Pages

Saturday, January 8, 2011

Es Cendol Kenangan

Gambar diambil dari sini



Nining mulai gelisah. Sedari tadi matanya tak lepas menatap ke ujung jalan sana, berharap ada sepeda hijau tua yang melaju ke arahnya. Rasa lapar, haus, kantuk dan capek berbaur jadi satu tertelan oleh perjalanan waktu yang cukup panjang. Harapannya timbul tenggelam menanti jemputan bapaknya. Sebenarnya ada keinginan didalam hatinya untuk pulang jalan kaki saja, tapi ada sedikit kekhawatiran bapaknya akan mencari-cari, lagipula jarak rumah yang sangat jauh dengan sekolahnya membuat Nining ragu-ragu untuk melangkahkan kakinya. Bisa satu jam waktu yang akan ditempuhnya nanti.


Sekolah Dasar Negeri tempat Nining menuntut ilmu sudah tampak lengang. Kelas-kelas sudah rapat terkunci dan pintu gerbang sudah tertutup selama hampir satu jam yang lalu. Tinggal Nining sendirian di depan pintu gerbang sekolah, tak jauh dari jalan raya nan hiruk pikuk oleh kendaraan yang berlalu lalang.


Seragam putih merahnya sudah tampak kotor. Pikirannya sibuk bertanya-tanya dan menerka. Bapak kemana ya ? Apa lupa ? Ketiduran barangkali ? Ah..tak ada akses apapun untuk bisa mengungkap kebenaran yang ada. Tak ada handphone, tak ada orang yang dikenal yang bisa memberinya sedikit info. Sempurna sudah penantian panjang Nining.


“Belum pulang, Nduk ?”Nining menoleh ke arah suara.


Oh..bapak tua penjual es cendol pikulan. Senyum bapak itu membuat Nining sedikit lega. Bapak tua itu biasa mangkal disini melayani pembeli. Nining menggeleng sambil tersenyum. Bapak itu sudah paham jika Nining sedang menunggu jemputan. Kemarin, bapak tepat menjemput Nining saat bapak penjual es baru sampai di tempat ini.



Nining menelan ludah, menahan rasa hausnya. Terbayang betapa segarnya segelas es cendol membasahi kerongkongannya. Ah..andai ada sekeping uang logam saja untuk ditukar dengan segelas es cendol. Nining merogoh saku baju seragamnya. Seperti dugaannya, tak ada sekeping uang logam pun disitu. Nining tertawa diam-diam, sejak kapan ada uang saku disitu. Hanya keajaiban jika ditemukan uang di sakunya. Bukankah selama ini Nining selalu akrab dengan puasa dan uang saku merupakan kemewahan bagi Nining ? Mewah karena Nining hanya bisa merasakan uang saat diberi oleh Tantenya yang datang dari Jakarta, atau saat Nining mendapat upah dari berjaga bola di lapangan tenis sebagai kacung. Itupun tidak semuanya dirasakan Nining untuk bisa sekedar jajan, sebagian uangnya akan diberikan kepada ibunya sebagai tambahan uang belanja untuk makan sehari-hari.


Kemiskinan. Ya, Nining sudah cukup paham apa arti dari miskin. Tadi Bu guru menjelaskan tentang penduduk Indonesia yang masih 30% berada di bawah garis kemiskinan. Itu pasti termasuk keluarga Nining. Jika melihat ke bawah, Nining masih bersyukur bisa mengenyam sekolah. Begitu banyak teman-teman sekampungnya yang mencari nafkah di jalanan, tidak bisa sekolah. Beruntung, kedua orang tuanya berpikiran sedikit lebih maju yang menganggap pendidikan sebagai prioritas utama. Sekalipun sehari hanya bisa makan satu kali dengan nasi dan garam, itu jauh lebih baik daripada membiarkan anak-anaknya mengemis di jalanan. Ibunya yang seorang buruh cuci di sebuah kost-kostan orang kaya dan bapaknya yang seorang petugas keamanan sebuah pabrik tekstil kecil, harus berjuang keras menghidupi kelima anaknya yang masih sekolah semua.


Itulah mengapa Nining hampir tidak pernah merasakan bagaimana rasanya punya uang saku. Dia hanya bisa terdiam di pojokan sekolah saat teman-temannya berlarian menuju kantin sekolah. Atau sesekali ada temannya yang berbaik hati mentraktir, tapi Nining selalu tidak enak hati hingga sering menolaknya secara halus. Bagaimanapun, Nining tidak ingin menggantungkan diri kepada orang lain atau memanfaatkan keadaan. Lebih baik bagi Nining untuk menahan rasa laparnya daripada harus mengorbankan perasaannya. Nining merasa belum mampu untuk gantian mentraktir sekalipun teman-temannya tulus memberikan itu. Nining selalu merasa harga dirinya dipertaruhkan. Sekalipun miskin, Nining tidak ingin jika di kemudian hari dirinya menjadi bahan ejekan hanya karena tidak punya uang.

“Mau es cendol, Nduk ?”, bapak tua menatap Nining iba.


Lekas-lekas Nining menggelengkan kepalanya. Nining tidak berani bilang tidak punya uang. Padahal sungguh, Nining sangat ingin bisa merasakan segarnya es cendol bapak tua. Ah..terpaksa Nining harus mengenal kebohongan. Gelengan kepalanya sangat bertentangan dengan keinginan hati dan mulutnya. Dan berkali-kali Nining harus menelan ludahnya yang tersisa. Betapa rasa dahaganya sangat menyiksa.


Beberapa pembeli mulai menyerbu es cendol bapak tua. Nining menduga, pasti es cendol ini sangat enak, terbukti pembelinya selalu rela berdesak-desakan. Mungkin dalam hitungan beberapa jam sudah habis. Apalagi cuaca yang cukup panas membuat dagangan pak tua selalu laris manis. Harganya juga murah, hanya seribu rupiah per gelasnya. Ironis, karena walaupun hanya seribu, Nining tidak mampu membelinya. Saat ini, Nining hanya ingin bapaknya segera datang menjemputnya, membawanya pulang dan segera melupakan keinginannya untuk minum es cendol yang sangat menggoda ini.


Nining sampai terkantuk-kantuk menunggu jemputan yang tak kunjung tiba. Disandarkannya tubuhnya di tembok pagar sekolah. Duduk beralaskan koran yang ditemukannnya di pinggir jalan. Entah berapa lama Nining tertidur saat mendengar suara bapak tua.


“Nduk..minumlah..kamu pasti haus..”


Nining tergagap sekaligus ternganga melihat bapak tua mengulurkan segelas es cendol ke arahnya. Nining hampir menggeleng ketika pak Tua segera menukasnya.


“Tidak usah bayar, gratis..”


“Tapi pak..”


“Sudahlah..bapak ikhlas kok..bapak inget sama cucu bapak..”


Ragu-ragu Nining menerima uluran tangan bapak tua.


“Terima kasih banyak pak, Tuhan akan membalas kebaikan Bapak..”


Mata Nining berkaca-kaca terharu. Tuhan mengabulkan keinginan Nining untuk bisa merasakan es cendol melalui ketulusan hati bapak tua. Dalam hati Nining berjanji untuk bisa membalas kebaikannya suatu hari nanti. Ditandaskannya segelas es cendol dalam beberapa teguk hingga tetes terakhir. Rasa dahaganya terpuaskan sudah. Bapak tua tersenyum bahagia, sebahagia hati Nining kini.

“Nduk, bapak pulang dulu ya..sudah habis dagangan bapak..”


“Hati-hati, ya Pak..terima kasih..salam untuk keluarga bapak..”


Pak tua mengangguk. Pikulannya sudah terasa ringan. Senyumnya terkembang. Nining mengikuti langkah pak tua dengan pandangan matanya. Betapa semangat bapak tua begitu besar. Di usianya yang cukup renta, mampu berjalan kaki membawa dagangannya dengan dipikul. Tak berapa lama, muncul dari kejauhan sepeda hijau tua bapak. Nining hampir menangis karena menunggu terlalu lama. Bapak mengusap kepala Nining pelan.


“Maafkan bapak..tadi ban sepedanya bocor, ditambal dulu..”

Nining mengangguk. Hilang sudah semua kesalnya. Segera Nining membonceng dan sepeda hijau tua itu bergerak pelan membelah keramaian jalan. Sekitar 500 m dari sekolah Nining, ada keramaian yang tidak biasa. Banyak orang berkerumun dan kendaraan banyak yang berhenti yang mengakibatkan kemacetan. Nining dan bapak bertanya-tanya ada apa. Tak jauh dari pandangan Nining, ada pecahan tanah liat dan kaca-kaca. Selain itu, Nining sangat mengenal sebuah pikulan yang tampak teronggok di pinggir jalan dengan keadaan yang sudah rusak. Deg..seketika Nining teringat bapak tua penjual es cendol. Bapak..ah..bahkan untuk menyebut namanya saja Nining tidak tahu. Baru disadarinya betapa tololnya tidak menanyakan siapa nama bapak tua itu.


“Ada apa pak ?”


“Ada kecelakaan pak, sebuah truk menabrak tukang es yang sedang menyeberang..”


Seketika Nining merasa lemas. Terbayang betapa ketulusan bapak tua saat memberinya minuman. Tuhan memanggilnya begitu cepat sebelum Nining sempat untuk membalas kebaikannya. Bahkan dengan cara yang tidak diduga. Sebuah kecelakaan. Beristirahatlah dalam ketenangan Bapak Tua..

Saturday, December 4, 2010

Praaakkkk....!!!

Aku selalu tahu hitam putih tentangmu. Tahu pula bagaimana situasi hatimu setiap hari. Saat kamu tertawa, tersenyum atau menangis sendiri. Atau saat tiba-tiba kamu berteriak seolah-olah sedang memaki diriku. Ekspresimu selalu keluar tanpa pura-pura. Emosi yang natural, aku suka.

Seperti pagi ini, kamu membuka matamu pelan-pelan, menggeliat, melirik ke jam dinding. Olala..telat !! Bergegas kamu beranjak dari ranjang tidurmu dan menyempatkan dirimu menengokku sebentar. Ada kotoran di sudut matamu, rambut acak-acakan dan kamu menguap pula. Wah..aku tahu persis aroma nafas dan tubuhmu di pagi hari. Kamu sambar handuk di sudut kamar, yang bertengger di tiang jemuran kecil kemudian masuk ke kamar mandi. Aktivitas mandi kilat ala bebek segera dimulai.

Benar saja, di menit kelima, kamu sudah keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit tubuhmu. Amboi..betapa menggairahkannya dirimu dengan keadaan seperti itu. Lalu saat yang kutunggu datang, saat kau taruh handuk di jemuran, tubuhmu polos tanpa sehelai benang pun. Sekilas kamu mematut dirimu di hadapanku. Andai aku bisa bernafas, pasti aku akan memilih menahan nafasku barang sebentar. Kamu memang nyaris sempurna.

Lalu dengan tergesa kamu pakai baju favoritmu, celana jeans dan t-shirt ketat yang pas membalut tubuhmu. Wajahmu disapu dengan bedak bayi, dan sedikit lipstik warna peach teroles di bibirmu nan ranum. Jujur, hari ini kamu cantik luar biasa. Aku yakin semua lelaki di dunia ini akan sepakat dengan pendapatku ini.

Sekali lagi, kamu mematut penampilanmu di hadapanku. Memastikan tak ada lagi yang perlu dibenahi. Kamu tersenyum puas. Lalu sosokmu menghilang setelah bunyi pintu ditutup. Kembali aku sendiri dalam kesunyian di kamar kost-mu ini, menanti dirimu pulang seperti hari-hari kemarin.

***

Aku terkejut saat kamu datang dengan wajah yang kesal. Seorang lelaki membuntuti langkahmu dan ikut masuk ke kamar. Ah..ya..itu kekasihmu kan ? Laki-laki yang paling sering datang ke kamar kost-mu ini. Biasanya, kamu akan tertawa manja saat ada kekasihmu. Tapi kali ini tidak ada tawa. Laki-laki itu juga tampak begitu marah. Sepertinya kalian sedang bertengkar. Pertengkaran pertama yang aku lihat di kamar ini. Atau mungkin pertengkaran yang kesekian kali dengan setting di tempat lain ? Entahlah..aku tidak tahu.

Kamu beradu mulut dengan lelaki itu, yang aku belum begitu paham kemana arah pembicaraannya. Kamu teriak, lelaki itu balas berteriak seolah tidak peduli teman-teman kost yang lain akan mendengar. Sepertinya akan begitu heboh. Biasanya, aku melihatmu beradu mulut tanpa suara dengan kekasihmu, saling memberikan kehangatan. Kurasa hati kalian saat ini sedang berjarak sehingga perlu berteriak tidak seperti saat hati kalian dekat, cukup hanya dengan bisik-bisik manja.

Matamu berlinang air mata, sambil sesekali terisak..

“Abang jahat...,” ucapmu lirih diantara isakmu. Ada nada kepedihan yang dalam. Lelaki yang kamu puja selama ini telah menyakiti hatimu.

“Sudah aku bilang, aku tidak suka kamu pergi dengan laki-laki itu !”

“Abang tahu kan, dia teman kuliahku. Aku sedang bikin tugas dengannya. Harus berapa kali aku bilang, bang ?"

“Pokoknya aku tidak mau tahu apapun alasannya. Kamu tidak boleh pergi dengan laki-laki manapun tanpa seijinku !”

“Bukankah aku selalu memegang kepercayaan abang. Kejujuran seperti apalagi yang abang inginkan. Jangan cemburu buta, bang..”

“Kamu membantah saja. Apa perlu aku memukul kamu ?”

Kamu terperangah. Tidak menyangka kekasih yang kamu cintai tega berkata seperti itu. Sejenak keberanian bangkit dalam dirimu.

“Pukul, bang..ayo pukul aku untuk menunjukkan kejantananmu. Tak kusangka kamu tega berbuat senista itu. Semakin jelas bagiku abang siapa !”

Mata kekasihmu sangat merah. Tangannya sudah siap melayang ke arah wajahmu tapi kemudian berbalik ke arahku dan....”Prrraaaakkkk....” dalam sekejap tubuhku hancur berkeping-keping. Beberapa pecahan tubuhku menancap di tangan kekasihmu. Darah mengucur dari tangan kekasihmu.

Kamu tak percaya melihat serpihan-serpihan tubuhku. Antara bingung, kamu menatap kekasihmu dan merasa kehilangan atas hancurnya diriku. Sebelas tahun aku menemanimu berakhir sia-sia tanpa makna. Sebentar lagi aku akan terganti dengan yang lain. Tak kan mampu lagi aku melihat sosok indahmu. Benar katamu, kekasihmu jahat !

Pertanyaannya :

Siapakah aku ? Huehehe... ( iseng.com )

Tuesday, November 2, 2010

Balita Mengenal Kambing Hitam ?

Gambar dipinjam dari sini


Semalam anak saya, Andro mengompol. Untuk yang kesekian kali sejak setahun yang lalu tidak memakai pampers. Jarang-jarang mengompol sebenarnya, tapi beberapa minggu ini cukup sering dibandingkan biasanya. Mungkin akibat cuaca yang dingin ditambah hujan yang turun akhir-akhir ini, atau saya yang kadang lalai mengantarkannya ke kamar mandi saat dia terbangun di malam hari diantara kantuknya. Memang semalam Andro tidak terbangun seperti biasanya, tidur pun cukup nyenyak jadi saya tidak tega membangunkannya untuk sekedar pipis di kamar mandi, toh sebelumnya sudah pipis dulu sebelum tidur.

Tahu-tahu menjelang dini hari Andro terbangun sambil bilang,” Ganti celana..ganti celana..”

Ups..benar saja celana, baju dan kasur sudah bersimbah pipis yang baunya khas itu. Dengan mata yang enggan melek, segera saya bawa ke kamar mandi, ganti celananya setelah saya lap badannya dengan air bersih. Setelah itu..dua-duanya tertidur pulas kembali.

Saat bangun tidur, saya tanya kepada Andro,”Siapa yang ngompol semalam ?”

Andro menjawab dengan keras,”Idot...!”

Saya sudah menduga, akhir-akhir ini Andro selalu memakai nama Idot untuk keperluan tertentu. Setahu saya, tidak ada nama temannya yang bernama Idot.

“Siapa Idot ?”, tanya saya untuk yang kesekian kali.

Andro tidak menjawab. Wajahnya menatap saya ragu-ragu. Belakangan saya tahu, Andro selalu memakai nama Idot saat dia mengompol dan untuk hal-hal yang kurang baik lainnya.

Saat saya tanya :

“Siapa yang nakal ?” jawabnya :”Idot...”

“Siapa yang malas ?” jawabnya : Idot...”

“Siapa yang jelek ?” jawabnya : Idot....”

“Siapa yang ngeyel ? Jawabnya : “Idot..”


Tapi saat saya tanya :

“Siapa yang pintar ?” jawabnya :”Andro..”

“Siapa yang rajin ?” jawabnya : “Andro..”

“Siapa yang ganteng ?” jawabnya : “Andro..”

“Siapa yang baik ?” jawabnya :”Andro..”

Hm..saya geleng-geleng kepala. Siapa yang ngajarin ya ? Idot adalah nama khayalan sekaligus kambing hitamnya untuk yang jelek-jelek. Asumsi saya, dengan memakai nama Idot, Andro tidak akan kena marah. Saya jadi ingat, waktu kecil dulu juga punya tokoh khayalan si baik dan si jahat dalam diri saya. Kedua tokoh itu laksana si kembar yang berbeda karakter. Saya menamainya Lili untuk yang baik dan Popo untuk si jahat. Saya bermain sandiwara sendiri memerankan tokoh si Lili dan si Popo yang sedang bercakap-cakap. Aneh ? Mungkin..tapi saya rasa itulah cikal bakal imajinasi saya berkembang hingga sekarang.

Saya cukup senang di usianya yang ke-3 tahun ini Andro sudah bisa membedakan yang baik dan yang buruk secara sederhana. Tapi saya tidak ingin, Idot selalu menjadi kambing hitam dan obyek tertuduh atas segala perbuatan buruknya. Saya ingin Andro mengakui secara jujur perbuatannya baik buruk atau baik. Istilahnya jangan sampai lempar batu sembunyi tangan dan berbohong. Bisa bahaya...

Memang tidak mudah untuk menjelaskannya secara panjang lebar kepadanya yang masih kecil, tapi saya mencobanya pelan-pelan. Bahwa setiap perbuatan itu ada sebab akibat, resiko dan tanggung jawab. Kalau berbuat salah, coba untuk diperbaiki. Oh my God..baru saya sadari ternyata menjadi orang tua itu sangat tidak mudah.

Kali lain, saya ngetes Andro lagi dengan pertanyaan..

“Siapa yang ngompol ?

“Andro...”

“Bagus..mau mengaku..Idot kemana ?”

“Lagi di Yogya..”

“Andro dan Idot itu sama nggak ?”

“Sama..”

Ya Tuhan..betapa bahagianya saya, Engkau titipkan seorang anak yang sangat lucu ini..


Sunday, October 10, 2010

Misteri Angka 10-10-10


It’s mean 10 Oktober 2010. Ya, di tanggal ini ada makna khusus bagi banyak orang. Bayangkan, perlu menunggu waktu yang lama, paling tidak satu abad untuk bisa menyatukan tiga angka istimewa itu menjadi satu. Seperti saat tanggal 7 Juli 1997, yang disingkat menjadi 07-07-07, angka 10-10-10 juga laris manis dipilih sebagai hari istimewa melepas masa lajang. Lihat saja, gedung-gedung resepsi atau hotel-hotel sudah habis di-booking oleh para calon pengantin yang memilih tanggal ini sebagai hari istimewa mereka. Perlu waktu beberapa bulan bahkan mungkin setahun sebelumnya untuk bisa menjadi pemenang atas beberapa jam menempati gedung itu di pesta resepsinya. Tak masalah walaupun harus bayar beberapa kali lipat lebih mahal. Maklum, banyak yang minat sih..

Banyak harapan, dengan memilih angka 10-10-10 sebagai hari pernikahan akan terjadi keseimbangan, kesempurnaan ataupun kelanggengan yang mengikuti dalam biduk rumah tangganya kelak. Sejuta harapan, sejuta impian berawal dari sebuah sugesti angka. Bisa benar atau tidak tergantung dari niat menjalaninya.

Lain soal, saya akan mengajak Anda semua untuk bermain-main dengan angka 10 ini. Siapa diantara kita yang tidak suka mendapat nilai 10 dalam mata pelajaran saat duduk di bangku sekolah dulu ? Hampir pasti tidak ada yang menolak angka super ini sebagai nilai tertinggi, terkecuali ada aturan nilai 100 sebagai angka maksimal. Tapi kan angka dasarnya adalah 10, terserah nanti kalau mau dijadikan kelipatan berapa. Semua mendamba angka 10 dapat diraih sebagai lambang kesempurnaan.

Kemudian, saya setuju jika angka 10-10-10 ini bisa membuat saya berbahagia. Apa pasal ? Karena, kebetulan anak semata wayang saya, Andro merayakan ulang tahunnya yang ketiga di tanggal ini. Sebenarnya, tanpa lahir di tanggal inipun, Andro tetap istimewa bagi saya. Tapi suatu kebetulan ini, memberi saya semangat bahwa apa yang telah dikaruniakan Tuhan kepada saya sekeluarga adalah anugerah yang tak terbantahkan. Adalah keharusan bagi saya untuk selalu mensyukurinya. Mempunyai anak yang sehat, cerdas, berbudi pekerti yang baik adalah harapan setiap orang tua .

Dan , di tanggal ini pula genap setahun usaha saya dan suami berjualan ban dan onderdil mobil . Belum apa-apa, masih panjang perjalanan yang harus kami lalui. Masih banyak yang harus dipelajari dan berbenah di sana sini. Masih jauh dari sempurna, tapi kami mensyukurinya. Angka sepuluh adalah harapan dan mimpi, tapi kami tidak ngoyo untuk bisa mencapainya. Biarlah perjalanan waktu dan proses yang bisa mendewasakan kami semua. Kalaupun jika akhirnya angka 10 hanya menjadi bayang-bayang saja, ya nggak masalah, wong nggak ada manusia yang sempurna kok. Anggap saja, angka sepuluh adalah angka cantik yang menjadi motivator untuk berbuat lebih baik lagi dari yang sudah-sudah. Bukan untuk mendewakan, mengkultuskan kemudian menjadikan sesuatu yang harus..nggak..sekedar lucu-lucuan saja, daripada nggak ada omongan. Ya toh..

Thursday, September 16, 2010

Saat Karnaval Usai


Aku seorang ibu yang bangga

Menatap buah hatinya yang tampak bahagia

Dengan kostum kebanggaannya..

Tampan rupawan penuh pesona


Ya..hari ini aku mengantarmu

Bersama dengan teman-teman kecilmu

Mencoba mengenal arti kata karnaval

Pawai berarak-arak di bulan kemerdekaan


Semua tumpah ruah dalam ceria

Kebersamaan yang tampak begitu lekat

Menyatukan satu suara

Untuk sebuah histori bangsa



Mengenang, merayakan dan bergembira..

Merdeka bangsaku

Merdeka anakku

Merdeka pula aku sebagai seorang ibu..






Wednesday, August 25, 2010

Saat Bulan Purnama...


Gambar dipinjam dari sini
Malam ini, kita bertiga duduk berjejer di teras rumah, barengan tengadah ke langit melihat bulan. Bulan purnama. Ya..kebetulan saat ini bulan bersinar terang dalam bulatan yang penuh. Ini kali pertama kita bisa menyaksikan bersama benda langit yang indah itu.

Pertama bagiku bisa menyaksikan bulan bersama suami dan anakku. Biasanya aku menyaksikan sendiri bulan-bulan yang lain dari bulan sabit, bulan setengah lingkaran dan bulan purnama. Dan pertama bagiku menyaksikan bulan dalam jeda waktu yang cukup lama. Biasanya aku hanya tengadah, melihat bulan di atas sana dan bergumam,”Oh..ada bulan..” Lalu masuk ke dalam rumah dan tidak keluar lagi untuk menyaksikannya.

Pertama pula bagi suamiku melihat bulan bersama istri dan anaknya. Biasanya dia hanya menatap sekilas seperti yang biasa aku lakukan. Dan sudah pasti, pertama pula bagi anakku yang menjelang tiga tahun usianya melihat bulan. Dia terbiasa melihat bulan-bulan sabit di malam-malam yang lalu tapi tidak selama malam ini.

“Itu bulannya gede banget..Andro mau pergi ke bulan..”, kalimat pertama Andro muncul diantara hening kami menyaksikan bulan.

“O,ya..Andro mau ? Naik apa nak ?”

“Naik pesawat..”

“Besok kalau Andro sudah gede ya..nanti di bulan mau ngapain ?”

“Mau main-main aja..”

Kita bertiga tertawa. Sungguh, kebersamaan ini terasa indah adanya. Menyatukan rasa kagum yang sama akan keindahan langit di malam hari.

“Itu ada bintang..banyak..,” pandangan Andro beralih dari bulan. Mata kami ikut mencari-cari.

“Iya..banyak sekali ya bintangnya..indah..kerlip-kerlip..”

Mata Andro berkedip-kedip, takjub menatap ribuan bintang yang bertebaran di langit sana.

Bintang kecil..di langit yang biru..amat banyak, menghias angkasa..aku ingin..terbang dan menari..jauh tinggi ke tempat kau berada…”

Andro menyanyi diiringi tepukan tangan dari bapak ibunya. Bangga..

“Oh..itu ada pesawat…,” Andro berteriak lagi..

Memang benar, ada pesawat yang melintas. Mungkin itu pesawat terakhir yang terbang hari ini. Sinar lampunya kerlap-kerlip membelah kegelapan malam.

“Apakah pesawatnya mau ke bulan Mama ?”

Aku sejenak terdiam. Berpikir jawaban apa yang masuk akal untuk kuberikan..

“Sepertinya tidak sayang..itu pesawat komersil yang akan mendarat di bandara..”

“Kenapa tidak ke bulan ?”

“Bulan itu jauh sekali sayang, kalau pakai pesawat biasa tidak akan mungkin sampai ke sana, harus dengan pesawat yang khusus..”

“Mama..bulannya hilang..pergi kemana ya ?”

Awan gelap menyelimuti. Bulan tertutup awan.

“Bulannya ketutup awan..”

Aku teringat, biasanya malam bulan purnama begini ada pertunjukan Sendratari Ramayana di Candi Prambanan. Masih adakah pertunjukan itu ? Mungkin saja, tapi aku belum pernah menyaksikannya secara langsung.

Saat-saat seperti ini, aku juga teringat akan lagu dolanan bocah tradisional Jawa, Padhang Bulan..

Yo prakanca, dolanan neng njaba..
(Ayo teman bermain di halaman )

Padang bulan, bulane kaya rina..
( Terang bulan, bulannya seperti siang..)

Rembulane..ne..sing ngawe-awe..
( Rembulannya..nya..memanggil-manggil..)

Ngelikake ojo pada turu sore..
(Mengingatkan jangan tidur sore-sore )


Monday, August 23, 2010

Andro Mau Bisnis...


Andro terlelap dalam pangkuanku. Melihat wajahnya saat tidur begitu, ibaku tumbuh. Dia bagaikan malaikat kecil yang memberi kedamaian. Beda sekali saat dia terjaga, tingkah polahnya sangat aktif. Membuatku berkali-kali harus mengejarnya, berteriak, dan akhirnya kelelahan saat menjaganya. Baru kusadari ternyata tidak gampang menjadi seorang ibu. Butuh pengorbanan dan waktu. Ada kalanya terselip rasa bangga saat banyak orang melihat Andro berkata," Duh, cakepnya, anak siapa ini ?"

“Mama..mau pergi kerja ya..?”

Ucap Andro setiap kali melihatku sudah rapi hendak berangkat kerja.

“Iya..mama mau bisnis..”, ucapku tanpa dipikir.

“Bisnis..? Mama..Andro mau ikut bisnis. Andro ikut mama bisnis..”

Andro merengek berulang-ulang. Aku tertawa. Tak menyangka Andro meniru ucapanku.

“Sayang, mama mau kerja, bisnis, cari uang buat beli susunya Andro..”

Tampak Andro berpikir sejenak.

“Beli telur juga kan, Ma ? Beli mainan, beli baju, beli vitamin, beli rumah, beli mobil..”

Ah..pemahaman luar biasa, nak. Tak kukira sedemikian cepatnya pola pikirmu. Berapa waktu yang telah terlewat tanpa sempat kulihat perkembangannya. Memang, jarak toko dan rumah tidak seberapa. Tapi meninggalkan Andro beberapa jam saat bekerja membuatku kehilangan beberapa momen baru yang kadang tidak sempat aku ketahui. Aku sebagai ibunya tidak menjadi yang pertama atas perkembangannya. Selalu aku ketahui dari mbak Ikem, yang mengasuh Andro dari pagi hingga sore.

“Tadi dik Andro main sandiwara sendiri Bu, bicara sendiri kalau mama lagi kerja, cari uang..trus liat gambar-gambar..”

“Tapi nggak rewel kan ?”

“Nggak Bu, tadi asyik nyanyi dan mewarnai sendiri..”

Syukurlah, Andro bukan tipe anak yang suka rewel. Walau kadang ada sifat manja, tapi saat diberi pengertian, dia akan mengerti. Sesekali aku ajak Andro ke toko supaya melihat kegiatan ayah ibunya berjualan mencari uang. Saat akan tutup toko pun, Andro paling semangat membantu ayahnya menggelindingkan ban-ban ke dalam. Andro hanya tertawa saat tangan-tangannya menghitam kena kotoran yang menempel di ban.

“Nanti cuci tangan..”, katanya sambil menatapku dan ayahnya.

Ah..Andro, masih panjang perjalanan hidupmu. Masih panjang pula perjuangan ayah dan ibumu dalam merintis usaha bersama ini.

Mungkin beda saat di zona nyaman menjadi karyawan dulu, yang bisa kita prediksi penghasilan setiap bulannya. Tapi sekarang, saat toko ramai ataupun sepi, berkawan dengan ketidak pastian, kita harus siap menghadapi semuanya. Semua demi meraih impian kita bersama, Nak..kita berjuang bareng-bareng dari nol..Okey..?




Wednesday, August 4, 2010

Gubug Tengah Sawah


Judith pernah ada di suatu masa, masa dimana kebanyakan orang menganggapnya sebagai suatu masa yang sulit, tapi Judith bisa menikmatinya……

Suatu masa dimana keterpurukan menjadi nyawanya, tapi Judith bisa mengecap rasa bahagia…....

Suatu masa dimana penderitaan menjadi peran utamanya, tapi Judith tidak merasakan apa itu sengsara……

Tawa selalu menggema dari bibirnya, kebersamaan menjadi kekuatan yang mengusir rasa sedihnya……

Masa itu ada di sekitar tahun 1980-an. Saat Judith masih lekat dengan ingus dan seragam putih merah menjadi seragam kebanggaannya.. Seragam yang dipakai berulang-ulang hingga kerahnya berwarna coklat kotor oleh keringat yang menempel, yang hanya satu pasang dipunya, hingga setiap 3 hari sekali, sepulang sekolah Judith harus cepat-cepat mencuci baju kotornya sambil berharap semoga matahari cukup terik bersinar hari itu, sehingga bisa mengeringkan bajunya.

Segera setelah kering ataupun jika terpaksa hanya setengah kering, digosoknya baju itu dengan setrika berkepala ayam jago yang berbahan bakar arang sebagai pemanasnya. Dikipas-kipasnya setrika itu supaya arang mampu berpijar dan sesekali mulutnya meniup abu yang beterbangan menghalau supaya abu-abu itu tidak menempel di seragamnya yang aslinya putih tapi kini sudah berubah warna menjadi broken white itu. Seragam yang menjadi bukti bahwa dirinya masih beruntung bisa menikmati bangku sekolah, sekalipun orang tuanya tidak berharta dan seringkali mendapat julukan sebagai kaum papa yang terpinggir.

Judith tinggal di sebuah rumah atau tepatnya gubug di tengah sawah, setelah berkali-kali pindah dari satu rumah kontrakan ke rumah kontrakan yang lain. Keadaan ini jauh lebih beruntung jika dibandingkan dengan sekian banyak orang yang tinggal di pinggir kali dengan kardus-kardus bekas yang dibentuk sedemikian rupa menjadi rumah-rumahan. Walaupun dinding gubug ini adalah gedeg dari anyaman bambu, dan atapnya dari seng bekas yang sesekali bisa terbang saat angin berhembus kencang menemani hujan yang turun deras dan disambut dengan kilat dan petir yang menggelegar, namun Judith dan keluarganya tetap masih bersyukur karena tidak dipungut bayaran atas sewa tanah sawah ini. Semua itu karena kebaikan hati pemilik pabrik tekstil tempat bapak Judith bekerja sebagai petugas keamanan.

Di tengah sawah ini, Judith berteman dengan sang kodok yang bernyanyi di malam hari, ditemani pula oleh kerlip indah si kunang-kunang. Judith juga berteman dengan pohon singkong tahun yang tumbuh lebat di samping gubugnya, yang batangnya cukup kuat menopang tubuhnya saat terayun di dalam selimut yang pinggirnya ditalikan membentuk semacam perahu ayunan. Tak jarang Judith sampai terlelap di dalam ayunan ini ditemani semilir angin yang sepoi-sepoi.

Di lain waktu, Judith juga bertegur sapa dengan ular sawah yang ditemuinya di pematang sawah saat Judith hendak pergi sekolah di pagi hari. Judith juga bebas menikmati malam-malam saat bulan purnama ataupun saat langit bertaburan banyak bintang. Judith menikmati semuanya. Alam menjadi sahabat terbaik Judith dan semua yang ada di sekitarnya dijadikannya teman tanpa kecuali, sekalipun beberapa diantaranya adalah benda mati.

Sekali waktu Judith bisa berlama-lama berada di sungai kecil yang tak jauh dari gubugnya. Kadangkala sendiri atau kerapkali bersama dengan teman-teman sekolah Judith. Bermain dan bersenda gurau dalam kecipak air sungai yang masih jernih, tertawa riang saat tangan-tangan kecilnya membalas menyipratkan air sungai ke tubuh teman-temannya. Tak peduli bajunya yang basah, atau kaki-kakinya yang berlumuran lumpur saat tanpa sengaja terlempar ke dalam genangan sawah tak jauh dari sungai. Tak ada rasa khawatir akan sakitkah mereka nanti. Gelak tawa dan canda saling bersahutan diantara pelototan mata sang pemilik sawah yang gusar karena sawahnya terinjak-injak. Semuanya berlari menghindari amarah yang lebih hebat dari para petani tadi.

Semuanya mengalir begitu saja, begitu lepas dan semakin ruah saat hujan tiba-tiba tercurah dari langit mengguyur tubuh-tubuh mungil itu tanpa permisi. Sorak kegirangan terlontar begitu nyata. Menikmati hujan yang menyambut mereka dengan ramah tanpa pernah bertanya apa status sosial mereka, ataupun sekedar bertanya berapa jumlah uang saku yang mereka punya. Hujan yang senantiasa tulus mengisi keceriaan mereka yang tak pernah dimanjakan dengan uang ataupun gelimangan harta. Hujan yang setia menjalankan tugasnya sebagai pemberi berkah di bumi. Hujan yang tidak minta balas jasa atas keriangan yang telah mereka rasakan. Hujan yang turun tanpa pamrih. Hujan yang tidak pernah mencoba melawan takdirnya memberikan kesejukan dan kebahagiaan.

Seringkali saat senja menjelang, Judith mengayuh sepeda tuanya menuju warung terdekat membeli minyak tanah untuk mengisi lampu teplok. Di lingkungan sekitar Judith tinggal, listrik bukanlah barang langka, tapi keluarga Judith belum mampu untuk menggunakannya. Setiap hari rutinitas ini dijalankan Judith atau sesekali bergantian tugas dengan kakak-kakak laki-lakinya. Sudah hal biasa jika minyak tanah itu tumpah sedikit mengenai tangan Judith dan berbau. Judith seringkali kesal menyadari kecerobohannya sendiri.

Saat malam hari, Judith belajar dengan penerangan lampu teplok. Matanya seringkali memicing membaca tulisan di buku pelajarannya. Kadang-kadang Judith menyesali kenapa tidak belajar di siang hari saja saat matahari masih mampu memberikan penerangan yang lebih dari sekedar lampu teplok. Tapi siang hari Judith sering disibukkan dengan pekerjaan rumah tangga menggantikan tugas ibunya yang bekerja sebagai tukang cuci dan tukang masak di sebuah rumah orang kaya yang punya usaha kost. Dan seringkali Judith tertidur kelelahan setelahnya. Jadi, lewatlah sinar matahari siang itu dengan percuma, kecuali saat Judith mencuci baju-bajunya.

Pernah suatu waktu saat Judith sedang belajar di malam hari, tiba-tiba ada sesuatu yang jatuh dari atas atap gubugnya, tepat mengenai kepalanya. Judith terlonjak kaget dan lebih terkejut lagi ternyata sesuatu itu adalah seekor ular. Saat itu bapak ibu dan kakaknya juga sedang berkumpul belum ada yang tertidur. Jadilah beramai-ramai mereka mengusir ular itu keluar dan terpaksa dibunuh kemudian dibuang ke tempat yang jauh dari gubugnya. Judith sedikit ngeri membayangkan jika ular tadi berhasil membelit atau menggigit dirinya atau anggota keluarganya. Syukurlah, kengerian itu tidak terjadi.

Wednesday, July 7, 2010

Ritual Bersama si Kecil


Saat paling bahagia dalam hidup saya adalah ketika saya punya banyak waktu bersama sang buah hati. Saya serasa disegarkan kembali dengan keceriaannya, ikut larut dalam dunia kanak-kanaknya yang penuh dengan canda tawa. Walaupun kadang harus ikut pontang-panting mengejarnya, melarangnya untuk mengambil benda-benda yang berbahaya, berteriak-teriak saat dia susah diatur..tapi sungguh, semua ini menjadi obat stress yang mujarab.

Kadang, secara tidak langsung si kecil mengajari saya tentang banyak hal. Tentang apa itu ketulusan, kepolosan, kegembiraan, kesedihan, cita-cita, kemauan keras, spontanitas, tanggung jawab, bahkan kedewasaan.

Ya..lewat si kecil saya belajar akan apa arti kedewasaan sekaligus bagaimana memikul suatu tanggung jawab. Saya tak bisa lagi egois seperti saat saya masih gadis dulu. Ada tanggung jawab moril yang harus saya pikul dalam membesarkan, mendidik, mendukung cita-cita dan mewujudkan mimpi-mimpinya.

Dalam diri si kecil, saya belajar bagaimana menjadi orang tua yang bukan hanya sebagai seseorang yang telah melahirkannya dan selalu ingin dihormati, tapi lebih kepada sisi humanis saya sebagai manusia. Saya punya perasaan yang tidak jauh beda dengannya. Saya ingin dicintai, maka saya pun mencintainya dengan segenap hati. Saya ingin diperhatikan, maka saya pun memperhatikannya. Saya berusaha menempatkan diri bukan hanya sebagai orang yang lebih dulu lahir, tapi sebisa mungkin juga berperan sebagai sahabat.

Saya tidak ingin menjadi sosok yang ditakuti oleh anak saya. Saya ingin menjadi orang tua yang hangat, yang mau mengakui kesalahannya, yang bisa bilang terima kasih, yang bisa menjadi teman berbagi suka dan duka. Saya ingin mengenal anak saya seutuhnya. Saya tidak ingin si kecil lebih akrab dengan pengasuhnya dibandingkan dengan saya, ibunya. Saya ingin dia bisa bahagia dan bisa menunjukkan kepada orang lain bahwa dia tidak malu mengakui saya sebagai ibunya di depan teman-temannya kelak.

Mungkin saat ini, saya cukup berbahagia bisa menjalankan ritual bersama anak saya yang berusia 2 tahun lebih 9 bulan itu. Ritual apa saja, baiklah akan saya uraikan satu persatu..

Memandikan si Kecil

Saya menyempatkan diri memandikannya di pagi hari sebelum saya beraktivitas. Biasanya si kecil minta sendiri mau dimandikan sama Papa, atau sama Mama. Jika dia memilih saya, maka dengan senang hati saya melakukannya

Menyuapi si kecil

Setelah mandi, sebelum pengasuhnya datang, saya sudah menyuapinya terlebih dahulu. Saya jadi tahu porsi makanannya dan tahu masakan apa yang dia suka atau yang tidak disuka. Bahkan saya tahu cara membujuknya untuk makan sayur dengan memberinya tepuk tangan atau kata-kata hebat saat si kecil berhasil memakannya tanpa sisa. Dan dia menyukainya.

Berjemur di bawah sinar matahari pagi

Ritual ini selalu kami lakukan bersama dari sejak lahir hingga usianya kini. Sinar matahari pagi penting bagi pertumbuhan tulang si kecil dan penting pula bagi tulang saya yang mulai menua. Ada simbiosis mutualisme segitiga antara sinar matahari pagi, saya dan si kecil. Paling tidak, matahari merasa senang dianggap berjasa hehe..

Memijat si kecil

Tidak dipungkiri, si kecil juga bisa pegal-pegal setelah seharian bermain atau berlarian. Berdasar referensi dari CD tentang pijat bayi, maka dari si kecil umur sebulan sampai sekarang, saya terbiasa memijatnya setiap seminggu sekali. Pijat ringan aja sih, pakai baby oil sebelum mandi, yang penting ada sentuhan kasih sayang ibunya dan terbukti si kecil cukup menikmatinya bahkan seringkali berinisiatif sendiri minta dipijat. Wah..jadi ketagihan ya, nak..

Keliling desa naik motor sama si kecil

Si kecil lagi senang-senangnya dibonceng di depan naik motor. Setiap kali saya pulang saat jam istirahat untuk menengoknya, saya tinggal pipis sebentar, tahu-tahu si kecil sudah nangkring di jok motor yang lagi parkir di depan rumah. Aduh..kalau disuruh turun malah teriak-teriak. Jadilah saya mengajaknya berkeliling lewat jalan setapak yang masih rindang dengan pepohonan yang biasa disebut si kecil dengan ‘hutan’, terus lewat ke lapangan sepak bola di ujung desa. Setelah puas berkeliling biasanya si kecil mau turun dan langsung duduk di lantai teras sambil dadah-dadah saat saya tinggal ke toko.

Mendongeng sebelum tidur

Biasanya saya bercerita tentang dongeng yang sudah familiar turun temurun seperti Si kancil mencuri timun, Cinderela, Pangeran Kodok, cerita Fabel atau kadang saya ngarang-ngarang cerita kalau sudah tidak ada bacaan lagi. Biasanya saya cerita tentang masa kecil saya, pengalaman neneknya, hewan peliharaan saya, apa saja yang cukup menarik minat si kecil. Biasanya dia akan serius menyimak dan menanggapi sampai akhirnya sukses tertidur. Uf..leganya..

Mengajari menyanyi

Terus terang, suara saya nggak jelek-jelek amat dan saya hobby nyanyi, jadi tanpa kenal lelah hampir semua lagu anak saya ajarkan ke si kecil..dan bersyukur, hingga saat ini lebih dari 25 lagu anak-anak berhasil dinyanyikan si kecil dengan sukses..pernah saya mengetesnya dengan mengajaknya bernyanyi dengan menyebut judulnya saja, si kecil langsung menyanyi sampai selesai, disambung dengan lagu lain begitu seterusnya sampai 20 lagu tanpa henti..luar biasa medley acapela jadinya..( istilah apa sih.. ), sampai saya kelelahan sendiri. Udah gitu si kecil masih teriak-teriak pengin nambah lagi..alamak..nanti deh kapan-kapan mama bikinin konser mini di teras rumah manggil tetangga se-RT ya nak..

Mengajar Menggambar dan Mewarnai

Walau nilai gambar saya saat SD sering dapat nilai 6, tapi sudah kewajiban saya untuk mengajarinya menggambar. Meskipun nggak bisa bagus, paling nggak ada bentuknya lah..seperti nggambar pohon, binatang, pemandangan tapi kalau sudah rumit-rumit seperti kendaraan, waktu sepenuhnya saya serahkan kepada bapaknya saja..hehe..kalau ngajari mewarnai kan gampang..

Mengantar ke PAUD

Kebetulan, dibalai dusun tak jauh dari rumah ada kegiatan PAUD dua kali dalam seminggu yaitu semacam pendidikan non formal untuk anak-anak usia dini. Karena si kecil belum masuk playgroup, maka sementara saya mengikut sertakannya di PAUD ini. Yang mengajar juga guru TK, ada permainan edukatif, menyanyi, menggambar, pokoknya sudah persis seperti play group. O,ya di tempat saya tinggal sekolah Play group baru ada di kota sekitar 7 km dari rumah. Daripada kecapekan di jalan, sementara masuk PAUD dulu sampai nunggu umur 3 tahun..murah meriah kok..

Melihat Sapi dan Kambing

Tetangga ada yang punya kandang sapi dan kambing. Si kecil senang sekali melihatnya. Kambingnya diberi makan dedaunan, sapinya dielus-elus. Wah..saya ikut senang melihat ekspresi cerianya…

Melihat kendaraan yang lewat

Sesekali si kecil saya ajak ke toko yang dekat dengan jalan raya. Dari tempat duduk, si kecil melihat kendaraan yang lewat,”Itu truk..itu mobil pick up..itu motor..itu sedan..itu kijang..itu jeep..”. Atau saat berada di rumah eyangnya di Yogya, saya ajak si kecil melihat kereta api yang lewat tak jauh dari rumah dan pesawat terbang yang melintas di atas udara. Wah..betapa bahagia dan bangganya saya....

Hm..ritual apa lagi ya..mungkin teman-teman bisa saling melengkapi ? Berbagi yuk..

Tuesday, June 29, 2010

Tips Memberi Obat Pada Si Kecil


Seringkali sebagai orang tua, kita kewalahan saat harus meminumkan obat pada si kecil yang lagi sakit. Mulai dari si kecil yang susah membuka mulut, pakai acara kejar-kejaran, tangisan si kecil yang menyayat hati sampai obat yang disemburkan lagi saat sudah berhasil masuk ke mulut. Wah..harus ada perjuangan yang ekstra keras demi kesembuhan si kecil.

Dan saat putus asa mulai melanda, biasanya hanya ada satu cara : memaksa dengan cara berkolaborasi dengan bapaknya si kecil, satu pegangin tangan, satu pegang kaki, si ibu memasukkan obat dengan paksa ke mulut si anak tanpa menghiraukan tangisannya lagi. Biasanya cara ini cukup berhasil tapi tahukah kita jika cara seperti ini bisa menimbulkan ketakutan dan trauma si kecil pada obat ?

Sebenarnya, yang paling penting adalah bagaimana cara menumbuhkan kesadaran pada si kecil tentang pentingnya obat untuk kesembuhan. Memang nggak gampang, dan saya sendiri sudah merasakannya.

Obat untuk si kecil itu kan macam-macam, ada yang berupa syrup, puyer atau tablet yang harus digerus dulu. Jika obat itu berupa syrup, mungkin si kecil bisa suka karena rasanya manis, tapi untuk obat yang pahit seperti puyer dan tablet ? Nah, ini dia beberapa trik yang mungkin bisa membantu berdasarkan pengalaman yang saya lakukan pada si kecil :

Memakai Pipet Tetes

Biasanya cara ini cukup efektif saat saya memberi vitamin atau obat berupa syrup, dan berhasil juga untuk obat puyer yang sudah dicampur dengan air di taruh di sendok makan, kemudian cairan obat diambil dengan pipet dan diminumkan kepada si kecil. Biasanya saya membujuk si kecil dengan omongan seperti ini,” Ayo Andro sayang, obatnya diminum..sluuurrrrppp…srrruuuuttt…pinter…”. Jika obat itu memang pahit, segera setiap satu pipet diminum, si kecil diberi minum air putih kemudian obat lagi, air putih lagi dan begitu seterusnya sampai obat habis.

Campur dengan Pisang

Sesekali dicoba pula untuk memasukkan obat pahit yang digerus dahulu ke dalam pisang yang sudah dikerok. Si kecil tidak sepenuhnya menyadari jika ada obat di dalam pisangnya. Tahu-tahu, lho kok sakitnya sudah sembuh ? Hehe..

Langsung memberi obat

Saat ini saya sudah tidak kesulitan lagi jika anak saya batuk pilek atau saat alergi karena udara panas sampai badannya bentol-bentol merah dan harus minum obat dari dokter. Andro, anak saya sudah gampang minum obat dan tidak takut jika diajak ke dokter.

Saya tinggal bilang,” Minum obat, yuk, sayang..”

Andro langsung berlari dan segera menunjuk obat yang tersimpan di atas lemari obat.

Jika saya berlama-lama, Andro segera berteriak,” Minum obat, mama..”.

Saya selalu menggoda, “Nanti aja, ya…obatnya mau diminum mama....”

Waaaa…,” Andro segera berteriak dan menangis.

Begitu obat itu saya ambil, Andro sudah membuka mulutnya lebar-lebar..padahal saya harus menggerus obat pahit itu di sendok makan dahulu..wah, sudah nggak sabar ya nak..dan habislah obat itu diminum Andro sampai tetes terakhir dan satu gelas air putih pun ditandaskannya. Saya geleng-geleng kepala. Apalagi kalau obat atau vitamin yang berupa syrup. Saya sudah tidak perlu bantuan bapaknya lagi untuk minum obat si kecil.

Biasanya orang tua yang mengajak anak minum obat, tapi anak saya malah yang bilang duluan mau minum obat supaya sembuh. Wah..beruntungnya saya..