Pages

Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

Saturday, January 8, 2011

Es Cendol Kenangan

Gambar diambil dari sini



Nining mulai gelisah. Sedari tadi matanya tak lepas menatap ke ujung jalan sana, berharap ada sepeda hijau tua yang melaju ke arahnya. Rasa lapar, haus, kantuk dan capek berbaur jadi satu tertelan oleh perjalanan waktu yang cukup panjang. Harapannya timbul tenggelam menanti jemputan bapaknya. Sebenarnya ada keinginan didalam hatinya untuk pulang jalan kaki saja, tapi ada sedikit kekhawatiran bapaknya akan mencari-cari, lagipula jarak rumah yang sangat jauh dengan sekolahnya membuat Nining ragu-ragu untuk melangkahkan kakinya. Bisa satu jam waktu yang akan ditempuhnya nanti.


Sekolah Dasar Negeri tempat Nining menuntut ilmu sudah tampak lengang. Kelas-kelas sudah rapat terkunci dan pintu gerbang sudah tertutup selama hampir satu jam yang lalu. Tinggal Nining sendirian di depan pintu gerbang sekolah, tak jauh dari jalan raya nan hiruk pikuk oleh kendaraan yang berlalu lalang.


Seragam putih merahnya sudah tampak kotor. Pikirannya sibuk bertanya-tanya dan menerka. Bapak kemana ya ? Apa lupa ? Ketiduran barangkali ? Ah..tak ada akses apapun untuk bisa mengungkap kebenaran yang ada. Tak ada handphone, tak ada orang yang dikenal yang bisa memberinya sedikit info. Sempurna sudah penantian panjang Nining.


“Belum pulang, Nduk ?”Nining menoleh ke arah suara.


Oh..bapak tua penjual es cendol pikulan. Senyum bapak itu membuat Nining sedikit lega. Bapak tua itu biasa mangkal disini melayani pembeli. Nining menggeleng sambil tersenyum. Bapak itu sudah paham jika Nining sedang menunggu jemputan. Kemarin, bapak tepat menjemput Nining saat bapak penjual es baru sampai di tempat ini.



Nining menelan ludah, menahan rasa hausnya. Terbayang betapa segarnya segelas es cendol membasahi kerongkongannya. Ah..andai ada sekeping uang logam saja untuk ditukar dengan segelas es cendol. Nining merogoh saku baju seragamnya. Seperti dugaannya, tak ada sekeping uang logam pun disitu. Nining tertawa diam-diam, sejak kapan ada uang saku disitu. Hanya keajaiban jika ditemukan uang di sakunya. Bukankah selama ini Nining selalu akrab dengan puasa dan uang saku merupakan kemewahan bagi Nining ? Mewah karena Nining hanya bisa merasakan uang saat diberi oleh Tantenya yang datang dari Jakarta, atau saat Nining mendapat upah dari berjaga bola di lapangan tenis sebagai kacung. Itupun tidak semuanya dirasakan Nining untuk bisa sekedar jajan, sebagian uangnya akan diberikan kepada ibunya sebagai tambahan uang belanja untuk makan sehari-hari.


Kemiskinan. Ya, Nining sudah cukup paham apa arti dari miskin. Tadi Bu guru menjelaskan tentang penduduk Indonesia yang masih 30% berada di bawah garis kemiskinan. Itu pasti termasuk keluarga Nining. Jika melihat ke bawah, Nining masih bersyukur bisa mengenyam sekolah. Begitu banyak teman-teman sekampungnya yang mencari nafkah di jalanan, tidak bisa sekolah. Beruntung, kedua orang tuanya berpikiran sedikit lebih maju yang menganggap pendidikan sebagai prioritas utama. Sekalipun sehari hanya bisa makan satu kali dengan nasi dan garam, itu jauh lebih baik daripada membiarkan anak-anaknya mengemis di jalanan. Ibunya yang seorang buruh cuci di sebuah kost-kostan orang kaya dan bapaknya yang seorang petugas keamanan sebuah pabrik tekstil kecil, harus berjuang keras menghidupi kelima anaknya yang masih sekolah semua.


Itulah mengapa Nining hampir tidak pernah merasakan bagaimana rasanya punya uang saku. Dia hanya bisa terdiam di pojokan sekolah saat teman-temannya berlarian menuju kantin sekolah. Atau sesekali ada temannya yang berbaik hati mentraktir, tapi Nining selalu tidak enak hati hingga sering menolaknya secara halus. Bagaimanapun, Nining tidak ingin menggantungkan diri kepada orang lain atau memanfaatkan keadaan. Lebih baik bagi Nining untuk menahan rasa laparnya daripada harus mengorbankan perasaannya. Nining merasa belum mampu untuk gantian mentraktir sekalipun teman-temannya tulus memberikan itu. Nining selalu merasa harga dirinya dipertaruhkan. Sekalipun miskin, Nining tidak ingin jika di kemudian hari dirinya menjadi bahan ejekan hanya karena tidak punya uang.

“Mau es cendol, Nduk ?”, bapak tua menatap Nining iba.


Lekas-lekas Nining menggelengkan kepalanya. Nining tidak berani bilang tidak punya uang. Padahal sungguh, Nining sangat ingin bisa merasakan segarnya es cendol bapak tua. Ah..terpaksa Nining harus mengenal kebohongan. Gelengan kepalanya sangat bertentangan dengan keinginan hati dan mulutnya. Dan berkali-kali Nining harus menelan ludahnya yang tersisa. Betapa rasa dahaganya sangat menyiksa.


Beberapa pembeli mulai menyerbu es cendol bapak tua. Nining menduga, pasti es cendol ini sangat enak, terbukti pembelinya selalu rela berdesak-desakan. Mungkin dalam hitungan beberapa jam sudah habis. Apalagi cuaca yang cukup panas membuat dagangan pak tua selalu laris manis. Harganya juga murah, hanya seribu rupiah per gelasnya. Ironis, karena walaupun hanya seribu, Nining tidak mampu membelinya. Saat ini, Nining hanya ingin bapaknya segera datang menjemputnya, membawanya pulang dan segera melupakan keinginannya untuk minum es cendol yang sangat menggoda ini.


Nining sampai terkantuk-kantuk menunggu jemputan yang tak kunjung tiba. Disandarkannya tubuhnya di tembok pagar sekolah. Duduk beralaskan koran yang ditemukannnya di pinggir jalan. Entah berapa lama Nining tertidur saat mendengar suara bapak tua.


“Nduk..minumlah..kamu pasti haus..”


Nining tergagap sekaligus ternganga melihat bapak tua mengulurkan segelas es cendol ke arahnya. Nining hampir menggeleng ketika pak Tua segera menukasnya.


“Tidak usah bayar, gratis..”


“Tapi pak..”


“Sudahlah..bapak ikhlas kok..bapak inget sama cucu bapak..”


Ragu-ragu Nining menerima uluran tangan bapak tua.


“Terima kasih banyak pak, Tuhan akan membalas kebaikan Bapak..”


Mata Nining berkaca-kaca terharu. Tuhan mengabulkan keinginan Nining untuk bisa merasakan es cendol melalui ketulusan hati bapak tua. Dalam hati Nining berjanji untuk bisa membalas kebaikannya suatu hari nanti. Ditandaskannya segelas es cendol dalam beberapa teguk hingga tetes terakhir. Rasa dahaganya terpuaskan sudah. Bapak tua tersenyum bahagia, sebahagia hati Nining kini.

“Nduk, bapak pulang dulu ya..sudah habis dagangan bapak..”


“Hati-hati, ya Pak..terima kasih..salam untuk keluarga bapak..”


Pak tua mengangguk. Pikulannya sudah terasa ringan. Senyumnya terkembang. Nining mengikuti langkah pak tua dengan pandangan matanya. Betapa semangat bapak tua begitu besar. Di usianya yang cukup renta, mampu berjalan kaki membawa dagangannya dengan dipikul. Tak berapa lama, muncul dari kejauhan sepeda hijau tua bapak. Nining hampir menangis karena menunggu terlalu lama. Bapak mengusap kepala Nining pelan.


“Maafkan bapak..tadi ban sepedanya bocor, ditambal dulu..”

Nining mengangguk. Hilang sudah semua kesalnya. Segera Nining membonceng dan sepeda hijau tua itu bergerak pelan membelah keramaian jalan. Sekitar 500 m dari sekolah Nining, ada keramaian yang tidak biasa. Banyak orang berkerumun dan kendaraan banyak yang berhenti yang mengakibatkan kemacetan. Nining dan bapak bertanya-tanya ada apa. Tak jauh dari pandangan Nining, ada pecahan tanah liat dan kaca-kaca. Selain itu, Nining sangat mengenal sebuah pikulan yang tampak teronggok di pinggir jalan dengan keadaan yang sudah rusak. Deg..seketika Nining teringat bapak tua penjual es cendol. Bapak..ah..bahkan untuk menyebut namanya saja Nining tidak tahu. Baru disadarinya betapa tololnya tidak menanyakan siapa nama bapak tua itu.


“Ada apa pak ?”


“Ada kecelakaan pak, sebuah truk menabrak tukang es yang sedang menyeberang..”


Seketika Nining merasa lemas. Terbayang betapa ketulusan bapak tua saat memberinya minuman. Tuhan memanggilnya begitu cepat sebelum Nining sempat untuk membalas kebaikannya. Bahkan dengan cara yang tidak diduga. Sebuah kecelakaan. Beristirahatlah dalam ketenangan Bapak Tua..

Saturday, December 4, 2010

Praaakkkk....!!!

Aku selalu tahu hitam putih tentangmu. Tahu pula bagaimana situasi hatimu setiap hari. Saat kamu tertawa, tersenyum atau menangis sendiri. Atau saat tiba-tiba kamu berteriak seolah-olah sedang memaki diriku. Ekspresimu selalu keluar tanpa pura-pura. Emosi yang natural, aku suka.

Seperti pagi ini, kamu membuka matamu pelan-pelan, menggeliat, melirik ke jam dinding. Olala..telat !! Bergegas kamu beranjak dari ranjang tidurmu dan menyempatkan dirimu menengokku sebentar. Ada kotoran di sudut matamu, rambut acak-acakan dan kamu menguap pula. Wah..aku tahu persis aroma nafas dan tubuhmu di pagi hari. Kamu sambar handuk di sudut kamar, yang bertengger di tiang jemuran kecil kemudian masuk ke kamar mandi. Aktivitas mandi kilat ala bebek segera dimulai.

Benar saja, di menit kelima, kamu sudah keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit tubuhmu. Amboi..betapa menggairahkannya dirimu dengan keadaan seperti itu. Lalu saat yang kutunggu datang, saat kau taruh handuk di jemuran, tubuhmu polos tanpa sehelai benang pun. Sekilas kamu mematut dirimu di hadapanku. Andai aku bisa bernafas, pasti aku akan memilih menahan nafasku barang sebentar. Kamu memang nyaris sempurna.

Lalu dengan tergesa kamu pakai baju favoritmu, celana jeans dan t-shirt ketat yang pas membalut tubuhmu. Wajahmu disapu dengan bedak bayi, dan sedikit lipstik warna peach teroles di bibirmu nan ranum. Jujur, hari ini kamu cantik luar biasa. Aku yakin semua lelaki di dunia ini akan sepakat dengan pendapatku ini.

Sekali lagi, kamu mematut penampilanmu di hadapanku. Memastikan tak ada lagi yang perlu dibenahi. Kamu tersenyum puas. Lalu sosokmu menghilang setelah bunyi pintu ditutup. Kembali aku sendiri dalam kesunyian di kamar kost-mu ini, menanti dirimu pulang seperti hari-hari kemarin.

***

Aku terkejut saat kamu datang dengan wajah yang kesal. Seorang lelaki membuntuti langkahmu dan ikut masuk ke kamar. Ah..ya..itu kekasihmu kan ? Laki-laki yang paling sering datang ke kamar kost-mu ini. Biasanya, kamu akan tertawa manja saat ada kekasihmu. Tapi kali ini tidak ada tawa. Laki-laki itu juga tampak begitu marah. Sepertinya kalian sedang bertengkar. Pertengkaran pertama yang aku lihat di kamar ini. Atau mungkin pertengkaran yang kesekian kali dengan setting di tempat lain ? Entahlah..aku tidak tahu.

Kamu beradu mulut dengan lelaki itu, yang aku belum begitu paham kemana arah pembicaraannya. Kamu teriak, lelaki itu balas berteriak seolah tidak peduli teman-teman kost yang lain akan mendengar. Sepertinya akan begitu heboh. Biasanya, aku melihatmu beradu mulut tanpa suara dengan kekasihmu, saling memberikan kehangatan. Kurasa hati kalian saat ini sedang berjarak sehingga perlu berteriak tidak seperti saat hati kalian dekat, cukup hanya dengan bisik-bisik manja.

Matamu berlinang air mata, sambil sesekali terisak..

“Abang jahat...,” ucapmu lirih diantara isakmu. Ada nada kepedihan yang dalam. Lelaki yang kamu puja selama ini telah menyakiti hatimu.

“Sudah aku bilang, aku tidak suka kamu pergi dengan laki-laki itu !”

“Abang tahu kan, dia teman kuliahku. Aku sedang bikin tugas dengannya. Harus berapa kali aku bilang, bang ?"

“Pokoknya aku tidak mau tahu apapun alasannya. Kamu tidak boleh pergi dengan laki-laki manapun tanpa seijinku !”

“Bukankah aku selalu memegang kepercayaan abang. Kejujuran seperti apalagi yang abang inginkan. Jangan cemburu buta, bang..”

“Kamu membantah saja. Apa perlu aku memukul kamu ?”

Kamu terperangah. Tidak menyangka kekasih yang kamu cintai tega berkata seperti itu. Sejenak keberanian bangkit dalam dirimu.

“Pukul, bang..ayo pukul aku untuk menunjukkan kejantananmu. Tak kusangka kamu tega berbuat senista itu. Semakin jelas bagiku abang siapa !”

Mata kekasihmu sangat merah. Tangannya sudah siap melayang ke arah wajahmu tapi kemudian berbalik ke arahku dan....”Prrraaaakkkk....” dalam sekejap tubuhku hancur berkeping-keping. Beberapa pecahan tubuhku menancap di tangan kekasihmu. Darah mengucur dari tangan kekasihmu.

Kamu tak percaya melihat serpihan-serpihan tubuhku. Antara bingung, kamu menatap kekasihmu dan merasa kehilangan atas hancurnya diriku. Sebelas tahun aku menemanimu berakhir sia-sia tanpa makna. Sebentar lagi aku akan terganti dengan yang lain. Tak kan mampu lagi aku melihat sosok indahmu. Benar katamu, kekasihmu jahat !

Pertanyaannya :

Siapakah aku ? Huehehe... ( iseng.com )

Wednesday, August 25, 2010

Saat Bulan Purnama...


Gambar dipinjam dari sini
Malam ini, kita bertiga duduk berjejer di teras rumah, barengan tengadah ke langit melihat bulan. Bulan purnama. Ya..kebetulan saat ini bulan bersinar terang dalam bulatan yang penuh. Ini kali pertama kita bisa menyaksikan bersama benda langit yang indah itu.

Pertama bagiku bisa menyaksikan bulan bersama suami dan anakku. Biasanya aku menyaksikan sendiri bulan-bulan yang lain dari bulan sabit, bulan setengah lingkaran dan bulan purnama. Dan pertama bagiku menyaksikan bulan dalam jeda waktu yang cukup lama. Biasanya aku hanya tengadah, melihat bulan di atas sana dan bergumam,”Oh..ada bulan..” Lalu masuk ke dalam rumah dan tidak keluar lagi untuk menyaksikannya.

Pertama pula bagi suamiku melihat bulan bersama istri dan anaknya. Biasanya dia hanya menatap sekilas seperti yang biasa aku lakukan. Dan sudah pasti, pertama pula bagi anakku yang menjelang tiga tahun usianya melihat bulan. Dia terbiasa melihat bulan-bulan sabit di malam-malam yang lalu tapi tidak selama malam ini.

“Itu bulannya gede banget..Andro mau pergi ke bulan..”, kalimat pertama Andro muncul diantara hening kami menyaksikan bulan.

“O,ya..Andro mau ? Naik apa nak ?”

“Naik pesawat..”

“Besok kalau Andro sudah gede ya..nanti di bulan mau ngapain ?”

“Mau main-main aja..”

Kita bertiga tertawa. Sungguh, kebersamaan ini terasa indah adanya. Menyatukan rasa kagum yang sama akan keindahan langit di malam hari.

“Itu ada bintang..banyak..,” pandangan Andro beralih dari bulan. Mata kami ikut mencari-cari.

“Iya..banyak sekali ya bintangnya..indah..kerlip-kerlip..”

Mata Andro berkedip-kedip, takjub menatap ribuan bintang yang bertebaran di langit sana.

Bintang kecil..di langit yang biru..amat banyak, menghias angkasa..aku ingin..terbang dan menari..jauh tinggi ke tempat kau berada…”

Andro menyanyi diiringi tepukan tangan dari bapak ibunya. Bangga..

“Oh..itu ada pesawat…,” Andro berteriak lagi..

Memang benar, ada pesawat yang melintas. Mungkin itu pesawat terakhir yang terbang hari ini. Sinar lampunya kerlap-kerlip membelah kegelapan malam.

“Apakah pesawatnya mau ke bulan Mama ?”

Aku sejenak terdiam. Berpikir jawaban apa yang masuk akal untuk kuberikan..

“Sepertinya tidak sayang..itu pesawat komersil yang akan mendarat di bandara..”

“Kenapa tidak ke bulan ?”

“Bulan itu jauh sekali sayang, kalau pakai pesawat biasa tidak akan mungkin sampai ke sana, harus dengan pesawat yang khusus..”

“Mama..bulannya hilang..pergi kemana ya ?”

Awan gelap menyelimuti. Bulan tertutup awan.

“Bulannya ketutup awan..”

Aku teringat, biasanya malam bulan purnama begini ada pertunjukan Sendratari Ramayana di Candi Prambanan. Masih adakah pertunjukan itu ? Mungkin saja, tapi aku belum pernah menyaksikannya secara langsung.

Saat-saat seperti ini, aku juga teringat akan lagu dolanan bocah tradisional Jawa, Padhang Bulan..

Yo prakanca, dolanan neng njaba..
(Ayo teman bermain di halaman )

Padang bulan, bulane kaya rina..
( Terang bulan, bulannya seperti siang..)

Rembulane..ne..sing ngawe-awe..
( Rembulannya..nya..memanggil-manggil..)

Ngelikake ojo pada turu sore..
(Mengingatkan jangan tidur sore-sore )


Wednesday, August 4, 2010

Gubug Tengah Sawah


Judith pernah ada di suatu masa, masa dimana kebanyakan orang menganggapnya sebagai suatu masa yang sulit, tapi Judith bisa menikmatinya……

Suatu masa dimana keterpurukan menjadi nyawanya, tapi Judith bisa mengecap rasa bahagia…....

Suatu masa dimana penderitaan menjadi peran utamanya, tapi Judith tidak merasakan apa itu sengsara……

Tawa selalu menggema dari bibirnya, kebersamaan menjadi kekuatan yang mengusir rasa sedihnya……

Masa itu ada di sekitar tahun 1980-an. Saat Judith masih lekat dengan ingus dan seragam putih merah menjadi seragam kebanggaannya.. Seragam yang dipakai berulang-ulang hingga kerahnya berwarna coklat kotor oleh keringat yang menempel, yang hanya satu pasang dipunya, hingga setiap 3 hari sekali, sepulang sekolah Judith harus cepat-cepat mencuci baju kotornya sambil berharap semoga matahari cukup terik bersinar hari itu, sehingga bisa mengeringkan bajunya.

Segera setelah kering ataupun jika terpaksa hanya setengah kering, digosoknya baju itu dengan setrika berkepala ayam jago yang berbahan bakar arang sebagai pemanasnya. Dikipas-kipasnya setrika itu supaya arang mampu berpijar dan sesekali mulutnya meniup abu yang beterbangan menghalau supaya abu-abu itu tidak menempel di seragamnya yang aslinya putih tapi kini sudah berubah warna menjadi broken white itu. Seragam yang menjadi bukti bahwa dirinya masih beruntung bisa menikmati bangku sekolah, sekalipun orang tuanya tidak berharta dan seringkali mendapat julukan sebagai kaum papa yang terpinggir.

Judith tinggal di sebuah rumah atau tepatnya gubug di tengah sawah, setelah berkali-kali pindah dari satu rumah kontrakan ke rumah kontrakan yang lain. Keadaan ini jauh lebih beruntung jika dibandingkan dengan sekian banyak orang yang tinggal di pinggir kali dengan kardus-kardus bekas yang dibentuk sedemikian rupa menjadi rumah-rumahan. Walaupun dinding gubug ini adalah gedeg dari anyaman bambu, dan atapnya dari seng bekas yang sesekali bisa terbang saat angin berhembus kencang menemani hujan yang turun deras dan disambut dengan kilat dan petir yang menggelegar, namun Judith dan keluarganya tetap masih bersyukur karena tidak dipungut bayaran atas sewa tanah sawah ini. Semua itu karena kebaikan hati pemilik pabrik tekstil tempat bapak Judith bekerja sebagai petugas keamanan.

Di tengah sawah ini, Judith berteman dengan sang kodok yang bernyanyi di malam hari, ditemani pula oleh kerlip indah si kunang-kunang. Judith juga berteman dengan pohon singkong tahun yang tumbuh lebat di samping gubugnya, yang batangnya cukup kuat menopang tubuhnya saat terayun di dalam selimut yang pinggirnya ditalikan membentuk semacam perahu ayunan. Tak jarang Judith sampai terlelap di dalam ayunan ini ditemani semilir angin yang sepoi-sepoi.

Di lain waktu, Judith juga bertegur sapa dengan ular sawah yang ditemuinya di pematang sawah saat Judith hendak pergi sekolah di pagi hari. Judith juga bebas menikmati malam-malam saat bulan purnama ataupun saat langit bertaburan banyak bintang. Judith menikmati semuanya. Alam menjadi sahabat terbaik Judith dan semua yang ada di sekitarnya dijadikannya teman tanpa kecuali, sekalipun beberapa diantaranya adalah benda mati.

Sekali waktu Judith bisa berlama-lama berada di sungai kecil yang tak jauh dari gubugnya. Kadangkala sendiri atau kerapkali bersama dengan teman-teman sekolah Judith. Bermain dan bersenda gurau dalam kecipak air sungai yang masih jernih, tertawa riang saat tangan-tangan kecilnya membalas menyipratkan air sungai ke tubuh teman-temannya. Tak peduli bajunya yang basah, atau kaki-kakinya yang berlumuran lumpur saat tanpa sengaja terlempar ke dalam genangan sawah tak jauh dari sungai. Tak ada rasa khawatir akan sakitkah mereka nanti. Gelak tawa dan canda saling bersahutan diantara pelototan mata sang pemilik sawah yang gusar karena sawahnya terinjak-injak. Semuanya berlari menghindari amarah yang lebih hebat dari para petani tadi.

Semuanya mengalir begitu saja, begitu lepas dan semakin ruah saat hujan tiba-tiba tercurah dari langit mengguyur tubuh-tubuh mungil itu tanpa permisi. Sorak kegirangan terlontar begitu nyata. Menikmati hujan yang menyambut mereka dengan ramah tanpa pernah bertanya apa status sosial mereka, ataupun sekedar bertanya berapa jumlah uang saku yang mereka punya. Hujan yang senantiasa tulus mengisi keceriaan mereka yang tak pernah dimanjakan dengan uang ataupun gelimangan harta. Hujan yang setia menjalankan tugasnya sebagai pemberi berkah di bumi. Hujan yang tidak minta balas jasa atas keriangan yang telah mereka rasakan. Hujan yang turun tanpa pamrih. Hujan yang tidak pernah mencoba melawan takdirnya memberikan kesejukan dan kebahagiaan.

Seringkali saat senja menjelang, Judith mengayuh sepeda tuanya menuju warung terdekat membeli minyak tanah untuk mengisi lampu teplok. Di lingkungan sekitar Judith tinggal, listrik bukanlah barang langka, tapi keluarga Judith belum mampu untuk menggunakannya. Setiap hari rutinitas ini dijalankan Judith atau sesekali bergantian tugas dengan kakak-kakak laki-lakinya. Sudah hal biasa jika minyak tanah itu tumpah sedikit mengenai tangan Judith dan berbau. Judith seringkali kesal menyadari kecerobohannya sendiri.

Saat malam hari, Judith belajar dengan penerangan lampu teplok. Matanya seringkali memicing membaca tulisan di buku pelajarannya. Kadang-kadang Judith menyesali kenapa tidak belajar di siang hari saja saat matahari masih mampu memberikan penerangan yang lebih dari sekedar lampu teplok. Tapi siang hari Judith sering disibukkan dengan pekerjaan rumah tangga menggantikan tugas ibunya yang bekerja sebagai tukang cuci dan tukang masak di sebuah rumah orang kaya yang punya usaha kost. Dan seringkali Judith tertidur kelelahan setelahnya. Jadi, lewatlah sinar matahari siang itu dengan percuma, kecuali saat Judith mencuci baju-bajunya.

Pernah suatu waktu saat Judith sedang belajar di malam hari, tiba-tiba ada sesuatu yang jatuh dari atas atap gubugnya, tepat mengenai kepalanya. Judith terlonjak kaget dan lebih terkejut lagi ternyata sesuatu itu adalah seekor ular. Saat itu bapak ibu dan kakaknya juga sedang berkumpul belum ada yang tertidur. Jadilah beramai-ramai mereka mengusir ular itu keluar dan terpaksa dibunuh kemudian dibuang ke tempat yang jauh dari gubugnya. Judith sedikit ngeri membayangkan jika ular tadi berhasil membelit atau menggigit dirinya atau anggota keluarganya. Syukurlah, kengerian itu tidak terjadi.

Monday, April 19, 2010

Aku Cinta Kau dan Dia


Sayangku..jujur kukatakan padamu hatiku telah mendua. Mungkin kamu kaget bukan kepalang mendengarkan kejujuranku ini. Atau mungkin juga sakit hati. Tapi lebih baik aku katakan saja daripada kamu harus mendengar dari orang lain. Lebih sakit pasti.

Mungkin kamu tidak melihat gelagat aneh dariku yang mengindikasikan bahwa aku telah berpaling darimu. Tidak, karena aku tidak sepenuhnya ingin berpaling darimu. Aku hanya ingin memilikimu dan memilikinya. Dengan rasa yang sama.

Cinta yang dulu kuyakini takkan mungkin terbagi, ternyata sekarang harus aku bagi dengannya. Denganmu, aku bahagia. Dan kebahagiaanku semakin lengkap saat bersamanya. Inginku, kamu dan dia bersama denganku. Gila ? Nggak juga..

Jika kamu bertanya, kapan rasa cintaku tumbuh untuknya, aku akan cepat menjawab dua setengah tahun yang lalu. Cukup lama bukan ? Dan selama itu kamu tidak pernah menyadarinya ? Begitu hebatkah diriku menyembunyikannya ? Yang jelas, aku masih sebagai istrimu yang sangat menyayangimu. Bingung ? Cinta memang membingungkan..

Jujur saja, aku langsung jatuh cinta pada pandangan pertama dengannya. Cinta yang sudah lama tak kurasakan selain denganmu. Ya, terakhir denganmu sayang, tapi aku salah karena cintaku dapat tumbuh lagi sejak kuikrarkan kamulah cinta terakhirku. Dan saat ini aku tidak akan bisa menjawab jika kamu bertanya besar mana cintaku padamu dan untuk dia. Lebih bingung lagi jika kamu mengharuskan aku untuk memilih antara kamu atau dia. Tidak mungkin kutinggalkan salah satu karena aku menginginkan keduanya. Kamu dan dia !

Jika kamu bertanya, siapa dia yang aku cintai belum lama ini ? Kamu mengenalnya sayang..dan aku yakin kamu tidak akan pernah berburuk sangka padanya. Dia sangat baik dan manis. Senyumnya tulus dan matanya sangat bening. Siapa yang tidak akan menyayanginya ? Aku yakin, jika aku mengatakan yang sesungguhnya mungkin kamu akan sependapat denganku.

Ah, sayang..kurasakan kebahagiaanku semakin lengkap saat ada cinta untuknya. Hidupku lebih berwarna dan selalu ceria. Tidakkah kau lihat perubahanku itu sayang ? Mataku selalu berbinar-binar, senyumku selalu terkembang untukmu dan mungkin juga untuknya. Ah..aku semakin bergairah saja.

Aku tidak ingin menyudahi cintaku untuknya, sayang..justru aku merasa semakin lama cintaku semakin subur untuknya. Dia memang sangat menyenangkan. Selalu bisa membuatku tertawa dan selalu bisa membuatku bahagia. Cintanya begitu tulus dan tidak pernah ada kebohongan. Begitu lepas. Saat ingin tertawa, langsung saja dia tertawa sampai terbahak-bahak, saat bersedih, tidak juga dia sembunyikan rasa itu. Dia selalu jujur menjadi dirinya. Dan kejujurannya itulah yang telah memikat hatiku.

Maaf, sayang..aku harus bertemu dengannya sekarang. Memberikan separuh hatiku untuknya, untuk sekedar berbagi cerita dengannya. Atau sekedar menyanyi bersama di bawah pohon yang rindang. Dia selalu punya cerita yang menarik. Dia selalu bisa mengambil hatiku. Dan dia selalu bisa membuatku senang.

Seringkali aku dan dia hanya duduk-duduk saja tidak jauh dari rel kereta api. Hanya untuk melihat kereta api yang lewat dan berjemur sinar matahari pagi. Bahkan sesekali kepala kami tengadah ke langit untuk melihat pesawat terbang yang melintas di udara. Sederhana. Tapi ritual itu yang membuat kami selalu dekat.

Ingin rasanya melakukan perjalanan dengan kereta api dengannya. Berdua saja, atau mungkin kamu juga ikut sayang ? Tidak usah jauh, cukup kereta api Prameks jurusan Jogja – Solo untuk sekedar memuaskan rasa ingin tahunya bagaimana naik kereta api. Ya, si dia memang belum pernah naik kereta api. Makanya dia sangat antusias saat melihat kereta api melintas.

Sayang, tidak inginkah kamu tahu siapa dia yang kucinta selain dirimu ? Aku sebut namanya saja ya..Namanya Felix Oksandro Bagaskara Tivian. Tepat, kamu pasti sangat mengenal nama itu, karena kamu juga yang ikut memilihkan nama itu. Ya, dia adalah Andro, anak kita..pasti kamu tidak keberatan jika aku mencintainya karena aku juga yakin bahwa kamu juga sangat mencintainya..