Pages

Wednesday, October 10, 2012

Bukan Balita Lagi



Hari ini, status balita kau tanggalkan, nak..Welcome di dunia anak-anak yang penuh dengan keceriaan. Tepat 5 tahun usiamu kini. Tak terasa begitu cepat waktu berjalan.

Sepertinya baru kemarin, saat mama dan papamu berpelukan bahagia saat mendapati dua strip di test pack untuk tes kehamilan. Betapa kasih Tuhan begitu luar biasa menghadiahkan kehadiranmu dalam keluarga kita, nak..Masa-masa sulit kehamilan, dimana flek pernah mama alami di usia kandungan 3 bulan, seolah terlewat dengan tawa bahagia kelahiranmu ke dunia.

Anak lanang, boy..kau sandang kini. Bukan bayi, batita atau balita lagi. Di pundakmu telah banyak tanggung jawab yang harus kau pikul, seiring dengan keceriaan duniamu saat ini. Dunia sekolah, dimana kamu banyak belajar dan selalu ingin tahu. Dunia anak yang polos, ceria dan spontan juga harus kau nikmati dengan penuh kebahagiaan. Apapun itu, akan semaksimal kami lakukan untukmu, sayang..demi tumbuh kembangmu yang terbaik. Mungkin tidak dengan materi semata, namun kasih dan sayang kami lebih dari yang kau ketahui.

Ah, ya..di ultahmu yang kelima ini, bertepatan pula dengan tiga tahun usaha Wiyono Putro Autoshop. Tepat tiga tahun orangtuamu berjualan ban dan onderdil mobil. Beberapa hari menjelang ulang tahunmu, ada sebuah kejutan yang menggembirakan. Di depan toko ban orang tuamu, ada mobil angkutan ayam potong tiba-tiba lepas bannya. Berhenti di jalan tepat depan toko. Pemilik mobil turun dan memperbaiki. Ternyata dongkraknya kurang kuat, lalu mereka berupaya mendongkrak dengan batu besar sebagai ganjal. Mereka tidak meminta pertolongan kami atau siapapun. Lalu papa berinisiatif menyuruh karyawan untuk membantu dengan dongkrak toko. Lalu beres semuanya. Kami tak berharap imbalan apapun bahkan uang jasa pun tidak kami minta. Karena kami memang murni menolong orang kesusahan. Tak disangka, pemilik mobil mengambil satu ayam dan menyerahkan kepada kami sambil berucap terima kasih. Sungguh tak menyangka. Rejeki selalu datang tanpa diduga. Jadi, ayam itu disembelih sebagai lauk menemani nasi kuning yang dimasak ibu khusus di hari ultahmu kan, nak..surprise yang menggembirakan.

Masih lekat dalam ingatan, perkembanganmu dari masa ke masa sayang. Senyum pertamamu, saat usiamu 3 minggu. Betapa bahagianya mama melihat senyummu yang amat manis. Kamu mulai bisa diajak bercanda, dan tawamu selalu menggemaskan. Polah tingkahmu begitu reaktif. Lalu kau mulai tengkurap saat tiga bulan. Usia lima bulan, kau mengebut di kendaraan pertamamu, baby walker. Senyummu tak henti-henti sambil menjerit kesenangan. Ah..betapa lucunya. Tau nggak, baby walker itu jadi alasan mama untuk bisa berlama-lama menyuapimu karena saat digendong, tingkahmu tak pernah bisa berhenti saat disuapi. Pernah makanannya tumplek blek kena tanganmu yang tidak bisa diam saat digendong. Jadi, selain untuk melatih kaki-kakimu dan merangsangmu supaya bisa lekas duduk, baby walker membuatmu agak kalem makan karena perhatianmu full dengan mainan. Tentunya sambil kaki mama menahan baby walker itu supaya kamu tidak ngebut sana sini saat makan.

Olala..mama terkejut saat usiamu menjelang 6 bulan, kamu sudah bisa duduk sendiri tanpa menumpu. Betapa menyenangkannya. Mama selalu membaca buku-buku tentang perkembangan bayi dari masa ke masa dan mama selalu menghubungkannya dengan perkembanganmu, sayang..apakah semuanya baik-baik saja, apakah normal, apakah ada yang janggal, mama selalu memantau supaya tidak kecolongan. Imunisasi pun selalu diberikan sesuai perkembangan umur tepat waktu.

Saat usia 7 bulan, kamu begitu lincah merangkak. Bahkan mama pernah kehilanganmu, mencari-cari ternyata kamu sudah berada dekat kompor gas di dapur. Waduh..cepat sekali merangkaknya. Pembawaanmu riang, tak pernah bisa diam. Selalu tertawa dan membahagiakan. Kamu juga jarang sakit. Paling pilek atau batuk dan panas. Tapi bersyukur, sejauh ini kamu selalu sehat dan kalaupun sakit selalu cepat sembuhnya. Ah..semoga itu berlanjut hingga kamu dewasa, ya nak..

Usia sebelas bulan, kamu sudah bisa berjalan. Tiga langkah pertamamu, kamu berteriak kegirangan sambil tertawa. Kamu terjatuh, namun bangkit lagi. Selalu dan selalu begitu hingga akhirnya kamu lancar berjalan. Kamu tipe pantang menyerah, nak..mama suka.

Usia 1,5 tahun kamu sudah lancar berjalan dan berlari. Mulai senang bicara dan menyanyi. Semua lagu anak mulai kau hafal. Ada beberapa yang belum jelas pengucapannya..lucu selalu..

Saat usiamu dua tahun, tepat di hari ulang tahunmu, kamu ditanggap semua keluarga besar dari kakung dan uti sayang. Hampir dua puluh lagu anak-anak kau nyanyikan secara medley. Aih..menyenangkan. Semua tertawa, gembira dan bahagia. Kamu memang pandai membawakan suasana, nak..

Tiga tahun, kamu mulai belajar naik sepeda. Masih yang roda empat. Pelan namun pasti. Kamu menyukainya. Mulai masuk sekolah PAUD. Mulai memahami apa arti belajar.

Usia empat tahun lebih 2 bulan, kamu mulai bisa naik sepeda roda dua. ah..nggak nyangka, secepat itu kamu bisa melakukannya. Padahal awal-awal dua roda pembantunya dilepas, kamu tampak masih kagok dan belum seimbang. Seringkali terjatuh dan agak takut. Namun kami menguatkannya, dan ternyata di hari ketiga belajar, kamu sudah berhasil menaikinya dengan lancar. Jatuh beberapa kali, kau terbangun lagi pantang mundur. Hebat. Mama bangga dengan jiwa pantang menyerahmu.

Lalu, di hari ini..tepat lima tahun usiamu. Setelah masuk TK kecil, kamu bertumbuh dengan segala cinta. Ya, kami sangat menyayangi dan mencintaimu, nak..apapun yang menjadi segala cita dan cintamu akan kami dukung sepenuh hati, semaksimal kemampuan orang tuamu. Kami selalu berharap, Tuhan memberikan berkat dan rahmat yang senantiasa menjadikanmu anak yang baik, taat pada Tuhan dan orang tua, bertanggung jawab, rajin, mengerti segala tugas dan kewajiban. Menjadi anak yang mempunyai sikap dan prinsip yang bisa dipertanggung jawabkan. Menjadi anak yang tahu etika, estetika dan logika. Semuanya..demi masa depan yang lebih baik dari sekarang.

Akhirnya, dengan penuh cinta kami ucapkan selamat ulang tahun, Andro sayang..semoga panjang umur and yang terbaik untukmu selalu..

Saturday, October 6, 2012

Geliat Ibu-Ibu Di TK Theresia Gunung Kidul


Sejak Andro, anak saya masuk TK kecil, kegiatan baru dimulai. Mulai dari bangun pagi, ke tukang sayur, memasak sarapan, memandikan anak sampai berbagi tugas dengan suami untuk menyiapkan seragam dan menyuapi si kecil saat saya mandi. Semuanya serba cepat dan harus tepat waktu. Maklum, jarak rumah dan sekolah cukup jauh, jadi saya harus memprediksi berapa menit harus berangkat sehingga sampai sekolah tidak terlambat.

Sampai sekolah, di ruang tunggu biasanya sudah berkumpul para ibu muda yang mengantar jemput anaknya. Ada yang mengantar langsung pulang seperti saya, ada yang mengantar hingga menunggu di ruang tunggu sampai tiba waktunya anak pulang. Biasanya kami saling bertegur sapa dengan memakai predikat nama anaknya, seperti saya dipanggil mama Andro, kemudian saya memanggil dengan nama anaknya masing-masing seperti mama Tita, mama Jalu, mama Metta, mama Brian, dan lain-lain. Jarang yang menyebut nama asli dari para ibu ini, bahkan seringkali nama aslinya tidak tahu, lebih ngetop nama anaknya. Hehehe..

Dari kumpulan para ibu ini, saya jadi sering dapat banyak info terutama dari ibu-ibu yang menunggui anaknya. Seperti misalnya anak saya pulang lebih cepat dari jadwal saat ada kegiatan extrakurikuler, tak jarang mereka mengirim sms atau telepon bahwa anak saya sudah waktunya dijemput. Kemudian, tiap hari jumat ada kegiatan arisan dari ibu-ibu ini plus iuran sosek untuk dana yang dikeluarkan jika sewaktu-waktu ada ibu-ibu yang sakit atau kena musibah sehingga perlu ditengok. Kegiatan baru ini terasa begitu menyenangkan. Mendapat teman baru dan hal-hal baru yang mengasyikkan seperti kemarin ada acara lutisan di ruang tunggu. Yang mencengangkan adalah inisiatif dari beberapa ibu yang rela membawa cobek dan membuat sambal di sana. Ada yang sukarela membawa mangga, belimbing, bengkuang, timun yang beberapa adalah hasil dari kebun sendiri. Ada juga yang membawa rempeyek dan makanan lainnya. Seru..saya ikut menikmati hehe..

Ternyata oh ternyata, para ibu-ibu ini sebagian besar fesbukers lho..kami saling add akun masing-masing dan lucu-lucuan saat komentar di status masing-maing. Termasuk aksi lutisan ini akan di upload di facebook. Hihi..lucu ya..

Lalu, karena tiap hari kamis dari sekolah ada acara makan-makan untuk anak-anak sekolah yang dananya disubsidi dari sekolah, namun yang menyiapkan orang tua murid, maka semakin terjalin keakraban diantara para ibu-ibu ini. Apalagi yang satu kelompok menyiapkan makanan. Ada yang memasak bareng-bareng. Ada yang pesan sesuai dengan menu yang telah ditentukan pihak sekolah. Kelompok saya kebagian jatah menyiapkan menu bakso dan buah di bulan September ini. Satu kelompok lima orang. Sebulan sebelumnya, kami sudah rapat bakso haha..istilah yang kami gunakan untuk merembug hal ini. Komitmennya, kami akan pesan di warung bakso yang cukup ternama, kemudian dananya menyesuaikan, jika kurang ya kami tomboki bareng-bareng, trus jika makanannya sisa ya kami bagi bareng-bareng. Hehe..sedap..

Banyak suka dan duka yang telah kami lalui. Tapi lebih sering banyak sukanya. Saling bertukar info, mengunjungi orang sakit dan saling curhat perihal anak sampai suami masing-masing. Seru..gerrr...kalau ada cerita yang lucu. Misalnya cerita tentang sifat suami masing-masing. Ada yang bangga cerita kalau suaminya tipe romantis, yang sehari bisa sms istrinya berkali-kali padahal nanti ketemu juga di rumah, ada yang suaminya tipe cool, dari jaman pacaran sampai sekarang jadi suami nggak pernah bilang I love you. Hahahaha..ada-ada saja. Untung suami saya sedang-sedang saja. Walaupun pendiam, tapi pernah bilang I love you hihi..

Yah..ini dunia baru bagi saya. Dunia yang penuh warna. Dunia yang apa adanya dan tetap harus ceria walau sekarang posisi saya adalah orang tua. Yang punya tugas mendidik anak sekuat tenaga, memberikan yang terbaik untuknya. Istilahnya, walaupun sudah jadi orangtua, urusan gaul tetep..cuma ya beda seperti saat masih gadis dulu. Sekarang prioritas utama adalah keluarga, bergaul hanya sampingan itupun dilakukan denga waktu seefisien mungkin. Kalau saat masih gadis, bergaul punya peran lebih besar untuk mencari teman dan syukur-syukur dapat jodoh pendamping hidup membina keluarga hehe..


Wednesday, September 26, 2012

Hindari Stress Mental Pada Anak


Tidak seperti biasanya, pagi ini Andro ngadat nggak mau masuk sekolah. Alasannya macam-macam, katanya masuk anginlah, padahal saya yakin Andro baik-baik saja. Mau belajar di rumahlah, yang biasanya mesti disuruh-suruh. Saya heran, tidak biasanya Andro yang semangat setiap mendengar kata sekolah tiba-tiba mlempem begini. Saya bingung, bagaimana cara membujuknya. Mungkin ini akibat dari libur panjang saat lebaran kemarin. Seminggu lebih cukup untuk bersantai-santai bila dibandingkan harus bangun pagi, mandi saat mengantuk dan pergi ke sekolah.

“Ayo, Andro mandi, sudah saatnya masuk sekolah, liburannya sudah selesai..”

Kata saya saat Andro sudah dibangunkan. Membangunkannya pun penuh perjuangan. Lama meleknya, keliatan masih ngantuk sekali.

“Andro masuk angin, ma..capek..”

Saya raba keningnya. Biasa saja, tidak panas yang mengindikasikan kalau dia sakit. Kemarin, Andro liburan ke pantai bersama saudara-saudaranya. Mungkin masih pengin libur, pikir saya.

“Ya sudah, periksa ke dokter ya..”

Kata saya, dengan asumsi Andro segan pergi ke dokter.

“Iya, ma..Andro mau disuntik..”

Saya terkejut. Waduh..salah strategi nih..mikir lagi..Mana jam sudah mepet lagi, bisa telat pikir saya.

“Ya udah, yang penting mandi dulu, ayo..”

Andro mengangguk. Mau saya giring ke kamar mandi. Lalu ritual mandi pun berjalan lancar. Andro menurut saat sikat gigi dan disabun.

“Ke dokternya pakai seragam sekolah ya, biar dokternya tahu kalau Andro sudah TK..”

“Nanti dokternya biar tahu ya..ya..Andro mau..”

Yes..bujukan saya berhasil. Seragam saya pakaikan. Sepatu saya pakaikan. Beres, trus sarapan dan berangkat.

Saat arah motor saya belokkan ke kanan, Andro protes.

“Mama, kalau ke dokter kan belok kiri bukan ke kanan..”

Gawat. Andro sudah tahu arah. Memang arah rumah sakit ke kiri dari rumah.

“Ehm..yang di rumah sakit sini dokternya belum datang sayang, kita ke dokter yang di Wonosari..”

“Ya...”

Jawab Andro tanpa curiga. Maafkan mamamu, nak, berbohong demi kebaikanmu.

Lalu kendaraan saya pacu dan ketika mendekati sekolah Andro, Andro mulai curiga.

“Kok ke sekolah, nggak mau, Andro nggak mau...”

Saya mulai was-was. Segera saya parkir kendaraan di depan sekolah. Turun dari motor Andro langsung berlari menjauh dari sekolah, saya segera mengejarnya. Wajahnya tampak pucat, seperti takut terhadap sesuatu.

“Andro kenapa ? Biasanya paling senang ke sekolah..nanti ketemu teman-teman, sayang..”

Andro menggeleng kemudian hampir menangis. Saya menggandengnya, Andro tetap terdiam di tempat. Lalu tangisnya pecah. Saya kebingungan.

“Ayo, sayang..sudah telat ini, Andro ada upacara bendera kan..?”

Andro tetap menggeleng dan menangis keras.

“Ayo pulang, mama..Andro mau pulang..”

“Sayang, kalau Andro tidak mau masuk sekolah, mama harus minta ijin dulu sama Bu Guru. Ayo bilang sama bu Guru dulu..”

Tangis Andro berhenti.

“Mama aja yang bilang, Andro tunggu disini..”

“Baiklah..Andro jangan kemana-mana ya...”

Saya beranjak menuju sekolah. Andro pernah sekali tidak masuk sekolah karena sakit batuk dan pilek. Itupun karena melihat temannya sakit dan tidak masuk sekolah, makanya dia ikut-ikutan. Padahal biasanya, dalam keadaan apapun Andro tetap ingin masuk sekolah.

Saya bertemu dengan ibu-ibu dari teman-temannya Andro, yang menunggui anaknya. Kepada mereka saya cerita kalau Andro tidak mau masuk sekolah dan sekarang menunggu di parkiran. Mama Tita menyarankan agar saya menemui Bu Pri, guru kelasnya Andro agar mau dibujuk. Lalu saya menemui Bu Pri yang sedang mendampingi upacara dan menceritakan semuanya. Lalu Bu Pri dan saya menemui Andro di parkiran untuk menjemput dan membujuknya masuk.

“Andro belum salam sama Bu Guru...”

Sapa Bu Pri. Andro tampak terkejut, kemudian mengulurkan tangannya malu-malu.

“Ayo, sudah ditunggu temannya lho..belum tahu ceritanya mas Gilang ya..lucu lho..tadi cerita tentang binatang peliharaan di rumahnya..”

Andro menangis lagi. Ajakan saya untuk masuk tetap tidak ditanggapinya. Digandeng malah meronta, saya dan Bu Pri berkolaborasi membawanya masuk ke sekolah. Bahkan Bu Pri berinisiatif menggendong Andro yang meronta-ronta dan sangat berat itu. Andro menangis semakin keras, meronta sejadi-jadinya. Namun Bu Pri dan saya tetap berusaha untuk membawanya masuk ke sekolah. Tidak boleh berlarut-larut.

Sampai depan kelas, Andro berlari saya berhasil mengejarnya.

“Ayo, mama temani masuk kelas, ya...”

Sekuat tenaga saya mengajak Andro masuk ditemani Bu Pri. Akhirnya Andro menurut, mulai tenang. Saya duduk di bangku belakang. Andro menoleh ke arah saya dan mulai tersenyum. Tangisnya berhenti. Memang, selama ini emosi Andro yang meledak-ledak sering berlaku sebentar. Jadi harus pinter-pinternya saya menenangkannya.

Di dalam kelas, berkali-kali Bu Pri mengajak Andro berkomunikasi. Menanyakan cita-citanya mau jadi apa dan dijawab dengan semangat oleh Andro.

“Andro mau jadi Romo...”

“Hebat..Romo itu yang biasa memimpin misa, memimpin retreat dan pinter...Tepuk tangan untuk Andro...”

Teman-temannya bertepuk tangan. Andro mulai tenang, saya juga sedikit lega. Berkali-kali Andro menengok ke arah saya memastikan bahwa saya ada untuknya. Andro mulai biasa lagi, sudah tidak ada beban yang mengganjal. Kemudian saya dekati dan beri minuman. Andro mau minum.

“Sayang, mama tinggal dulu ya..mama mau ke bank dulu. Nanti dijemput..”

Andro mengangguk mantap. Segera saya pamit kepada Bu Pri dan mengucapkan terima kasih.

“Andro hebat ya..mau ditinggal mamanya. Tepuk tangan untuk Andro..”

Sekali lagi tepuk tangan membahana. Saya terharu. Dengan dibesarkan hatinya, Andro bisa menguasai emosinya lagi.

Saya runut-runut, beberapa waktu lalu, saat orang tua ada acara rapat di sekolah, Andro pernah disungkurkan teman-temannya yang usil ke dalam kolam ikan di depan sekolah. Saat itu, Andro masuk ke ruangan saya rapat, dan dengan wajah hampir menangis mengajak saya untuk pulang. Saya terkejut, bajunya basah semua. Mungkin, kejadian itu menjadi sebab kenapa Andro enggan masuk sekolah hari ini. Andro sedikit trauma dengan bullying dari teman-temannya. Saat kejadian itu saya tidak melihat siapa yang melakukannya. Yang jelas Andro tampak sedih dan tertekan setelah itu. Lalu saya jelaskan, bahwa teman-teman Andro itu banyak macam sifatnya. Ada yang baik, ada yang usil...tapi Andro tidak perlu membalas keusilan mereka. Biarkan saja, yang penting sekarang Andro lebih hati-hati dan waspada. Tidak usah takut, jadi lelaki harus tangguh, berani dan kuat. Jangan cengeng. Begitu nasehat saya saat itu. Ya, semoga saja pengalaman ini menjadi pelajaran yang berharga bagi kita semua.

Satu yang pasti, saat anak sedih, kehilangan rasa percaya diri, jangan kita lemahkan. Tetapi kita kuatkan, besarkan hatinya sehingga dia tidak merasa sendiri dan merasakan perhatian serta kasih sayang terutama dari kita orang tuanya. Perlakuan kasar dan main fisik hanya akan membuat anak trauma, stress dan menjadi pemberontak di kemudian hari, tentunya kita tidak ingin hal itu terjadi. Ok, sekian dulu ceritanya. Bye...

Thursday, July 19, 2012

Berapa Usia Anak masuk TK ?


Tanggal 16 Juli 2012 kemarin, anak saya masuk TK kecil di usianya 4 tahun 9 bulan. Di kelasnya, Andro  masuk golongan A2. TK kecil ini dibedakan 2 golongan yaitu A1 dan A2. Golongan A1 untuk usia kurang dari 4 tahun. Sedangkan A2 untuk golongan lebih dari 4 tahun. Pada awalnya, saya bingung mau memasukkan TK kecil setahun yang lalu. Andro yang lahir di bulan Oktober membuat segalanya serba tanggung. Lain kalau lahirnya di bulan Juli atau sebelumnya.

Menurut pengetahuan yang saya baca, perkembangan mental tiap anak berbeda-beda. Selisih beberapa bulan sangat berarti bagi anak kecil, beda dengan orang dewasa. Ketika usia anak kurang dari 4 tahun dimasukkan ke TK, mungkin secara kepandaian bisa mengikuti, namun jiwa dan mentalnya bisa jadi belum siap dalam hal tanggung jawab dan disiplin. Biasanya seperti itu. Namun ada juga sih, anak yang umurnya belum cukup namun mental dan jiwanya sudah siap, tergantung dari perkembangan anak-anak yang berbeda-beda.

Saya menilai, anak saya belum cukup matang mentalnya setahun yang lalu. Anak saya masih cocok ikut PAUD belum TK. Jadi menurut hemat saya, lebih baik mengundur waktu hingga cukup umur masuk TK daripada belum cukup umur namun dipaksakan untuk tetap mengikuti pelajaran. Mengingat di masa sekarang pelajaran anak TK begitu beragam dan cukup sulit bila dibandingkan jaman saya TK dulu.  Harapannya, saat lulus TK nanti, anak saya berumur 7 tahun kurang 3 bulan saat masuk SD. Pas waktu dan mentalnya.

Ketika Andro di PAUD, sama sekali tidak mau ditinggal sama mbak pengasuhnya. Maunya ditungguin sampai selesai, ditinggal sebentar ke kamar kecil saja sudah teriak-teriak. Belum lagi acara jalan-jalan sendiri saat ibu guru menerangkan. Pokoknya belum sepenuhnya mengerti bagaimana seharusnya bersikap saat belajar di sekolah. Namun kemarin, saya cukup berbangga hati ketika di hari pertama masuk, Andro sudah mau saya tinggal di lingkungan barunya yang masih asing. Bahkan Andro sudah bisa berbaur dengan teman-temannya dan para guru. Saya menilai Andro cukup antusias dan pro aktif dengan sekolah barunya.

Lalu, kebiasaan baru Andro yang membuat saya semakin bangga adalah Andro sudah bisa bangun pagi sendiri yang biasanya bangun sekitar jam 7 pagi. Kali ini Andro bangun jam setengah enam, kemudian mandi lalu sarapan dan sudah siap sebelum jam tujuh pagi tanpa acara rewel atau menangis. Bahkan berinisiatif memakai baju, kaos kaki dan sepatunya sendiri. Jiwa mandirinya mulai tampak. Saya terharu, tak terasa anak saya sudah besar.

Lalu, jarak 7 kilometer pun mampu ditempuh demi menuntut ilmu. Pulang pergi berarti 14 km. Memakan waktu 15 menit dalam perjalanan dengan sepeda motor atau kadang dengan mobil. Tergantung cuaca. Di TK nya, ada banyak kegiatan extra kurikuler seperti belajar komputer, bahasa Inggris, menari, berenang, dan marching band. Harapan saya, tenaga Andro yang hiperaktif mampu tersalurkan dengan mengembangkan bakat-bakatnya yang terpendam.

Bagi saya, pengembangan bakat di usia dini sangatlah penting karena dengan cepat bisa dilihat bakat mana yang paling menonjol. Sehingga, kita bisa memprioritaskan bakat mana yang paling fokus untuk dikembangkan berdasarkan minat yang besar pada anak. Ya, semoga saja anak saya mampu mengembangkan bakat-bakatnya sesuai dengan yang diminatinya. 

Wednesday, May 16, 2012

Dalam Diam, Kita Bicara...


Gambar dipinjam dari sini


Dalam diam, kita saling bicara..
Tanpa kata, tanpa pula aksara..
Tanpa suara..
Kita tak butuh itu semua..


Hanya mata..ya hanya mata yang kita punya..
Biarkan mata membaca apa yang ada di benak kita..
Menguraikannya satu demi satu hingga menjadi makna...
Makna yang kita pinta..


Hening, sunyi menjadi kebisuan kita yang bercengkrama..
Membahasakan apa yang kita rasa..
Memancarkan hasrat yang bukan pura-pura..
Dalam diam..semuanya hanya dalam diam..

Friday, December 23, 2011

Surat Dari Panti Jompo


Gambar dipinjam dari sini

Anak-anakku,


Saat ini ibu sudah tenang tinggal di Panti Jompo. Kalian tidak perlu risau dengan keadaaan ibu, karena sudah ada yang mengurus ibu disini. Ibu pun sudah punya banyak teman yang senasib dengan ibu di panti ini. Tak perlulah kalian merasa bersalah dengan tindakan kalian yang memasukkan ibu di tempat ini. Tindakan kalian sudah tepat, sangat tepat karena ibu tidak kesepian lagi disini. Ada banyak teman untuk saling berbagi cerita. Bukankah kita semua sudah sepakat kalau ini cara terbaik yang dipilih untuk kebaikan semuanya ?


Ibu tidak merasa kalian telah membuang ibu disini. Justru ibu merasa bisa beristirahat dengan tenang. Ibu tidak ingin menjadi beban bagi kalian semua yang saling bertanya giliran siapa yang akan menampung ibu di rumah megah kalian. Dan kalian tidak perlu khawatir anak-anak kalian salah didikan hanya karena ibu terlalu kolot mendidik cucu. Kita tidak pernah sepaham dalam mendidik anak, padahal dulu ibu mendidik kalian persis seperti apa yang ibu terapkan kepada anak-anak kalian, cucu-cucu ibu. Kalian lebih percaya dengan majalah, internet dan apa kata orang daripada ibu kalian sendiri. Tak apalah, kalian sudah lebih pintar dari ibu. Mungkin juga jaman yang sudah maju, tidak relevan lagi dengan cara didikan ibu yang ketinggalan jaman.


Anak-anakku,


Ibu sangat senang dan bersyukur kalian semua sudah menjadi orang yang mapan. Yang mempunyai kedudukan penting di tempat kerja kalian masing-masing. Ibu bangga, karena segala perjuangan ayah dan ibu dulu tidak sia-sia dalam membesarkan kalian. Tentunya ayah di surga bisa tersenyum bahagia melihat keberhasilan kalian semua.


Tapi, ibu juga khawatir dengan segala waktu yang kalian gunakan dalam bekerja setiap hari. Kalian sudah bangun pagi-pagi sekali saat anak-anak kalian masih terlelap tidur. Demikian pula denga suami ataupun istri kalian. Semua memilih jalannya meniti karier yang tertinggi. Kemudian kalian akan pulang saat hari sudah gelap, dan menyaksikan anak-anak kalian telah terlelap tidur. Mereka, anak-anak kalian, cucu-cucuku tersayang hanya tinggal dengan pembantu selepas usai sekolah. Mereka hanya punya waktu sempit bertemu dengan kalian saat kalian libur, itupun jika kalian tidak kelelahan ataupun saat tidak ada acara dengan relasi kerja kalian di hari libur. Ah..kalian melewatkan banyak momen penting dalam perkembangan anak-anak kalian.


Memang, kalian mampu memberikan pendidikan yang terbaik buat mereka. Melengkapi semua kebutuhan mereka dari pakaian, mainan dan makanan yang lebih dari cukup. Tapi kalian lupa, mereka bukanlah robot yang akan menurut diberi ini itu. Mereka juga berhak kasih sayang dari kalian yang sangat terbatas. Ibu mohon, jangan batasi kasih sayang kalian untuk mereka ya ? Sungguh, sebenarnya ibu ingin sekali menemani hari-hari mereka daripada hanya didiamkan saja oleh pembantu-pembantu kalian.


Anak-anakku,


Ibu tidak pernah menuntut kalian untuk membalas semua perjuangan yang telah ibu lakukan bersama ayah kalian dalam membesarkan kalian. Tidak. Sudah menjadi kewajiban ayah dan ibu sebagai orang tua kalian mendidik, memberikan pendidikan dan kebutuhan selayaknya. Kalian harus jadi orang yang lebih baik pendidikannya dari ayah ibumu ini yang hanya sampai bangku SMP. Tak peduli saat itu ayah harus membanting tulang berjualan apa saja dan ibu rela bekerja apa saja dari menjadi babby sitter, memasak di kost-kostan atau menjadi buruh cuci dan setrika pakaian sekalipun. Semua ayah dan ibu lakukan dengan tulus ikhlas demi tanggung jawab kami untuk penghidupan yang lebih layak bagi kalian.


Ibu pun tahu, saat kalian masih kecil, harus korban perasaan saat ada beberapa teman kalian yang menghina pekerjaan ayah dan ibu kalian. Tak apa, kalian jadi kuat karena itu. Walaupun awalnya, ibu tidak pernah tega melihat air mata yang kalian sembunyikan dari ibu. Ibu tahu, kalian menangis karena malu orang tua kalian bukan pejabat atau seorang pengusaha besar yang penuh limpahan materi. Tak apa, toh orang tua kalian bukan maling, pengemis atau orang yang bekerja dengan merampas hak orang lain. Kami bekerja apa saja yang kami bisa, seijin Tuhan yang selalu membimbing kita. Halal, itu yang kami cari, nak..


Melihat kalian bisa hidup layak seperti sekarang saja ibu sudah sangat bahagia. Tak ada lagi barang duniawi yang ingin ibu miliki. Toh, ibu hanya tinggal menunggu waktu dipanggil sang khalik. Ibu hanya ingin kalian pun bisa bahagia di dunia dan akhirat nanti.


Anak-anakku,


Ibu hanya sedikit menyesal kenapa tidak ada dari kalian yang mau mengalah menjadi ibu rumah tangga mendidik anak-anak kalian. Bukankah pekerjaan suamimu sudah cukup untuk menopang hidup kalian. Bukannya ibu mengabaikan pendidikan kalian yang sudah susah payah ibu perjuangkan, ibu hanya minta kalian memberikan waktu yang lebih untuk perkembangan anak-anak kalian yang masih kecil-kecil, yang masih sangat membutuhkan kasih sayang. Atau, kalian bisa membuka usaha di rumah sehingga anak-anak kalian bisa kalian awasi. Kalian tidak percaya kan saat ibu memergoki pembantu kalian memberi obat tidur kepada anak kalian yang rewel ? Bukannya kalian memecat pembantu itu, kalian malah menyalahkan ibu yang tidak ikut mengawasi pembantu. Tahukah kalian jika pembantu kalian itu seenaknya sendiri saat kalian tidak ada, berpacaran dengan tukang sayur dan meninggalkan anak-anak kalian dengan ibu ? Andai tenaga ibu masih sekuat dulu, mungkin ibu akan menampar pembantu kalian yang kurang ajar itu. Ibu sudah memberi tahu mereka tapi mereka bilang, tidak gampang cari pembantu lagi. Mereka merasa sangat dibutuhkan. Ibu sangat khawatir dengan perkembangan cucu-cucu ibu.


Anak-anakku,


Saat ini ibu sudah dimakan usia. Tenaga sudah tidak sekuat dulu. Ingatan ibu mulai banyak yang berkurang. Pendengaran ibu juga sudah tidak semaksimal dulu. Sering kalian harus membentak-bentak saat bicara dengan ibu. Saat ibu keberatan, kalian bilang serba salah, ngomong pelan tidak dengar, ngomong keras dikira membentak. Mana yang benar sebenarnya. Tidak adakah kesabaran lagi yang kalian miliki ?


Dulu, hanya ibu dan ayah yang bekerja keras membanting tulang, tapi sanggup membesarkan kalian, anak-anakku yang berjumlah lima orang. Sekarang, dari kalian berlima, tidak ada satupun yang mau merawat ibu, orang tua kalian yang tinggal satu-satunya. Kalian cukup patungan berlima membayar semua kebutuhan ibu di panti jompo ini. Mungkin lebih baik daripada ibu menjadi gelandangan karena ayah dan ibu tidak mampu membeli rumah karena penghasilan yang didapat selalu untuk biaya pendidikan dan kebutuhan kalian, selalu hanya bisa mengontrak rumah yang kecil. Tak apa, ibu terima semua ini. Ibu ikhlas. Ibu hanya minta, paling tidak kalian datang kesini menjenguk ibu, bersama dengan suami atau istri kalian, bersama anak-anak kalian, cucu-cucuku tersayang. Tapi apa ? Belum ada satupun yang menjenguk setelah ibu tinggal disini hampir satu bulan. Apa kalian pikir hanya dengan mentransfer uang ke panti ini saja sudah cukup tanpa perlu melihat bagaimana keadaan ibu ? Ibu rindu dengan kalian semua. Tapi kerinduan itu hanya mampu ibu ceritakan dengan teman-teman ibu penghuni panti disini. Kami sama-sama kesepian disini menantikan kunjungan anak-anak yang tak pernah datang.


Anak-anakku,


Jaman memang sudah berubah. Semua orang hanya berpikir praktisnya saja. Memang praktis bagi kalian tanpa harus repot mengurus ibu yang sudah tua ini, yang sudah tak mampu berbuat banyak Untuk menimang cucu saja sudah tidak mampu. Kalah gesit dengan anak kalian yang baru berumur satu tahun. Apalagi sifat ibu sekarang sudah seperti kanak-kanak lagi. Menjadi orang tua yang tak berguna. Hanya bikin malu teman-teman kalian saja. Ya sudah, tak usahlah itu diperdebatkan. Ini hidup ibu. Ibu akan jalani dengan sekuat tenaga. Toh, tugas ibu membesarkan kalian sudah selesai. Tak usahlah kalian ganti merawat ibu dengan sepenuh hati jika hanya merepotkan. Ibu masih terjamin hidup disini. Limpahan kasih sayang ibu tak perlu kalian balas dengan berbuat serupa ibu merawat kalian dari bayi dulu. Tidak, kalian tidak sedang berhutang budi kepada ibu. Karena ibu tidak pernah menganggap semua perjuangan ibu sebagai hutang kepada kalian. Tidak pantas didengar Tuhan. Orang tua tidak berhak menuntut apa-apa kepada anaknya. Pun ketika kalian berkeputusan membawa ibu ke panti jompo ini. Ini sudah lebih dari cukup daripada ibu dibiarkan mati sia-sia.


Salam sayang



Ibu


*****


Surat itu dikirim lewat pos kelima alamat di kota. Kepada lima orang anak dari seorang ibu yang tinggal di panti jompo.


Anak pertama, seorang laki-laki yang mempunyai kedudukan penting di sebuah perusahaan asing terhenyak membaca surat itu. Dia hanya mampu terdiam. Dialah yang pertama kali mempunyai gagasan untuk memasukkan ibunya ke panti jompo. Istrinya keberatan jika ibu mertuanya selalu tinggal di rumahnya yang megah, malu jika orang tuanya atau saudara-saudaranya yang sangat kaya berkunjung ke rumahnya. Maka, berembuglah si sulung dengan adik-adiknya. Memang tidak semua setuju, namun akhirnya tak ada pilihan lain karena semuanya sibuk.


Anak kedua, seorang perempuan langsung menangis membaca surat dari ibunya. Dia merasa sangat berdosa tapi tak mampu berbuat banyak. Anaknya tiga orang membutuhkan banyak biaya untuk sekolah yang tidak sedikit. Karena itu dia dan suaminya sibuk bekerja seharian sehingga tidak punya banyak waktu untuk anak-anak apalagi mengurus ibunya. Maka memasukkan ibu ke panti jompo sementara menjadi pilihan yang masuk akal.


Anak ketiga, seorang laki-laki merasa terpukul dengan isi surat dari ibunya. Dialah yang menuduh ibunya tidak mengawasi pembantunya dengan baik saat memberi obat tidur anaknya. Istrinya seorang wanita karier sukses yang melanglang buana kemana-mana hingga keluar negeri. Laki-laki itu merasa kalah saing dengan karier istrinya, maka dia bekerja siang malam demi mengejar kedudukan yang sejajar dengan istrinya. Maka, anak dan ibunya jadi korban ambisi butanya.


Anak keempat, seorang laki-laki, mempunyai keluarga paling sederhana diantara kakak-kakaknya. Menangis sesenggukan saat membaca surat dari ibunya. Dia bekerja sebagai guru di sebuah sekolah negeri. Istrinya juga seorang guru TK. Selama ini memang ibunya paling betah tinggal di rumahnya, namun demi menghidupi dua orang anak yang masih kecil dan harus membayar gaji pembantu, mereka hidup pas-pasan sehingga untuk ikut menanggung ibunya mereka kesulitan biaya. Untuk minta kepada kakak-kakaknya, dia tidak enak hati. Maka dia menyerah pada keputusan memasukkan ibu ke panti jompo. Sebuah ironi, karena dia dan istrinya adalah seorang guru.


Anak kelima, seorang perempuan yang bekerja sebagai seorang sekretaris. Menangis setelah membaca surat dari ibunya. Suaminya bekerja sebagai manager di perusahaan ternama. Suaminya pada awalnya adalah orang baik, tapi di saat-saat tertentu mempunyai kepribadian ganda di luar kesadarannya. Sering memukul istrinya tanpa alasan yang jelas dan menteror dengan kata-kata yang kasar. Anak kelima korban kekerasan dalam rumah tangga namun tidak berani melapor karena kasihan dengan anaknya yang masih kecil-kecil. Sudah pasti, ibunya tidak mungkin tinggal bersamanya. Dia tidak ingin ibunya tahu bahwa sebenarnya dia sangat menderita. Dan ibunya tidak pernah tahu, karena itu dia setuju saja saat ibunya dimasukkan ke panti jompo karena itu jalan terbaik untuk saat ini.


Mereka berlima akhirnya menjenguk ibunya ke panti jompo, mengajak anak, suami dan istri masing-masing. Semua bertekad, akan membawa ibu ke rumah mereka masing-masing seperti apa yang sebelumnya mereka lakukan. Mereka tidak ingin dianggap anak yang tidak tahu membalas kasih sayang orang tua. Mereka berjanji akan saling membantu untuk biaya ibu sehari-hari. Mereka bertekad untuk bersama-sama membahagiakan ibunya, terutama di hari tuanya. Biarkan ibunya merasa senang tinggal dengan cucu-cucunya.



Monday, October 24, 2011

Mau Pintar ? Ke Taman Pintar Yuk..!



Aksi di Taman Pintar
Ini pertama kalinya saya, suami, anak dan keponakan mengunjungi taman pintar di hari minggu. Rasanya plong dan lega bisa sampai di tempat ini karena pernah tempo dulu kesini tapi tutup karena hari senin. Ternyata memang taman ini tutup di hari senin, kecuali kalau hari senin itu pas jatuhnya tanggal merah atau hari besar, taman pintar buka, kebayang dong ramenya makanya sayang kalau tutup.

Oo..sebagai warga kota Yogya saya merasa 'berdosa” jika belum pernah menjamah tempat ini. Karena gaungnya sudah cukup lama, saat saya masih tinggal jauh di perantauan sehingga sering kangen Yogya. Lalu obsesi ke taman pintar itu terpuaskan hari ini.

Jatuh Cinta Pada Pandangan Pertama

Yeah..kesan pertama saat kaki saya injakkan di taman pintar ini, yang lokasinya tidak jauh dari shoping centre tempat buku-buku bekas dijajakan adalah takjub. Takjub karena memang saya tiba-tiba merasa pintar di tempat ini. Haha..lebay abis dah..Begitu kaki masuk melewati pintu, langsung mata ini menangkap begitu banyak permainan edukatif yang terhampar di halaman taman ini. Ada tempat anak-anak bermain pasir yang dibuat semacam parit memanjang plus ada terowongannya dimana hamparan pasir putih menjadi alasnya. Anak-anak cukup leluasa bermain disini untuk sekedar berlari-lari bertelanjang kaki di atas pasir. Atau saat mereka ingin membuat istana kecil dari pasir pun bisa. Konon, bermain pasir bisa mengasah kreativitas anak karena memang merangsang perkembangan motorik halusnya sehingga bisa tambah cerdas.

Lalu saya cukup terhibur saat melihat banyak anak-anak dengan celana renang atau baju minim bermain air mancur bersama-sama. Tawa riuh rendah menggema disana sini penuh kegembiraan. Waduh, tahu begini tadi bawa baju ganti, anak saya bisa ikutan nimbrung tuh. Asyik berat pokoknya. Saya janji, kalau ada waktu kesini lagi, bawa baju ganti untuk anak saya. Sebenarnya saya juga pengin, tapi sudah malu sama umur. Lagian saya lihat, tidak ada orang tua yang nekad pakai baju renang menemani anaknya berbasah-basah ria. Memang khusus untuk anak-anak kok..hehe..

Di tempat tak jauh dari air mancur ada drum-drum basar dan kecil sekitar 10 buah yang ditempel di tembok yang dipersilakan untuk dipukul-pukul dengan stik oleh anak-anak. Cocok untuk anak saya yang hiperaktif, terbukti dia langsung antusias memukul-mukul drum itu sehingga menghasilkan musik yang cukup heboh. Boleh dong saya berharap, kelak anak saya jadi drummer terkenal huihihi..

Bersebelahan dengan drum ada jembatan dari tali jaring yang menuju ke atas semacam rumah pohon gitulah. Permainan ini diperuntukkan bagi anak yang berumur 6-12 tahun. Walaupun badan anak saya sudah cukup besar dan kuat, namun saya melarangnya untuk naik karena umurnya baru 4 tahun. Bagaimanapun, keselamatan tetap nomor satu.

Ada juga semacam parabola yang berhadapan sejauh sekitar 50 meter ( kalau nggak salah, soalnya nggak saya ukur ) yang ternyata bisa untuk bertelepon seperti pakai tali dari korek itu lho. Caranya cuma dengan berbisik lho, makanya dinamakan parabola berbisik. Saya coba berkomunikasi dengan suami saya yang ada di parabola seberang saya, kemudian saya bicara pelan seperti berbisik dari lubang di parabola dengan posisi saling membelakangi ternyata dibalas dengan suara suami saya. Berarti memang bisa saling mendengar, dan suaranya terdengar cukup jelas dan seperti dekat jaraknya. Kok bisa sih, saya heran. Ternyata ada keterangan bahwa gelombang suara dipancarkan melalui parabola itu asalkan berhadapan parabolanya. Jadi ada pantulan gelombang suara gitu deh..ya..begitulah kira-kira, kalau kurang jelas silakan baca dan buktikan di taman pintar hehe..

Trus kita juga bisa lewat di bawah air mancur. Seneng deh, serasa jadi pengantin lagi hahaha..jadi ada 2 tembok sejajar, di atasnya ada air mancur yang melewati kedua sisi tembok. Sehingga kita bisa lewat dibawahnya tanpa basah. Tidak jauh dari air mancur, ada jejak telapak tangan dan telapak kaki dari para presiden Republik Indonesia, dari Pak Harto, Pak Habibie, Ibu Megawati, Alm. Gus Dur dan juga presiden SBY. Macam-macam bentuknya.

Ada juga permainan katrol, spektrum warna, kemudian di sisi barat ada tempat yang disetting seperti suasana di pedesaan. Ada sawah, patung kerbau sama gembalanya, rumah gubug..seru deh..serasa benar-benar ada di desa. Adem ayem tentrem.

Kemudian ada juga tempat untuk membatik, juga ada tempat untuk membuat gerabah. Anak-anak boleh mencoba berkreasi membuat apa saja dari tanah lempung.

Ini tadi berbagai permainan yang ada di halaman taman pintar. Masih banyak sebetulnya, tapi lainnya saya tidak begitu ingat. Jadi yang saya tulis ini yang saya ingat saja ya, yang cukup menonjol dan memang mudah diingat.

Uniknya Gedung Oval Dan Gedung Kotak

The next, kita akan memulai petualangan di taman pintar ini dengan memasuki gedung oval, gedung kotak dan memorabilia. Untuk bisa masuk ke gedung ini diperlukan sebuah tiket yang ditukar dengan uang. Ya iyalah..kalau yang di halaman tadi semuanya gratis, kalau masuk ke gedung oval dan kotak ini bayar 8 ribu untuk anak-anak dan 15 ribu untuk dewasa. Murah atau mahal relatif ya, karena pengetahuan yang didapat lebih penting dari sekedar uang yang kita keluarkan. O,ya di dalam gedung ini juga ada teater 4 dimensi. Kalau mau lihat film, bayar lagi 15 ribu. Tapi saya belum sempat masuk ke teater 4 dimensi ini karena waktu yang belum memungkinkan ( halah, sok sibuk ! ). Mungkin lain kali. Jadi akan saya ceritakan yang saya lihat di dalam gedung oval dan kotak saja ya..

Begitu masuk ke gedung yang memang bentuknya oval dan kotak ini sesuai dengan namanya, saya seperti masuk ke dalam gedung bioskop karena suasananya dibuat agak gelap dan remang-remang. Penerima tamunya adalah patung dinosaurus yang berdiri gagah dengan gigi-ginya yang runcing. Wow.. keponakan saya agak takut mulanya, sedangkan anak saya malah penginnya megang dinosaurus itu karena bentuknya mirip dengan yang ada di film dinosaurus yang pernah dia tonton.. Apalagi ada backsound seperti auman dinosaurus. Tak jauh dari patung dinosaurus ada patung kura-kura lengkap dengan telur-telurnya. Mau punya anak ceritanya. Kemudian ada juga manusia purba yang tampilannya mirip Pitechantropus erectus yang memegang tongkat kayu pendek, di sebelahnya ada perapian dari arang. Jumlahnya ada sekitar 3 orang, lagi pada barbequean sepertinya hehe..Lihat patung ini, anak saya tidak mau mendekat, merapatkan tubuhnya di samping saya. Tumben takut..itu kan nenek moyang kita, nak..

Masuk ke sebelah dalam lagi, saya berdecak kagum. Wah..nggak nyangka kalau Yogya punya tempat sebagus ini. Perpaduan antara museum, tempat hiburan sekaligus mengasah otak. Liburan sekaligus mendidik. Di lantai atas, ada foto-foto tokoh ilmu pengetahuan yang melegenda seperti Albert Eistein, Galileo, Phytagoras dan masih banyak lagi. Ada banyak perangkat fisika, salah satunya mewakili dari teori gesekan yang bisa diaplikasikan dengan permainan semacam rel-relan yang bisa bergerak setelah digesek karena ada tekanan udara. Mirip-mirip di acara Ranking satu itu lho. Ada banyak permainan ilmiah yang menyenangkan. Anak saya tak henti-hentinya bilang kok bisa, kenapa begini, kenapa begitu ? Hm..saya aja sudah lupa-lupa ingat pelajaran jaman dulu. Jadi mau kembali ke sekolah lagi huehehe..

Ada juga peragaan bagaimana proses membuat susu formula dari susu sapi. Disitu ada patung sapi, kemudian ada semacam diagram plus alat-alat yang digunakan dalam proses pengolahan dari susu segar hingga menjadi bentuk kristal yang diolah menjadi susu bubuk. Ada banyak tahap dan proses namun langkah-langkah ini menjadi asyik dipahami karena visualisasinya benar-benar mengena dan menarik.

Yang lebih lucu lagi, saat anak saya mengayuh sepeda-sepedaan ternyata di sebelahnya ada tengkorak yang ikut-ikutan mengayuh sepeda. Jadi saat anak saya mengayuh, tengkorak itu ikut-ikutan kakinya mengayuh, saat anak saya berhenti, ikut-ikutan berhenti mengayuhnya. Ada-ada saja. Fun banget..lumayan bisa ngilangin stress.. :)

Lalu, di sini kita juga bisa main debus. Lho kok ? Karena saya sudah membuktikan duduk di atas kursi penuh paku sama sekali tidak apa-apa. Bener lho, saya tidak merasa sakit dan tidak terluka sedikit pun. Sakti kan ? Sabar..ternyata ini berkaitan dengan hukum tegangan permukaan. Saat ujung paku yang runcing-runcing itu saling berjejer kemudian diduduki ternyata terdapat persamaan tegangan permukaan sehingga kita tidak merasa sakit. Tapi kalau pakunya cuma satu ya tetap aja sakit. Jadi ini penjelasannya to waktu melihat atraksi debus di televisi ada orang yang yang bisa duduk di atas ribuan paku karena ilmu fisika bisa menjelaskan kok, bukan karena mereka sakti mandraguna. Ya nggak sih ? Hm..ya, ya, ya..saya baru ngerti disini.

Lalu dari bidang Biologi selain pengolahan susu sapi tadi, disini juga ada peragaan tentang anatomi tubuh. Kemudian ada juga mikroskop yang preparatnya tentang pembuluh darah. Hasilnya bisa dilihat di layar yang cukup besar. Ada juga penjelasan tentang pengolahan air mineral dari saat awan mendung, hujan kemudian meresap ke dalam tanah menjadi mata air. Visualisasinya keren dah..

Maksud hati ingin mengabadikan berbagai pose anak saya dan sepupunya di taman pintar ini sebanyak-banyaknya, namun apa daya handphone saya low bat. Menyesal rasanya kenapa tadi nggak di charge dulu. Saya hanya sempat memotret 2 pose, selanjutnya sudah ada peringatan bunyi tit..tit..bahwa handphone sudah tidak mampu lagi mengambil gambar. Wah..saya ingat bahwa charger ada di tas, sempet punya pikiran nekad juga barangkali ada colokan listrik nganggur mau numpang nge-charge di taman pintar tapi nggak ada tuh..ya sudah..yang penting saya tadi udah sempat update status di facebook via handphone yang isinya begini : “Larut dalam hiruk pikuk taman pintar with Andro n Naia, mudah-mudahan ketularan pintar..”. Sesudah itu ya maaf kalau ada yang komen belum bisa saya bales lha wong status handphone saya antara hidup dan mati je..gawat darurat pokoknya. Saya jadi harap-harap cemas mudah-mudahan nggak ada telepon penting yang masuk karena sama sekali nggak lucu kalau tiba-tiba handphone mati alasannya low bat apalagi kalau telepon itu dari rekan bisnis. Wah..bisa gagal transaksi hehe..

Banyak sekali pengetahuan yang bisa kita dapat dari taman pintar khususnya di gedung oval dan kotak ini pokoknya. Kalau sampai Yogya nggak mampir ke tempat ini, rugi banget..saran saya sih, masukkan taman pintar ini dalam daftar kunjungan utama Anda kalau liburan ke Yogya. Soalnya nggak hanya anak-anak yang bisa belajar, orang tua juga bisa belajar banyak hal. Itung-itung mengulang pelajaran jaman sekolah dulu, kalau dulu sudah ngerti sekarang bisa diingat-ingat lagi, kalau dulu belum paham sekarang bisa dipahami lebih gamblang. Kalau sekarang masih nggak paham juga ? Hm..mungkin karena faktor usia..ya nggak apa-apa kan nggak dinilai ini. Huehehe..maunya refreshing kok malah mikir ya..

Gedung Memorabilia

O,ya..satu lagi gedung yang belum saya jelaskan yaitu gedung memorabilia. Gedung ini ada di luar, terpisah dari gedung oval dan kotak. Seharusnya, gedung ini jadi kunjungan pertama sebelum ke gedung oval dan kotak, namun karena anak saya sudah masuk duluan ke gedung oval, padahal saya baru beli tiket, dan suami serta keponakan masih di pintu masuk gedung bersama dengan petugas yang menunggu adanya tiket, maka kunjungan ke gedung memorabilia jadi pilihan terakhir.

Gedung ini lebih mirip museum tentang kraton Yogyakarta. Ada banyak sejarah tentang kraton dari raja-raja yang pernah memimpin hingga benda-benda bersejarah milik kraton lainnya. Tidak terlalu mendetail tapi cukup memberi gambaran bagaimana keadaan kraton Yogyakarta pada masa itu.

Hm.. tak terasa waktu sudah siang. Perut lapar dan saya serta suami harus melanjutkan pekerjaan yang lain yaitu kulakan onderdil mobil untuk barang dagangan. Jadi, tamasya di hari minggu ini harus kami sudahi. Semoga oleh-oleh cerita ini cukup bermanfaat. Buktikan sendiri keasyikannya, jangan mudah percaya sama cerita saya. Jangan-jangan cuma ngarang. Hehe.. Yuk dah..

Wednesday, October 19, 2011

101011


Kadang, angka tertentu diyakini mendatangkan keberuntungan. Entah sebagai sugesti atau apa, banyak orang berburu nomor cantik yang diyakini mendatangkan rejeki. Bahkan beramai-ramai orang memasang nomor supaya menang..eh..itu mah togel ya, masih adakah..atau ada yang setia pasang sampai sekarang ? Hehe..


Lain halnya dengan saya, tanggal 10 Oktober 2011, yang disingkat jadi angka 101011 merupakan hari istimewa, karena ada dua peristiwa yang menyertainya. Yang pertama, di tanggal ini genap anak kami, Andro berulang tahun ke-4. Secara kebetulan pula, hari ini adalah perayaan dua tahun Wiyono Putro Autoshop berdiri. Keduanya masih umur balita, sedang lucu-lucunya. Dua tahun adalah usia dimana anak sedang senang-senangnya berjalan, berlari, berbicara dan menyanyi. Sedangkan empat tahun adalah usia dimana anak sedang senang-senangnya bersekolah mempersiapkan pra TK-nya. Mulai senang menggambar, belajar huruf dan angka bahkan berusaha untuk bisa membaca dan menulis.


Keduanya adalah anugerah yang tak ternilai. Anak dan usaha. Harapannya, keduanya bisa sama-sama berkembang seiring sejalan saling melengkapi. Tidak mudah menciptakan sinergi yang seimbang untuk keduanya. Anak penting, usaha juga penting.


Percaya atau tidak, motivasi awal kami membuka usaha adalah karena anak. Anak adalah anugerah dari Tuhan yang sudah selayaknya dilimpahi kasih sayang yang berlimpah dari orang tuanya. Hal yang berkaitan dengan ini adalah waktu. Saat menjadi karyawan, saya dan suami sering kehabisan waktu bersama. Keduanya larut dalam pekerjaan di kantor yang menghabiskan seharian waktu kami. Akibatnya, kami terbatas untuk bertemu dan bersama dengan anak kami yang waktu itu masih bayi. Bahkan saat ibu saya yang biasa mengasuh anak kami harus pergi ke Kalimantan karena ada urusan keluarga, terpaksa anak kami titipkan eyangnya dari pihak suami yang tinggal di Yogya selama beberapa bulan sementara kami bekerja di Cirebon. Sedih rasanya harus berpisah dengan buah hati. Dua minggu sekali saya dan suami pulang ke Yogya untuk menengok anak.


Di sisi lain, menjadi dilema bagi kami untuk mencari nafkah yang sebanyak-banyaknya demi penghidupan dan pendidikan yang layak bagi buah hati. Tentunya dibutuhkan materi yang tidak sedikit. Karena itu, kami bersama-sama merancang masa depan kami dengan buka usaha bersama. Dengan berani membuka usaha, kami bisa menghasilkan pendapatan yang tidak terbatas. Tidak seperti saat menjadi karyawan yang gajinya naik tidak lebih dari 20% setiap tahunnya.


Jadi, saat ini kami merasakan banyak manfaat dengan buka usaha sendiri. Saya dan suami bisa ketemu anak setiap hari, setiap saat di toko dan di rumah. Waktunya juga lebih fleksibel untuk bertemu dengan anak. Bahkan kadang anak juga diajak ke toko. Waktu untuk kebersamaan melimpah, dan dengan restu Tuhan, semoga panghasilan yang tak terbatas bisa kami dapatkan. Tujuan akhirnya adalah keluarga harmonis, usaha lancar jaya, bermanfaat bagi semua orang. Selaras, serasi dan seimbang.


Masih teringat jelas dalam ingatan saya saat 2 tahun yang lalu, 10 Oktober 2009, awal berdirinya Wiyono Putro Autoshop yang sengaja tanggalnya dipilih sama dengan tanggal ulang tahun ke-2 anak kami. Tanggal ini dipilih sekaligus sebagai pengingat dan penyemangat bahwa ada 2 kelahiran yang sangat penting bagi kami yaitu anak dan usaha.


Sekedar diketahui, pembicaraan tentang buka usaha ini berlangsung sangat cepat. Saat lebaran di bulan September 2009, kami bertemu dengan Om Nur , Om dari suami saya yang mengajak kami untuk buka usaha di gunung Kidul, yang selanjutnya menjadi penyuport pinjaman modal awal dan motivasi. Beliau mengatakan kalau toko ban dan onderdil mobil di Gunung Kidul belum sebanyak seperti yang sudah ada di kota Yogya. Dikatakan pula, peluang buka usaha disana masih banyak.


Masalahnya, usaha harus segera dibuka karena Om Nur, memberikan deadline bahwa kalau tidak buka di bulan Oktober sesudah lebaran di tahun ini yang dianggap sebagai bulan baik untuk memulai usaha, maka usaha diundur setahun lagi. Mau tak mau kami harus bergerak cepat. Kami tertarik dengan tawaran itu, dan dalam jangka waktu satu bulan, tepatnya di bulan Oktober awal, kami resign dari pekerjaan masing-masing.


Kebetulan, tempat saya bekerja lebih memudahkan proses pengunduran diri saya karena kebetulan, karyawan pengganti posisi saya bisa cepat dicari sehingga saya bisa resign tepat sebelum anak saya berulang tahun. Sedangkan suami saya masih harus menunggu satu bulan lagi, yaitu di bulan November karena masih mengurus soal serah terima tugas dengan orang yang akan menjadi penggantinya nanti dan masih harus mengurus prosedur lain-lainnya di perusahaan yang cukup besar di Cirebon itu. Jadi, saya duluan pulang ke Yogya menyusul anak saya, sedangkan suami masih di Cirebon.


Tanggal 10 Oktober 2009, ulang tahun anak saya dirayakan di Gunung Kidul di kediaman Om kami. Suami bisa pulang dan berkumpul bersama keluarga terdekat sekaligus sebagai penanda bahwa usaha mulai dibuka. Sehari sesudah ulang tahun anak saya, suami kembali bekerja di Cirebon, anak saya ikut eyangnya di Yogya, satu jam dari Gunung Kidul. Jadi, saya terdampar sendirian di Gunung Kidul, membuka usaha sendiri. Bayangkan bagaimana rasanya jauh dari suami dan anak tercinta, dan untuk sementara saya tinggal di rumah keluarga Om Nur yang belum lama saya kenal dengan baik. Tentu rasa asing melingkupi perasaan saya. Untunglah, keluarga Om Nur adalah keluarga yang baik dan sangat mensupport sepenuh hati. O,ya Om kami ini punya usaha toko besi yang sudah besar di Gunung Kidul ini. Selama 13 tahun buka usaha, sudah punya karyawan lebih dari 20, mempunyai armada truk 10 buah, dan aset pribadi lainnya yang cukup banyak. Sudah menuai hasil pokoknya.


Awalnya, tempat yang digunakan sebagai toko ban dan onderdil ini adalah gudang tempat Om Nur menyimpan keramik dagangannya. Sambil menunggu kedatangan suami saya di bulan November nanti, saya hanya berjualan ban mobil saja tanpa onderdil. Pertimbangannya, saya masih sendirian sedangkan onderdil itu itemnya banyak sekali dan saya sama sekali belum tahu pengetahuan dasar tentang onderdil mobil. Ban saja saya belum paham. Jadi, silakan dibayangkan bagaimana bengongnya saya yang latar belakang pendidikannya adalah Sarjana Sains dari Biologi UGM, harus menjual produk berupa ban mobil yang saya belum paham betul jenisnya. Jadi, saya mempelajari sendiri sambil dibimbing oleh Om. Sedikit demi sedikit saya mulai bisa membedakan ban radial yang mana, ban standart , ukuran ban, merk ban yang ternyata jenisnya itu banyak sekali. Ampun deh..


Lama-lama, saya mulai enjoy jualan ban mobil. Apalagi saat ada yang beli. Wah..senangya tak terkira. Pernah, ada dua orang dengan perawakan tinggi besar, pakai baju u can see, trus lengannya bertato datang ke toko saya. Saya sendirian di toko dan biasanya memang sendiri, terdampar diantara tumpukan ban-ban. Awalnya agak takut juga saya, takutnya orang ini berniat jahat eh nggak tahunya beli ban truk dua. Hahay..kekhawatiran berubah menjadi keceriaan. Uang dua juta lebih saya terima. Larisss..hehe..


Lalu, bulan November suami sudah resmi keluar dari pekerjaan, bergabung bersama saya di toko. Saya lega sudah ada teman. Onderdil mobil mulai diorderkan. Ada 1000 item lebih, hah..? Gimana caranya belajar nih. Untung suami saya lulusan teknik mesin UGM, paham tentang onderdil mobil jadi saya bisa belajar pelan-pelan. Kemudian saya dan suami mulai menempati rumah sendiri, tidak tinggal di rumah Om dan bulek lagi. Masih ngontrak sih, tapi bagus untuk tempat tinggal. Kan masih berjuang.


Bulan Desember, kami dapat orang yang akan mengasuh anak kami dan mengurus kebutuhan rumah tangga saat kami di toko. Jadi, anak kami bawa, tidak dititipkan di eyangnya lagi. Resmi di bulan Desember kami tinggal sebagai keluarga yang utuh tidak tercerai berai lagi. Senangnya..


Bulan Maret 2010, kami mulai membeli alat tyre changer ( untuk memasang ban ) dan alat untuk balancing ban. Sedikit demi sedikit mulai ada perkembangan pelanggan. Paling tidak, setiap hari ada pembeli. Entah membeli onderdil atau beli ban atau sekedar balancing. Walaupun rame atau sepinya tidak mesti, tapi paling tidak ada pemasukan yang bisa membuat dapur ngebul. Pokoknya harus bisa mengatur keuangan saja. Berapa persen untuk kulakan, untuk kebutuhan sehari-hari, untuk biaya operasional, semuanya sudah ada posnya sendiri-sendiri.


Bulan Juni 2010, kami dipercaya oleh suplier ban truk dari India untuk menjadi agen satu-satunya di Gunung Kidul. Kami tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Terbukti, ban ini sangat awet dan berkualitas baik bila dibandingkan dengan ban truk lainnya. Sedikit demi sedikit kami bisa menjual produk ini.


Hingga perjalanan usaha kami menginjak usia dua tahun ini, banyak suka duka yang kami kecap. Ada kalanya kami merasakan enak saat jadi karyawan ( biasanya kalau toko lagi sepi ) karena gaji tiap bulan sudah pasti. Saat sekarang, pendapatan tidak pasti, tapi banyak sekali tantangan yang harus kami taklukkan. Saat toko ramai, gaji satu bulan bisa kami dapatkan dalam waktu beberapa jam. Rasanya senang sekali saat itu. Campur-campurlah rasanya. Trus, di usia 2 tahun ini kami juga sudah punya satu karyawan. Harapannya, dari satu ini bisa berkembang lebih banyak lagi seiring dengan perkembangan usaha.


Nah, semoga usia usaha kami yang masih hijau ini bisa berkembang secara signifikan dari waktu ke waktu, semakin dikenal, semakin banyak pasar yang diraih dan semakin menunjukkan kualitasnya. Dan semoga, anak kami pun semakin bertumbuh secara alami, menjadi anak yang membanggakan dan memuliakan semua orang. Amin.


Hm..ceritanya cukup sekian dulu ya, ada yang ban mobilnya bocor tuh, mau nambal ban tubeless dulu hehe..( karyawannya maksudnya, saya bagian kasir aja..). Dagh..lain kali disambung lagi ceritanya..semoga bermanfaat.

Saturday, August 13, 2011

Anakku Hiperaktif ?




Dari sejak bayi, saat usianya masih beberapa hari, anak saya termasuk tipe yang tidak bisa diam. Kaki dan tangannya selalu bergerak dan baru bisa diam saat matanya terpejam tidur. Awalnya, saya menganggap hal ini biasa namun lama kelamaan saya mulai merasakan adanya perbedaan sikap anak saya dengan anak-anak lain seusianya.

Dari berbagai sumber yang saya baca, Andro mempunyai ciri-ciri seperti anak yang hiperaktif. Saat usia 3 bulan, saat sudah bisa tengkurap, saya extra keras membolak balik badannya yang tak henti tengkurap untuk sekedar memasangkannya pampers. Saat ditelentangkan, dalam hitungan detik sudah balik tengkurap lagi. Dibalik lagi, sudah rubah posisi lagi. Sampai-sampai saya dan suami harus berkolaborasi untuk memegangnya supaya ritual memasang pampers bisa berjalan sukses dan lancar. Luar biasa..tenaganya besar sekali.

Saat usianya menginjak 7 bulan, sudah bisa merangkak, cepat sekali merangkaknya. Sampai saya sering kehilangan jejaknya berada dimana, ternyata sudah ada di bawah kolong tempat tidur atau pernah saat saya kebingungan mencarinya ternyata dia sudah berada di dapur dekat kompor dan tabung gas. Duh..

Lalu, ada cerita lagi saat dinaikkan baby walker, ternyata gerakannya lincah luar biasa. Gerak sana-sini sampai ngebut segala. Ya ampyun..sampai-sampai saya khawatir kalau baby walkernya terjungkal karena kelakuannya yang tidak bisa berhenti barang beberapa detik. Untung baby walkernya sengaja dipilih yang berbentuk kotak sehingga kemungkinan terjungkalnya kecil bila dibandingkan yang bentuk bundar. Sudah begitu, kami sebagai orang tua wajib melakukan pengawasan extra ketat mengingat kelakuannya yang lain dari biasa itu.

Semakin bertambah usia, sifat ingin tahu dan keaktifannya semakin bertambah. Andro sudah bisa berjalan saat usianya 11 bulan. Saat dia sudah bosan pakai baby walker ( saat usia 10 bulan ), alat itu didorong-dorongnya yang ternyata bisa menstimulus untuk cepat bisa berjalan.

Sejak bisa berjalan, otomatis daerah jelajahnya semakin luas. Perhatiannya juga mudah berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Apapun yang menarik hatinya, pasti akan dengan senang hati diikutinya. Mudah bosan, tidak fokus dan kesannya semau gue begitu. Kalau duduk, mana bisa betah duduk diam selama berjam-jam. Paling lama 5 menit, dia akan bangkit kemudian jalan-jalan tak tentu arah sehingga harus diikuti kemana saja perginya. Capek deeehhh...

Lain lagi ceritanya saat sudah bisa bicara, apa saja menjadi bahan pertanyaan. Kalau yang ditanya tidak bisa menjawab akan terus dikejar sampai memberikan jawaban yang cukup memuaskan. Gayanya ekspresif sekali. Saat dia ingin berlari, langsung berlari tak peduli itu jalan raya. Namun saat diberitahu bahwa harus hati-hati berjalan di jalan, dia akan menurut dan berjalan pelan-pelan di pinggir sekali. Saat ingin memanjat, langsung dia memanjat tanpa berpikir panjang. Meskipun sudah diingatkan untuk berhenti, dia tidak akan berhenti sebelum dia sendiri yang menghentikannya atau saat dialihkan perhatiannya dengan sesuatu yang menarik baru dia berhenti. Sebagai orang tua saya dituntut untuk kreatif dalam hal ini.

Soal hobby, Andro suka menyanyi. Saat usianya 1,5 tahun sudah hafal 30 lebih lagu anak-anak yang ditonton maupun yang didengarkannya dari CD lagu anak-anak. Kemampuan musiknya lebih menonjol bila dibandingkan dengan menggambar atau ketrampilan lainnya.

Saat diberi permainan pasang puzzle, dalam sekali diajari sudah langsung bisa memasang sendiri. Namun untuk mainan yang lain seperti mobil-mobilan kerapkali berubah bentuk atau rusak karena dibanting. Belum terlalu paham sebenarnya.

Tapi seringkali saya perhatikan, jika diberitahu baik-baik Andro akan mendengarkan dan fokus, matanya menatap mata saya. Tapi saat dikerasi, dia akan semakin berontak, protes, teriak-teriak dan menangis meraung-raung. Saat melihat CD lagu-lagu kesukaannya, dia bisa diam duduk dalam jangka waktu yang cukup lama. Dan saat diberitahu, sepertinya dia tetap sibuk dengan kegiatannya, tapi pada saat ditanya dia bisa menjawab dengan baik. Cukup membuat saya tenang, karena ternyata dia masih bisa fokus dan tidak cuek begitu saja seperti kebanyakan anak hiperaktif lainnya.

Dalam interaksi sosial dengan teman sebaya, Andro bisa bekerjasama tapi gampang sekali bosan. Temannya ada yang bawa bola, ikut-ikutan pegang bola, saat ada yang bawa mainan lain, ikut lagi. Tapi sejauh ini masih bisa diarahkan sehingga tidak mengarah ke sifat anarkhis seperti merebut mainan teman. Masih bisa diberi pengertian. Saat moodnya bagus tentunya. Saat bete, wah..jangan ditanya. Makanya saya selalu berusaha menjaga agar moodnya bagus selalu.

Sering saya salurkan kelebihan energinya dengan kegiatan naik sepeda, berenang, berlari kejar-kejaran di lapangan yang luas dan kegiatan olahraga lainnya. Karena saya sadar, selain menyehatkan, anak saya jadi tidak melakukan hal-hal lain yang di luar dugaan bisa membahayakan dirinya dan orang lain.

Saya mencoba menelaah apa penyebab dari sifatnya yang hiperaktif ini. Kemungkinan, dari sumber yang saya baca, bisa disebabkan dari proses melahirkan yang lama. Bisa jadi begitu, karena Andro lahir telat dari HPL dokter kurang lebih seminggu sehingga harus diinduksi supaya keluar dan saya mengalami kesulitan mengejan saat melahirkannya sehingga Andro lahir selamat secara normal setelah hampir satu setengah jam saya berjuang mengejan. Tepat di saat Dokter hampir memberikan keputusan Andro lahir secara di vacum atau caesar. Wah..dapat dibayangkan berapa biaya dan sakit yang sudah dirasakan jika akhirnya harus caesar. Untung akhirnya bisa lahir normal..

Kemungkinan lain, dari makanan. Menurut sumber yang saya baca, makanan saat hamil yang mengandung logam berat bisa mempengaruhi perkembangan otak anak. Bisa jadi begitu, karena saya suka makan ikan laut terutama saat hamil dulu. Kemungkinan ikan yang saya makan ada yang mengandung logam berat sehingga berpengaruh pada otaknya.

Memang harus extra sabar jika diberi titipan oleh Tuhan anak yang luar biasa ini. Luar biasa harus ditangani secara luar biasa juga. Yang penting, jika diarahkan dengan benar, anak hiperaktif bisa menjadi anak yang luar biasa cerdas di kemudian hari. Amin..semoga saya dan suami bisa mendidiknya dengan maksimal, semua yang terbaik untuknya..

Friday, August 12, 2011

Jawaban Jujur

Namanya anak-anak..selalu polos dan jujur. Termasuk Andro, buah hati tercintaku. Ceritanya begini, saat di sekolah bermainnya, Ibu Guru bertanya kegiatan anak-anak didiknya saat liburan sekolah.


Ibu Guru : Anak-anak pergi kemana saat liburan ?


Anak A : Ke Gembira loka, Bu..lihat binatang..


Anak B : Ke Kids Fun, Bu..banyak mainan..


Andro : Andro juga ke Jogja Bu Guru..sama papa mama..kulakan ban..


O..o..benar sekali nak. Hampir tiap bulan kita ke Jogja, mengantar papa mama kulakan untuk dagangan di toko ya. Memang belum sempat ke Gembiraloka lagi sejak kesana saat Andro masih 1,5 tahun dulu, juga belum ke Kids Fun. Nanti lah ya..kita cari waktu yang tepat untuk itu. Sementara ini, Andro naik andong dulu keliling Malioboro ya..