Pages

Wednesday, October 19, 2011

101011


Kadang, angka tertentu diyakini mendatangkan keberuntungan. Entah sebagai sugesti atau apa, banyak orang berburu nomor cantik yang diyakini mendatangkan rejeki. Bahkan beramai-ramai orang memasang nomor supaya menang..eh..itu mah togel ya, masih adakah..atau ada yang setia pasang sampai sekarang ? Hehe..


Lain halnya dengan saya, tanggal 10 Oktober 2011, yang disingkat jadi angka 101011 merupakan hari istimewa, karena ada dua peristiwa yang menyertainya. Yang pertama, di tanggal ini genap anak kami, Andro berulang tahun ke-4. Secara kebetulan pula, hari ini adalah perayaan dua tahun Wiyono Putro Autoshop berdiri. Keduanya masih umur balita, sedang lucu-lucunya. Dua tahun adalah usia dimana anak sedang senang-senangnya berjalan, berlari, berbicara dan menyanyi. Sedangkan empat tahun adalah usia dimana anak sedang senang-senangnya bersekolah mempersiapkan pra TK-nya. Mulai senang menggambar, belajar huruf dan angka bahkan berusaha untuk bisa membaca dan menulis.


Keduanya adalah anugerah yang tak ternilai. Anak dan usaha. Harapannya, keduanya bisa sama-sama berkembang seiring sejalan saling melengkapi. Tidak mudah menciptakan sinergi yang seimbang untuk keduanya. Anak penting, usaha juga penting.


Percaya atau tidak, motivasi awal kami membuka usaha adalah karena anak. Anak adalah anugerah dari Tuhan yang sudah selayaknya dilimpahi kasih sayang yang berlimpah dari orang tuanya. Hal yang berkaitan dengan ini adalah waktu. Saat menjadi karyawan, saya dan suami sering kehabisan waktu bersama. Keduanya larut dalam pekerjaan di kantor yang menghabiskan seharian waktu kami. Akibatnya, kami terbatas untuk bertemu dan bersama dengan anak kami yang waktu itu masih bayi. Bahkan saat ibu saya yang biasa mengasuh anak kami harus pergi ke Kalimantan karena ada urusan keluarga, terpaksa anak kami titipkan eyangnya dari pihak suami yang tinggal di Yogya selama beberapa bulan sementara kami bekerja di Cirebon. Sedih rasanya harus berpisah dengan buah hati. Dua minggu sekali saya dan suami pulang ke Yogya untuk menengok anak.


Di sisi lain, menjadi dilema bagi kami untuk mencari nafkah yang sebanyak-banyaknya demi penghidupan dan pendidikan yang layak bagi buah hati. Tentunya dibutuhkan materi yang tidak sedikit. Karena itu, kami bersama-sama merancang masa depan kami dengan buka usaha bersama. Dengan berani membuka usaha, kami bisa menghasilkan pendapatan yang tidak terbatas. Tidak seperti saat menjadi karyawan yang gajinya naik tidak lebih dari 20% setiap tahunnya.


Jadi, saat ini kami merasakan banyak manfaat dengan buka usaha sendiri. Saya dan suami bisa ketemu anak setiap hari, setiap saat di toko dan di rumah. Waktunya juga lebih fleksibel untuk bertemu dengan anak. Bahkan kadang anak juga diajak ke toko. Waktu untuk kebersamaan melimpah, dan dengan restu Tuhan, semoga panghasilan yang tak terbatas bisa kami dapatkan. Tujuan akhirnya adalah keluarga harmonis, usaha lancar jaya, bermanfaat bagi semua orang. Selaras, serasi dan seimbang.


Masih teringat jelas dalam ingatan saya saat 2 tahun yang lalu, 10 Oktober 2009, awal berdirinya Wiyono Putro Autoshop yang sengaja tanggalnya dipilih sama dengan tanggal ulang tahun ke-2 anak kami. Tanggal ini dipilih sekaligus sebagai pengingat dan penyemangat bahwa ada 2 kelahiran yang sangat penting bagi kami yaitu anak dan usaha.


Sekedar diketahui, pembicaraan tentang buka usaha ini berlangsung sangat cepat. Saat lebaran di bulan September 2009, kami bertemu dengan Om Nur , Om dari suami saya yang mengajak kami untuk buka usaha di gunung Kidul, yang selanjutnya menjadi penyuport pinjaman modal awal dan motivasi. Beliau mengatakan kalau toko ban dan onderdil mobil di Gunung Kidul belum sebanyak seperti yang sudah ada di kota Yogya. Dikatakan pula, peluang buka usaha disana masih banyak.


Masalahnya, usaha harus segera dibuka karena Om Nur, memberikan deadline bahwa kalau tidak buka di bulan Oktober sesudah lebaran di tahun ini yang dianggap sebagai bulan baik untuk memulai usaha, maka usaha diundur setahun lagi. Mau tak mau kami harus bergerak cepat. Kami tertarik dengan tawaran itu, dan dalam jangka waktu satu bulan, tepatnya di bulan Oktober awal, kami resign dari pekerjaan masing-masing.


Kebetulan, tempat saya bekerja lebih memudahkan proses pengunduran diri saya karena kebetulan, karyawan pengganti posisi saya bisa cepat dicari sehingga saya bisa resign tepat sebelum anak saya berulang tahun. Sedangkan suami saya masih harus menunggu satu bulan lagi, yaitu di bulan November karena masih mengurus soal serah terima tugas dengan orang yang akan menjadi penggantinya nanti dan masih harus mengurus prosedur lain-lainnya di perusahaan yang cukup besar di Cirebon itu. Jadi, saya duluan pulang ke Yogya menyusul anak saya, sedangkan suami masih di Cirebon.


Tanggal 10 Oktober 2009, ulang tahun anak saya dirayakan di Gunung Kidul di kediaman Om kami. Suami bisa pulang dan berkumpul bersama keluarga terdekat sekaligus sebagai penanda bahwa usaha mulai dibuka. Sehari sesudah ulang tahun anak saya, suami kembali bekerja di Cirebon, anak saya ikut eyangnya di Yogya, satu jam dari Gunung Kidul. Jadi, saya terdampar sendirian di Gunung Kidul, membuka usaha sendiri. Bayangkan bagaimana rasanya jauh dari suami dan anak tercinta, dan untuk sementara saya tinggal di rumah keluarga Om Nur yang belum lama saya kenal dengan baik. Tentu rasa asing melingkupi perasaan saya. Untunglah, keluarga Om Nur adalah keluarga yang baik dan sangat mensupport sepenuh hati. O,ya Om kami ini punya usaha toko besi yang sudah besar di Gunung Kidul ini. Selama 13 tahun buka usaha, sudah punya karyawan lebih dari 20, mempunyai armada truk 10 buah, dan aset pribadi lainnya yang cukup banyak. Sudah menuai hasil pokoknya.


Awalnya, tempat yang digunakan sebagai toko ban dan onderdil ini adalah gudang tempat Om Nur menyimpan keramik dagangannya. Sambil menunggu kedatangan suami saya di bulan November nanti, saya hanya berjualan ban mobil saja tanpa onderdil. Pertimbangannya, saya masih sendirian sedangkan onderdil itu itemnya banyak sekali dan saya sama sekali belum tahu pengetahuan dasar tentang onderdil mobil. Ban saja saya belum paham. Jadi, silakan dibayangkan bagaimana bengongnya saya yang latar belakang pendidikannya adalah Sarjana Sains dari Biologi UGM, harus menjual produk berupa ban mobil yang saya belum paham betul jenisnya. Jadi, saya mempelajari sendiri sambil dibimbing oleh Om. Sedikit demi sedikit saya mulai bisa membedakan ban radial yang mana, ban standart , ukuran ban, merk ban yang ternyata jenisnya itu banyak sekali. Ampun deh..


Lama-lama, saya mulai enjoy jualan ban mobil. Apalagi saat ada yang beli. Wah..senangya tak terkira. Pernah, ada dua orang dengan perawakan tinggi besar, pakai baju u can see, trus lengannya bertato datang ke toko saya. Saya sendirian di toko dan biasanya memang sendiri, terdampar diantara tumpukan ban-ban. Awalnya agak takut juga saya, takutnya orang ini berniat jahat eh nggak tahunya beli ban truk dua. Hahay..kekhawatiran berubah menjadi keceriaan. Uang dua juta lebih saya terima. Larisss..hehe..


Lalu, bulan November suami sudah resmi keluar dari pekerjaan, bergabung bersama saya di toko. Saya lega sudah ada teman. Onderdil mobil mulai diorderkan. Ada 1000 item lebih, hah..? Gimana caranya belajar nih. Untung suami saya lulusan teknik mesin UGM, paham tentang onderdil mobil jadi saya bisa belajar pelan-pelan. Kemudian saya dan suami mulai menempati rumah sendiri, tidak tinggal di rumah Om dan bulek lagi. Masih ngontrak sih, tapi bagus untuk tempat tinggal. Kan masih berjuang.


Bulan Desember, kami dapat orang yang akan mengasuh anak kami dan mengurus kebutuhan rumah tangga saat kami di toko. Jadi, anak kami bawa, tidak dititipkan di eyangnya lagi. Resmi di bulan Desember kami tinggal sebagai keluarga yang utuh tidak tercerai berai lagi. Senangnya..


Bulan Maret 2010, kami mulai membeli alat tyre changer ( untuk memasang ban ) dan alat untuk balancing ban. Sedikit demi sedikit mulai ada perkembangan pelanggan. Paling tidak, setiap hari ada pembeli. Entah membeli onderdil atau beli ban atau sekedar balancing. Walaupun rame atau sepinya tidak mesti, tapi paling tidak ada pemasukan yang bisa membuat dapur ngebul. Pokoknya harus bisa mengatur keuangan saja. Berapa persen untuk kulakan, untuk kebutuhan sehari-hari, untuk biaya operasional, semuanya sudah ada posnya sendiri-sendiri.


Bulan Juni 2010, kami dipercaya oleh suplier ban truk dari India untuk menjadi agen satu-satunya di Gunung Kidul. Kami tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Terbukti, ban ini sangat awet dan berkualitas baik bila dibandingkan dengan ban truk lainnya. Sedikit demi sedikit kami bisa menjual produk ini.


Hingga perjalanan usaha kami menginjak usia dua tahun ini, banyak suka duka yang kami kecap. Ada kalanya kami merasakan enak saat jadi karyawan ( biasanya kalau toko lagi sepi ) karena gaji tiap bulan sudah pasti. Saat sekarang, pendapatan tidak pasti, tapi banyak sekali tantangan yang harus kami taklukkan. Saat toko ramai, gaji satu bulan bisa kami dapatkan dalam waktu beberapa jam. Rasanya senang sekali saat itu. Campur-campurlah rasanya. Trus, di usia 2 tahun ini kami juga sudah punya satu karyawan. Harapannya, dari satu ini bisa berkembang lebih banyak lagi seiring dengan perkembangan usaha.


Nah, semoga usia usaha kami yang masih hijau ini bisa berkembang secara signifikan dari waktu ke waktu, semakin dikenal, semakin banyak pasar yang diraih dan semakin menunjukkan kualitasnya. Dan semoga, anak kami pun semakin bertumbuh secara alami, menjadi anak yang membanggakan dan memuliakan semua orang. Amin.


Hm..ceritanya cukup sekian dulu ya, ada yang ban mobilnya bocor tuh, mau nambal ban tubeless dulu hehe..( karyawannya maksudnya, saya bagian kasir aja..). Dagh..lain kali disambung lagi ceritanya..semoga bermanfaat.

Saturday, August 13, 2011

Anakku Hiperaktif ?




Dari sejak bayi, saat usianya masih beberapa hari, anak saya termasuk tipe yang tidak bisa diam. Kaki dan tangannya selalu bergerak dan baru bisa diam saat matanya terpejam tidur. Awalnya, saya menganggap hal ini biasa namun lama kelamaan saya mulai merasakan adanya perbedaan sikap anak saya dengan anak-anak lain seusianya.

Dari berbagai sumber yang saya baca, Andro mempunyai ciri-ciri seperti anak yang hiperaktif. Saat usia 3 bulan, saat sudah bisa tengkurap, saya extra keras membolak balik badannya yang tak henti tengkurap untuk sekedar memasangkannya pampers. Saat ditelentangkan, dalam hitungan detik sudah balik tengkurap lagi. Dibalik lagi, sudah rubah posisi lagi. Sampai-sampai saya dan suami harus berkolaborasi untuk memegangnya supaya ritual memasang pampers bisa berjalan sukses dan lancar. Luar biasa..tenaganya besar sekali.

Saat usianya menginjak 7 bulan, sudah bisa merangkak, cepat sekali merangkaknya. Sampai saya sering kehilangan jejaknya berada dimana, ternyata sudah ada di bawah kolong tempat tidur atau pernah saat saya kebingungan mencarinya ternyata dia sudah berada di dapur dekat kompor dan tabung gas. Duh..

Lalu, ada cerita lagi saat dinaikkan baby walker, ternyata gerakannya lincah luar biasa. Gerak sana-sini sampai ngebut segala. Ya ampyun..sampai-sampai saya khawatir kalau baby walkernya terjungkal karena kelakuannya yang tidak bisa berhenti barang beberapa detik. Untung baby walkernya sengaja dipilih yang berbentuk kotak sehingga kemungkinan terjungkalnya kecil bila dibandingkan yang bentuk bundar. Sudah begitu, kami sebagai orang tua wajib melakukan pengawasan extra ketat mengingat kelakuannya yang lain dari biasa itu.

Semakin bertambah usia, sifat ingin tahu dan keaktifannya semakin bertambah. Andro sudah bisa berjalan saat usianya 11 bulan. Saat dia sudah bosan pakai baby walker ( saat usia 10 bulan ), alat itu didorong-dorongnya yang ternyata bisa menstimulus untuk cepat bisa berjalan.

Sejak bisa berjalan, otomatis daerah jelajahnya semakin luas. Perhatiannya juga mudah berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Apapun yang menarik hatinya, pasti akan dengan senang hati diikutinya. Mudah bosan, tidak fokus dan kesannya semau gue begitu. Kalau duduk, mana bisa betah duduk diam selama berjam-jam. Paling lama 5 menit, dia akan bangkit kemudian jalan-jalan tak tentu arah sehingga harus diikuti kemana saja perginya. Capek deeehhh...

Lain lagi ceritanya saat sudah bisa bicara, apa saja menjadi bahan pertanyaan. Kalau yang ditanya tidak bisa menjawab akan terus dikejar sampai memberikan jawaban yang cukup memuaskan. Gayanya ekspresif sekali. Saat dia ingin berlari, langsung berlari tak peduli itu jalan raya. Namun saat diberitahu bahwa harus hati-hati berjalan di jalan, dia akan menurut dan berjalan pelan-pelan di pinggir sekali. Saat ingin memanjat, langsung dia memanjat tanpa berpikir panjang. Meskipun sudah diingatkan untuk berhenti, dia tidak akan berhenti sebelum dia sendiri yang menghentikannya atau saat dialihkan perhatiannya dengan sesuatu yang menarik baru dia berhenti. Sebagai orang tua saya dituntut untuk kreatif dalam hal ini.

Soal hobby, Andro suka menyanyi. Saat usianya 1,5 tahun sudah hafal 30 lebih lagu anak-anak yang ditonton maupun yang didengarkannya dari CD lagu anak-anak. Kemampuan musiknya lebih menonjol bila dibandingkan dengan menggambar atau ketrampilan lainnya.

Saat diberi permainan pasang puzzle, dalam sekali diajari sudah langsung bisa memasang sendiri. Namun untuk mainan yang lain seperti mobil-mobilan kerapkali berubah bentuk atau rusak karena dibanting. Belum terlalu paham sebenarnya.

Tapi seringkali saya perhatikan, jika diberitahu baik-baik Andro akan mendengarkan dan fokus, matanya menatap mata saya. Tapi saat dikerasi, dia akan semakin berontak, protes, teriak-teriak dan menangis meraung-raung. Saat melihat CD lagu-lagu kesukaannya, dia bisa diam duduk dalam jangka waktu yang cukup lama. Dan saat diberitahu, sepertinya dia tetap sibuk dengan kegiatannya, tapi pada saat ditanya dia bisa menjawab dengan baik. Cukup membuat saya tenang, karena ternyata dia masih bisa fokus dan tidak cuek begitu saja seperti kebanyakan anak hiperaktif lainnya.

Dalam interaksi sosial dengan teman sebaya, Andro bisa bekerjasama tapi gampang sekali bosan. Temannya ada yang bawa bola, ikut-ikutan pegang bola, saat ada yang bawa mainan lain, ikut lagi. Tapi sejauh ini masih bisa diarahkan sehingga tidak mengarah ke sifat anarkhis seperti merebut mainan teman. Masih bisa diberi pengertian. Saat moodnya bagus tentunya. Saat bete, wah..jangan ditanya. Makanya saya selalu berusaha menjaga agar moodnya bagus selalu.

Sering saya salurkan kelebihan energinya dengan kegiatan naik sepeda, berenang, berlari kejar-kejaran di lapangan yang luas dan kegiatan olahraga lainnya. Karena saya sadar, selain menyehatkan, anak saya jadi tidak melakukan hal-hal lain yang di luar dugaan bisa membahayakan dirinya dan orang lain.

Saya mencoba menelaah apa penyebab dari sifatnya yang hiperaktif ini. Kemungkinan, dari sumber yang saya baca, bisa disebabkan dari proses melahirkan yang lama. Bisa jadi begitu, karena Andro lahir telat dari HPL dokter kurang lebih seminggu sehingga harus diinduksi supaya keluar dan saya mengalami kesulitan mengejan saat melahirkannya sehingga Andro lahir selamat secara normal setelah hampir satu setengah jam saya berjuang mengejan. Tepat di saat Dokter hampir memberikan keputusan Andro lahir secara di vacum atau caesar. Wah..dapat dibayangkan berapa biaya dan sakit yang sudah dirasakan jika akhirnya harus caesar. Untung akhirnya bisa lahir normal..

Kemungkinan lain, dari makanan. Menurut sumber yang saya baca, makanan saat hamil yang mengandung logam berat bisa mempengaruhi perkembangan otak anak. Bisa jadi begitu, karena saya suka makan ikan laut terutama saat hamil dulu. Kemungkinan ikan yang saya makan ada yang mengandung logam berat sehingga berpengaruh pada otaknya.

Memang harus extra sabar jika diberi titipan oleh Tuhan anak yang luar biasa ini. Luar biasa harus ditangani secara luar biasa juga. Yang penting, jika diarahkan dengan benar, anak hiperaktif bisa menjadi anak yang luar biasa cerdas di kemudian hari. Amin..semoga saya dan suami bisa mendidiknya dengan maksimal, semua yang terbaik untuknya..

Friday, August 12, 2011

Jawaban Jujur

Namanya anak-anak..selalu polos dan jujur. Termasuk Andro, buah hati tercintaku. Ceritanya begini, saat di sekolah bermainnya, Ibu Guru bertanya kegiatan anak-anak didiknya saat liburan sekolah.


Ibu Guru : Anak-anak pergi kemana saat liburan ?


Anak A : Ke Gembira loka, Bu..lihat binatang..


Anak B : Ke Kids Fun, Bu..banyak mainan..


Andro : Andro juga ke Jogja Bu Guru..sama papa mama..kulakan ban..


O..o..benar sekali nak. Hampir tiap bulan kita ke Jogja, mengantar papa mama kulakan untuk dagangan di toko ya. Memang belum sempat ke Gembiraloka lagi sejak kesana saat Andro masih 1,5 tahun dulu, juga belum ke Kids Fun. Nanti lah ya..kita cari waktu yang tepat untuk itu. Sementara ini, Andro naik andong dulu keliling Malioboro ya..

Friday, July 1, 2011

Puisi Bingung



Gambar dipinjam dari sini 


Ah..aku tak tahu..

Mulutku membisu..

Lidah kelu..

Yang ada hanya malu..


Ingin..

Terucap sesuatu dari bibir ini..

Meluncur cerita fiksi ataupun non fiksi..

Tapi..


Sekali lagi..

Mulut ini terkunci..

Hanya mampu bermimpi

Menjadi pemberani..


Minder..

Minggirlah..

Bukankah kamu sudah pergi ?

Sejak kapan datang kembali ?


Idih..

Monday, June 13, 2011

Happy Birthday, Ibu..

Gambar diambil dari sini



Hari ini ulang tahunmu. Memasuki usia manula, KTP pun sudah seumur hidup. Rentang waktu yang cukup panjang untuk pendewasaan diri. Setelah lelah membesarkan anak-anakmu termasuk aku, mungkin ini saatnya kau beristirahat. Menikmati hidup yang mungkin tinggal beberapa saat atau masih lama lagi. Terserah pada kehendak Tuhan.


Beberapa waktu ini kita sering berselisih paham. Tentang caramu mendidik anakku, yang juga cucumu. Kuanggap tak sesuai dengan standart didikan yang kudapatkan dari buku, majalah ataupun internet yang sering aku baca. Padahal, aku dulu kau didik sama seperti mendidik cucumu sekarang. Kenapa dulu aku tak pernah protes ?


Lalu, seringkali aku bersungut-sungut saat kau meminta uang untuk keperluan mandimu seperti sabun, shampoo dan lain sebagainya atau untuk sekedar jajan. Kuanggap seperti anak kecil yang suka jajan. Pemborosan. Padahal dulu, demi membesarkanku, kau rela bekerja sebagai pembantu menjadi tukang cuci, tukang masak atau baby sitter.

Saat usia merenta, saat fisikmu tak sekuat dulu lagi, kau mudah terjatuh sakit. Tak mampu lagi menafkahi diri sendiri sehingga harus berpindah dari satu anak ke anak yang lain. Seringkali aku menganggapmu sebagai beban yang harus aku tanggung. Menyudutkanmu dengan berbagai alasan bahwa kau bukanlah orang tua yang baik karena tidak mampu mempunyai rumah sendiri untuk ditinggali. Apalagi sepeninggal bapak, tak banyak yang mampu kau kerjakan. Tak mampu mengatur uang. Sehingga kadang aku malu karena aku tidak pernah punya rumah sendiri selalu mengontrak dari satu rumah ke rumah yang lain.


Ah..bagaimanapun kau adalah wanita yang pernah melahirkanku. Baik burukmu, kau tetap ibuku. Setidaknya aku bisa menjadi seperti sekarang karena pengorbananmu. Semestinya begitu pikiranku, tapi seringkali kelakuanku padamu seperti seorang anak yang durhaka kepadamu.


Tak jarang aku membentak saat tak setuju dengan pendapatmu. Menganggapmu kurang pengetahuan. Merasa bahwa aku paling pintar. Dan seringkali pura-pura aku tidak melihat kilatan di sudut matamu. Aku tetap merasa paling jumawa. Hatiku keras membatu bahkan ketika tanpa sengaja aku mendengar isak tangismu di malam hari.


Aku selalu bingung dengan sikapku. Selalu sulit untuk sekedar mengucap sebuah kata maaf. Maaf untuk apa ? Bukankah selama ini kita hanya berselisih paham ?


Sampai suatu waktu aku tersadar, tanpamu..aku tak akan pernah ada. Kebaikanmu selama ini tak mampu aku balas sebaik apapun aku padamu. Terlebih dengan sikap burukku selama ini. Apalagi, saat inipun aku telah menjadi orang tua. Apa jadinya jika suatu hari nanti anakku pun bersikap seperti aku bersikap kepadamu. Owh..tak mampu aku bayangkan, rasanya tinggal menunggu waktu saja.


Semestinya, aku tak perlu terlalu hitung menghitung. Harta benda yang aku punya, tidaklah aku bawa mati. Menjadi peninggalan untuk anak-anakku. Mestinya sekuat tenaga pula aku berkorban untukmu, layaknya pengorbananmu kala aku masih bayi hingga sekarang. Mestinya, aku tak perlu mendengarkan pendapat orang lain tentangmu. Luar dalam aku lebih mengenalmu daripada mereka. Keburukan yang terlihat, tak sebanyak kebaikan yang pernah aku terima. Semestinya aku menyerahkan semuanya kepada Tuhan, yang akan memberikan pembalasan setimpal akan perbuatanku kepadamu. Bagaimanapun, Tuhan telah memilihmu untuk menjadi malaikat penjagaku, seburuk apapun penilaianku kepadamu. Semestinya, akupun menyadari bahwa akupun bukan anak yang sempurna untukmu.


Ibu, maafkan aku..selamat ulang tahun untukmu. Semoga aku mampu menikmati waktu yang masih ada bersamamu. Sudah semestinya aku bersyukur karena masih memilikimu sebagai orang tuaku satu-satunya. Ini kesempatanku untuk membahagiakanmu..

Friday, February 18, 2011

Ada Apa Dengan Pantai Baron ?




Air laut berwarna coklat di Pantai Baron

Lama tidak berlibur ke pantai, tanggal 15 Februari 2011 kemarin, bertepatan dengan tanggal merah peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, saya beserta suami, anak dan saudara melakukan tamasya dadakan ke Pantai Baron. Tanpa rencana sebenarnya, dan hampir batal karena cuaca mendung yang mengindikasikan akan turun hujan menjadi kendala terbesar. Tapi berbekal niat karena anak saya, Andro yang berusia 3 tahun lebih 4 bulan belum pernah melihat pantai secara live ( langsung ) dan saya ingin dia mengenal apa itu pantai dan laut, mendung tidak jadi masalah. Toh ada lagu yang mengatakan bahwa mendung tak berarti hujan kan ? Lagu ciptaan Deddy Dores sepertinya.

Maka, jadilah kita berlima menuju ke Pantai Baron yang berjarak 20 km dari kota Wonosari, memakan waktu perjalanan kurang lebih setengah jam dari lokasi rumah saya yang kebetulan tinggal di Gunung Kidul, 7 km dari kota Wonosari. Pantai Baron terletak di Desa Kemadang, Kecamatan Tanjung Sari, Kabupaten Gunung Kidul. Mendung masih menggayut, tapi perjalanan tetap kami lalui. Sedikit penasaran juga ingin melihat bagaimana kondisi pantai Baron terkini setelah lebih dari 10 tahun saya tidak kesana. Dan bedanya, dulu saya kesana masih gadis, sekarang sudah punya suami dan anak. Menakjubkan.

Sampai di lokasi masuk di depan, kurang lebih 100 m dari pantai, tampak kondisi yang tidak beda jauh dengan 10 tahun yang lalu. Hanya warung-warung berjualan semakin penuh sesak dibandingkan dulu yang masih jarang-jarang. Angin semilir menyambut kedatangan kami. Masih mendung, menghadirkan nuansa romantis yang menyejukkan.

Kapal-kapal nelayan diparkir di bibir pantai. Banyak jumlahnya, mungkin belasan. Jumlah tepatnya berapa, maaf saya tidak ngitung hehe..Bisa dibilang, pantai Baron adalah pantai nelayan. Dimana sumber ikan laut banyak didapat disini. Bau amis khas ikan menusuk hidung. Perpaduan antara jijik bagi yang tidak suka ikan dan lapar bagi yang menyukainya. Ikan Tongkol, Bawal putih,Kakap, lobster menjadi kekayaan hasil laut Baron. Tersedia dalam keadaan segar atau siap saji di warung-warung makan lokasi ini. Menu andalannya, sop Kakap. Mak nyuss..


Kapal-kapal nelayan yang diparkir di bibir pantai Baron


Pasir di sepanjang bibir pantai menyambut kaki-kaki nan telanjang. Sengaja, sandal ditenteng hehe..Lembut terasa merasuk jiwa. Si kecil melompat-lompat tak sabar ingin melihat seperti apa itu pantai. Sesekali tangannya berontak dari pegangan, menginginkan kebebasan beralari-lari. Jadilah kejar-kejaran diiringi tawanya yang menggema. Lepas dan bebas.

Namun..ups..saya cukup terhenyak menyadari kenyataan air laut berwarna coklat yang biasanya bening dan kebiruan. Kok bisa ? Seumur hidup, baru kali ini saya melihat air laut berwarna coklat layaknya air kali nan keruh. Mencoba berpikir, mungkin karena musim hujan, sehingga air kali keruh yang masuk ke laut sedikit banyak membuat air laut ikut coklat. Mungkin juga, bisa jadi. Tapi sejak kapan ?

Apa boleh buat, terpaksa bermain ombak coklat dengan si kecil. Sungguh, sepuluh tahun yang lalu, terakhir saya kemari, air laut begitu bening sampai hewan-hewan kecil di dalam air kelihatan. Sekarang, boro-boro..mana kelihatan ?. Hanya beberapa ekor binatang kecil sejenis kepiting / yuyu dan jingking yang tampak berlarian di pasir. Banyak harapan, warna air coklat ini hanya sementara. Saat musim hujan saja.

Saat kegirangan membiarkan kaki-kaki basah oleh ombak yang bergulung, mata dibuat terbelalak saat ada sesuatu yang nyangkut di kaki. Aih..bungkus plastik, sandal dan materi-materi sampah berhamparan. Miris, menyadari kenyataan bahwa laut menjadi tempat sampah terluas. Jangan salahkan jika airnya berubah warna dan aroma.

Cuaca mendung menyembunyikan sang surya yang kembali ke peraduan. Harapan bisa menyaksikan sunset harus terkubur saat hujan tiba-tiba mengguyur tanpa permisi. Si kecil berlari-lari tertawa merasakan pertama kali hujan-hujanan. Bersama kami berlari menjauhi pantai dengan berlindung di atap-atap warung berharap tidak terlalu basah pakaian kami.

Akhirnya, wisata dadakan yang cukup singkat selama 30 menit harus kami sudahi. Hari mulai gelap dan hujan turun semakin deras. Sangat tidak nyaman jika tetap melanjutkan wisata. Hanya satu tujuan untuk kembali : pulang. Dengan sejuta rasa dan tanya. Kenapa dan ada apa dengan Pantai Baron. Jangan biarkan ini jadi misteri. Kembalikan keasrian pantai Baron yang dulu. Saya jadi penasaran, apakah nasib saudara-saudaranya seperti Pantai Kukup, Krakal dan Sundak tidak beda jauh dengan Pantai Baron. Mengalami perubahan warna dan aroma air. Plus menjadi tempat sampah terluas. Semoga tidak. Lain waktu, ingin saya buktikan.


Menatap Pantai Baron yang airnya berubah warna

Saturday, January 8, 2011

Es Cendol Kenangan

Gambar diambil dari sini



Nining mulai gelisah. Sedari tadi matanya tak lepas menatap ke ujung jalan sana, berharap ada sepeda hijau tua yang melaju ke arahnya. Rasa lapar, haus, kantuk dan capek berbaur jadi satu tertelan oleh perjalanan waktu yang cukup panjang. Harapannya timbul tenggelam menanti jemputan bapaknya. Sebenarnya ada keinginan didalam hatinya untuk pulang jalan kaki saja, tapi ada sedikit kekhawatiran bapaknya akan mencari-cari, lagipula jarak rumah yang sangat jauh dengan sekolahnya membuat Nining ragu-ragu untuk melangkahkan kakinya. Bisa satu jam waktu yang akan ditempuhnya nanti.


Sekolah Dasar Negeri tempat Nining menuntut ilmu sudah tampak lengang. Kelas-kelas sudah rapat terkunci dan pintu gerbang sudah tertutup selama hampir satu jam yang lalu. Tinggal Nining sendirian di depan pintu gerbang sekolah, tak jauh dari jalan raya nan hiruk pikuk oleh kendaraan yang berlalu lalang.


Seragam putih merahnya sudah tampak kotor. Pikirannya sibuk bertanya-tanya dan menerka. Bapak kemana ya ? Apa lupa ? Ketiduran barangkali ? Ah..tak ada akses apapun untuk bisa mengungkap kebenaran yang ada. Tak ada handphone, tak ada orang yang dikenal yang bisa memberinya sedikit info. Sempurna sudah penantian panjang Nining.


“Belum pulang, Nduk ?”Nining menoleh ke arah suara.


Oh..bapak tua penjual es cendol pikulan. Senyum bapak itu membuat Nining sedikit lega. Bapak tua itu biasa mangkal disini melayani pembeli. Nining menggeleng sambil tersenyum. Bapak itu sudah paham jika Nining sedang menunggu jemputan. Kemarin, bapak tepat menjemput Nining saat bapak penjual es baru sampai di tempat ini.



Nining menelan ludah, menahan rasa hausnya. Terbayang betapa segarnya segelas es cendol membasahi kerongkongannya. Ah..andai ada sekeping uang logam saja untuk ditukar dengan segelas es cendol. Nining merogoh saku baju seragamnya. Seperti dugaannya, tak ada sekeping uang logam pun disitu. Nining tertawa diam-diam, sejak kapan ada uang saku disitu. Hanya keajaiban jika ditemukan uang di sakunya. Bukankah selama ini Nining selalu akrab dengan puasa dan uang saku merupakan kemewahan bagi Nining ? Mewah karena Nining hanya bisa merasakan uang saat diberi oleh Tantenya yang datang dari Jakarta, atau saat Nining mendapat upah dari berjaga bola di lapangan tenis sebagai kacung. Itupun tidak semuanya dirasakan Nining untuk bisa sekedar jajan, sebagian uangnya akan diberikan kepada ibunya sebagai tambahan uang belanja untuk makan sehari-hari.


Kemiskinan. Ya, Nining sudah cukup paham apa arti dari miskin. Tadi Bu guru menjelaskan tentang penduduk Indonesia yang masih 30% berada di bawah garis kemiskinan. Itu pasti termasuk keluarga Nining. Jika melihat ke bawah, Nining masih bersyukur bisa mengenyam sekolah. Begitu banyak teman-teman sekampungnya yang mencari nafkah di jalanan, tidak bisa sekolah. Beruntung, kedua orang tuanya berpikiran sedikit lebih maju yang menganggap pendidikan sebagai prioritas utama. Sekalipun sehari hanya bisa makan satu kali dengan nasi dan garam, itu jauh lebih baik daripada membiarkan anak-anaknya mengemis di jalanan. Ibunya yang seorang buruh cuci di sebuah kost-kostan orang kaya dan bapaknya yang seorang petugas keamanan sebuah pabrik tekstil kecil, harus berjuang keras menghidupi kelima anaknya yang masih sekolah semua.


Itulah mengapa Nining hampir tidak pernah merasakan bagaimana rasanya punya uang saku. Dia hanya bisa terdiam di pojokan sekolah saat teman-temannya berlarian menuju kantin sekolah. Atau sesekali ada temannya yang berbaik hati mentraktir, tapi Nining selalu tidak enak hati hingga sering menolaknya secara halus. Bagaimanapun, Nining tidak ingin menggantungkan diri kepada orang lain atau memanfaatkan keadaan. Lebih baik bagi Nining untuk menahan rasa laparnya daripada harus mengorbankan perasaannya. Nining merasa belum mampu untuk gantian mentraktir sekalipun teman-temannya tulus memberikan itu. Nining selalu merasa harga dirinya dipertaruhkan. Sekalipun miskin, Nining tidak ingin jika di kemudian hari dirinya menjadi bahan ejekan hanya karena tidak punya uang.

“Mau es cendol, Nduk ?”, bapak tua menatap Nining iba.


Lekas-lekas Nining menggelengkan kepalanya. Nining tidak berani bilang tidak punya uang. Padahal sungguh, Nining sangat ingin bisa merasakan segarnya es cendol bapak tua. Ah..terpaksa Nining harus mengenal kebohongan. Gelengan kepalanya sangat bertentangan dengan keinginan hati dan mulutnya. Dan berkali-kali Nining harus menelan ludahnya yang tersisa. Betapa rasa dahaganya sangat menyiksa.


Beberapa pembeli mulai menyerbu es cendol bapak tua. Nining menduga, pasti es cendol ini sangat enak, terbukti pembelinya selalu rela berdesak-desakan. Mungkin dalam hitungan beberapa jam sudah habis. Apalagi cuaca yang cukup panas membuat dagangan pak tua selalu laris manis. Harganya juga murah, hanya seribu rupiah per gelasnya. Ironis, karena walaupun hanya seribu, Nining tidak mampu membelinya. Saat ini, Nining hanya ingin bapaknya segera datang menjemputnya, membawanya pulang dan segera melupakan keinginannya untuk minum es cendol yang sangat menggoda ini.


Nining sampai terkantuk-kantuk menunggu jemputan yang tak kunjung tiba. Disandarkannya tubuhnya di tembok pagar sekolah. Duduk beralaskan koran yang ditemukannnya di pinggir jalan. Entah berapa lama Nining tertidur saat mendengar suara bapak tua.


“Nduk..minumlah..kamu pasti haus..”


Nining tergagap sekaligus ternganga melihat bapak tua mengulurkan segelas es cendol ke arahnya. Nining hampir menggeleng ketika pak Tua segera menukasnya.


“Tidak usah bayar, gratis..”


“Tapi pak..”


“Sudahlah..bapak ikhlas kok..bapak inget sama cucu bapak..”


Ragu-ragu Nining menerima uluran tangan bapak tua.


“Terima kasih banyak pak, Tuhan akan membalas kebaikan Bapak..”


Mata Nining berkaca-kaca terharu. Tuhan mengabulkan keinginan Nining untuk bisa merasakan es cendol melalui ketulusan hati bapak tua. Dalam hati Nining berjanji untuk bisa membalas kebaikannya suatu hari nanti. Ditandaskannya segelas es cendol dalam beberapa teguk hingga tetes terakhir. Rasa dahaganya terpuaskan sudah. Bapak tua tersenyum bahagia, sebahagia hati Nining kini.

“Nduk, bapak pulang dulu ya..sudah habis dagangan bapak..”


“Hati-hati, ya Pak..terima kasih..salam untuk keluarga bapak..”


Pak tua mengangguk. Pikulannya sudah terasa ringan. Senyumnya terkembang. Nining mengikuti langkah pak tua dengan pandangan matanya. Betapa semangat bapak tua begitu besar. Di usianya yang cukup renta, mampu berjalan kaki membawa dagangannya dengan dipikul. Tak berapa lama, muncul dari kejauhan sepeda hijau tua bapak. Nining hampir menangis karena menunggu terlalu lama. Bapak mengusap kepala Nining pelan.


“Maafkan bapak..tadi ban sepedanya bocor, ditambal dulu..”

Nining mengangguk. Hilang sudah semua kesalnya. Segera Nining membonceng dan sepeda hijau tua itu bergerak pelan membelah keramaian jalan. Sekitar 500 m dari sekolah Nining, ada keramaian yang tidak biasa. Banyak orang berkerumun dan kendaraan banyak yang berhenti yang mengakibatkan kemacetan. Nining dan bapak bertanya-tanya ada apa. Tak jauh dari pandangan Nining, ada pecahan tanah liat dan kaca-kaca. Selain itu, Nining sangat mengenal sebuah pikulan yang tampak teronggok di pinggir jalan dengan keadaan yang sudah rusak. Deg..seketika Nining teringat bapak tua penjual es cendol. Bapak..ah..bahkan untuk menyebut namanya saja Nining tidak tahu. Baru disadarinya betapa tololnya tidak menanyakan siapa nama bapak tua itu.


“Ada apa pak ?”


“Ada kecelakaan pak, sebuah truk menabrak tukang es yang sedang menyeberang..”


Seketika Nining merasa lemas. Terbayang betapa ketulusan bapak tua saat memberinya minuman. Tuhan memanggilnya begitu cepat sebelum Nining sempat untuk membalas kebaikannya. Bahkan dengan cara yang tidak diduga. Sebuah kecelakaan. Beristirahatlah dalam ketenangan Bapak Tua..

Saturday, December 4, 2010

Praaakkkk....!!!

Aku selalu tahu hitam putih tentangmu. Tahu pula bagaimana situasi hatimu setiap hari. Saat kamu tertawa, tersenyum atau menangis sendiri. Atau saat tiba-tiba kamu berteriak seolah-olah sedang memaki diriku. Ekspresimu selalu keluar tanpa pura-pura. Emosi yang natural, aku suka.

Seperti pagi ini, kamu membuka matamu pelan-pelan, menggeliat, melirik ke jam dinding. Olala..telat !! Bergegas kamu beranjak dari ranjang tidurmu dan menyempatkan dirimu menengokku sebentar. Ada kotoran di sudut matamu, rambut acak-acakan dan kamu menguap pula. Wah..aku tahu persis aroma nafas dan tubuhmu di pagi hari. Kamu sambar handuk di sudut kamar, yang bertengger di tiang jemuran kecil kemudian masuk ke kamar mandi. Aktivitas mandi kilat ala bebek segera dimulai.

Benar saja, di menit kelima, kamu sudah keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit tubuhmu. Amboi..betapa menggairahkannya dirimu dengan keadaan seperti itu. Lalu saat yang kutunggu datang, saat kau taruh handuk di jemuran, tubuhmu polos tanpa sehelai benang pun. Sekilas kamu mematut dirimu di hadapanku. Andai aku bisa bernafas, pasti aku akan memilih menahan nafasku barang sebentar. Kamu memang nyaris sempurna.

Lalu dengan tergesa kamu pakai baju favoritmu, celana jeans dan t-shirt ketat yang pas membalut tubuhmu. Wajahmu disapu dengan bedak bayi, dan sedikit lipstik warna peach teroles di bibirmu nan ranum. Jujur, hari ini kamu cantik luar biasa. Aku yakin semua lelaki di dunia ini akan sepakat dengan pendapatku ini.

Sekali lagi, kamu mematut penampilanmu di hadapanku. Memastikan tak ada lagi yang perlu dibenahi. Kamu tersenyum puas. Lalu sosokmu menghilang setelah bunyi pintu ditutup. Kembali aku sendiri dalam kesunyian di kamar kost-mu ini, menanti dirimu pulang seperti hari-hari kemarin.

***

Aku terkejut saat kamu datang dengan wajah yang kesal. Seorang lelaki membuntuti langkahmu dan ikut masuk ke kamar. Ah..ya..itu kekasihmu kan ? Laki-laki yang paling sering datang ke kamar kost-mu ini. Biasanya, kamu akan tertawa manja saat ada kekasihmu. Tapi kali ini tidak ada tawa. Laki-laki itu juga tampak begitu marah. Sepertinya kalian sedang bertengkar. Pertengkaran pertama yang aku lihat di kamar ini. Atau mungkin pertengkaran yang kesekian kali dengan setting di tempat lain ? Entahlah..aku tidak tahu.

Kamu beradu mulut dengan lelaki itu, yang aku belum begitu paham kemana arah pembicaraannya. Kamu teriak, lelaki itu balas berteriak seolah tidak peduli teman-teman kost yang lain akan mendengar. Sepertinya akan begitu heboh. Biasanya, aku melihatmu beradu mulut tanpa suara dengan kekasihmu, saling memberikan kehangatan. Kurasa hati kalian saat ini sedang berjarak sehingga perlu berteriak tidak seperti saat hati kalian dekat, cukup hanya dengan bisik-bisik manja.

Matamu berlinang air mata, sambil sesekali terisak..

“Abang jahat...,” ucapmu lirih diantara isakmu. Ada nada kepedihan yang dalam. Lelaki yang kamu puja selama ini telah menyakiti hatimu.

“Sudah aku bilang, aku tidak suka kamu pergi dengan laki-laki itu !”

“Abang tahu kan, dia teman kuliahku. Aku sedang bikin tugas dengannya. Harus berapa kali aku bilang, bang ?"

“Pokoknya aku tidak mau tahu apapun alasannya. Kamu tidak boleh pergi dengan laki-laki manapun tanpa seijinku !”

“Bukankah aku selalu memegang kepercayaan abang. Kejujuran seperti apalagi yang abang inginkan. Jangan cemburu buta, bang..”

“Kamu membantah saja. Apa perlu aku memukul kamu ?”

Kamu terperangah. Tidak menyangka kekasih yang kamu cintai tega berkata seperti itu. Sejenak keberanian bangkit dalam dirimu.

“Pukul, bang..ayo pukul aku untuk menunjukkan kejantananmu. Tak kusangka kamu tega berbuat senista itu. Semakin jelas bagiku abang siapa !”

Mata kekasihmu sangat merah. Tangannya sudah siap melayang ke arah wajahmu tapi kemudian berbalik ke arahku dan....”Prrraaaakkkk....” dalam sekejap tubuhku hancur berkeping-keping. Beberapa pecahan tubuhku menancap di tangan kekasihmu. Darah mengucur dari tangan kekasihmu.

Kamu tak percaya melihat serpihan-serpihan tubuhku. Antara bingung, kamu menatap kekasihmu dan merasa kehilangan atas hancurnya diriku. Sebelas tahun aku menemanimu berakhir sia-sia tanpa makna. Sebentar lagi aku akan terganti dengan yang lain. Tak kan mampu lagi aku melihat sosok indahmu. Benar katamu, kekasihmu jahat !

Pertanyaannya :

Siapakah aku ? Huehehe... ( iseng.com )

Tuesday, November 2, 2010

Balita Mengenal Kambing Hitam ?

Gambar dipinjam dari sini


Semalam anak saya, Andro mengompol. Untuk yang kesekian kali sejak setahun yang lalu tidak memakai pampers. Jarang-jarang mengompol sebenarnya, tapi beberapa minggu ini cukup sering dibandingkan biasanya. Mungkin akibat cuaca yang dingin ditambah hujan yang turun akhir-akhir ini, atau saya yang kadang lalai mengantarkannya ke kamar mandi saat dia terbangun di malam hari diantara kantuknya. Memang semalam Andro tidak terbangun seperti biasanya, tidur pun cukup nyenyak jadi saya tidak tega membangunkannya untuk sekedar pipis di kamar mandi, toh sebelumnya sudah pipis dulu sebelum tidur.

Tahu-tahu menjelang dini hari Andro terbangun sambil bilang,” Ganti celana..ganti celana..”

Ups..benar saja celana, baju dan kasur sudah bersimbah pipis yang baunya khas itu. Dengan mata yang enggan melek, segera saya bawa ke kamar mandi, ganti celananya setelah saya lap badannya dengan air bersih. Setelah itu..dua-duanya tertidur pulas kembali.

Saat bangun tidur, saya tanya kepada Andro,”Siapa yang ngompol semalam ?”

Andro menjawab dengan keras,”Idot...!”

Saya sudah menduga, akhir-akhir ini Andro selalu memakai nama Idot untuk keperluan tertentu. Setahu saya, tidak ada nama temannya yang bernama Idot.

“Siapa Idot ?”, tanya saya untuk yang kesekian kali.

Andro tidak menjawab. Wajahnya menatap saya ragu-ragu. Belakangan saya tahu, Andro selalu memakai nama Idot saat dia mengompol dan untuk hal-hal yang kurang baik lainnya.

Saat saya tanya :

“Siapa yang nakal ?” jawabnya :”Idot...”

“Siapa yang malas ?” jawabnya : Idot...”

“Siapa yang jelek ?” jawabnya : Idot....”

“Siapa yang ngeyel ? Jawabnya : “Idot..”


Tapi saat saya tanya :

“Siapa yang pintar ?” jawabnya :”Andro..”

“Siapa yang rajin ?” jawabnya : “Andro..”

“Siapa yang ganteng ?” jawabnya : “Andro..”

“Siapa yang baik ?” jawabnya :”Andro..”

Hm..saya geleng-geleng kepala. Siapa yang ngajarin ya ? Idot adalah nama khayalan sekaligus kambing hitamnya untuk yang jelek-jelek. Asumsi saya, dengan memakai nama Idot, Andro tidak akan kena marah. Saya jadi ingat, waktu kecil dulu juga punya tokoh khayalan si baik dan si jahat dalam diri saya. Kedua tokoh itu laksana si kembar yang berbeda karakter. Saya menamainya Lili untuk yang baik dan Popo untuk si jahat. Saya bermain sandiwara sendiri memerankan tokoh si Lili dan si Popo yang sedang bercakap-cakap. Aneh ? Mungkin..tapi saya rasa itulah cikal bakal imajinasi saya berkembang hingga sekarang.

Saya cukup senang di usianya yang ke-3 tahun ini Andro sudah bisa membedakan yang baik dan yang buruk secara sederhana. Tapi saya tidak ingin, Idot selalu menjadi kambing hitam dan obyek tertuduh atas segala perbuatan buruknya. Saya ingin Andro mengakui secara jujur perbuatannya baik buruk atau baik. Istilahnya jangan sampai lempar batu sembunyi tangan dan berbohong. Bisa bahaya...

Memang tidak mudah untuk menjelaskannya secara panjang lebar kepadanya yang masih kecil, tapi saya mencobanya pelan-pelan. Bahwa setiap perbuatan itu ada sebab akibat, resiko dan tanggung jawab. Kalau berbuat salah, coba untuk diperbaiki. Oh my God..baru saya sadari ternyata menjadi orang tua itu sangat tidak mudah.

Kali lain, saya ngetes Andro lagi dengan pertanyaan..

“Siapa yang ngompol ?

“Andro...”

“Bagus..mau mengaku..Idot kemana ?”

“Lagi di Yogya..”

“Andro dan Idot itu sama nggak ?”

“Sama..”

Ya Tuhan..betapa bahagianya saya, Engkau titipkan seorang anak yang sangat lucu ini..


Sunday, October 10, 2010

Misteri Angka 10-10-10


It’s mean 10 Oktober 2010. Ya, di tanggal ini ada makna khusus bagi banyak orang. Bayangkan, perlu menunggu waktu yang lama, paling tidak satu abad untuk bisa menyatukan tiga angka istimewa itu menjadi satu. Seperti saat tanggal 7 Juli 1997, yang disingkat menjadi 07-07-07, angka 10-10-10 juga laris manis dipilih sebagai hari istimewa melepas masa lajang. Lihat saja, gedung-gedung resepsi atau hotel-hotel sudah habis di-booking oleh para calon pengantin yang memilih tanggal ini sebagai hari istimewa mereka. Perlu waktu beberapa bulan bahkan mungkin setahun sebelumnya untuk bisa menjadi pemenang atas beberapa jam menempati gedung itu di pesta resepsinya. Tak masalah walaupun harus bayar beberapa kali lipat lebih mahal. Maklum, banyak yang minat sih..

Banyak harapan, dengan memilih angka 10-10-10 sebagai hari pernikahan akan terjadi keseimbangan, kesempurnaan ataupun kelanggengan yang mengikuti dalam biduk rumah tangganya kelak. Sejuta harapan, sejuta impian berawal dari sebuah sugesti angka. Bisa benar atau tidak tergantung dari niat menjalaninya.

Lain soal, saya akan mengajak Anda semua untuk bermain-main dengan angka 10 ini. Siapa diantara kita yang tidak suka mendapat nilai 10 dalam mata pelajaran saat duduk di bangku sekolah dulu ? Hampir pasti tidak ada yang menolak angka super ini sebagai nilai tertinggi, terkecuali ada aturan nilai 100 sebagai angka maksimal. Tapi kan angka dasarnya adalah 10, terserah nanti kalau mau dijadikan kelipatan berapa. Semua mendamba angka 10 dapat diraih sebagai lambang kesempurnaan.

Kemudian, saya setuju jika angka 10-10-10 ini bisa membuat saya berbahagia. Apa pasal ? Karena, kebetulan anak semata wayang saya, Andro merayakan ulang tahunnya yang ketiga di tanggal ini. Sebenarnya, tanpa lahir di tanggal inipun, Andro tetap istimewa bagi saya. Tapi suatu kebetulan ini, memberi saya semangat bahwa apa yang telah dikaruniakan Tuhan kepada saya sekeluarga adalah anugerah yang tak terbantahkan. Adalah keharusan bagi saya untuk selalu mensyukurinya. Mempunyai anak yang sehat, cerdas, berbudi pekerti yang baik adalah harapan setiap orang tua .

Dan , di tanggal ini pula genap setahun usaha saya dan suami berjualan ban dan onderdil mobil . Belum apa-apa, masih panjang perjalanan yang harus kami lalui. Masih banyak yang harus dipelajari dan berbenah di sana sini. Masih jauh dari sempurna, tapi kami mensyukurinya. Angka sepuluh adalah harapan dan mimpi, tapi kami tidak ngoyo untuk bisa mencapainya. Biarlah perjalanan waktu dan proses yang bisa mendewasakan kami semua. Kalaupun jika akhirnya angka 10 hanya menjadi bayang-bayang saja, ya nggak masalah, wong nggak ada manusia yang sempurna kok. Anggap saja, angka sepuluh adalah angka cantik yang menjadi motivator untuk berbuat lebih baik lagi dari yang sudah-sudah. Bukan untuk mendewakan, mengkultuskan kemudian menjadikan sesuatu yang harus..nggak..sekedar lucu-lucuan saja, daripada nggak ada omongan. Ya toh..