saya menamainya Lili untuk yang baik dan Popo untuk si jahat. Saya bermain sandiwara sendiri memerankan tokoh si Lili dan si Popo yang sedang bercakap-cakap. Aneh ? Mungkin..tapi saya rasa itulah cikal bakal imajinasi saya berkembang hingga sekarang.

Saya cukup senang di usianya yang ke-3 tahun ini Andro sudah bisa membedakan yang baik dan yang buruk secara sederhana. Tapi saya tidak ingin, Idot selalu menjadi kambing hitam dan obyek tertuduh atas segala perbuatan buruknya. Saya ingin Andro mengakui secara jujur perbuatannya baik buruk atau baik. Istilahnya jangan sampai lempar batu sembunyi tangan dan berbohong. Bisa bahaya...

Memang tidak mudah untuk menjelaskannya secara panjang lebar kepadanya yang masih kecil, tapi saya mencobanya pelan-pelan. Bahwa setiap perbuatan itu ada sebab akibat, resiko dan tanggung jawab. Kalau berbuat salah, coba untuk diperbaiki. Oh my God..baru saya sadari ternyata menjadi orang tua itu sangat tidak mudah.

Kali lain, saya ngetes Andro lagi dengan pertanyaan..

“Siapa yang ngompol ?

“Andro...”

“Bagus..mau mengaku..Idot kemana ?”

“Lagi di Yogya..”

“Andro dan Idot itu sama nggak ?”

“Sama..”

Ya Tuhan..betapa bahagianya saya, Engkau titipkan seorang anak yang sangat lucu ini..