Wednesday, May 16, 2012
Dalam Diam, Kita Bicara...
Friday, December 23, 2011
Surat Dari Panti Jompo

Anak-anakku,
Saat ini ibu sudah tenang tinggal di Panti Jompo. Kalian tidak perlu risau dengan keadaaan ibu, karena sudah ada yang mengurus ibu disini. Ibu pun sudah punya banyak teman yang senasib dengan ibu di panti ini. Tak perlulah kalian merasa bersalah dengan tindakan kalian yang memasukkan ibu di tempat ini. Tindakan kalian sudah tepat, sangat tepat karena ibu tidak kesepian lagi disini. Ada banyak teman untuk saling berbagi cerita. Bukankah kita semua sudah sepakat kalau ini cara terbaik yang dipilih untuk kebaikan semuanya ?
Ibu tidak merasa kalian telah membuang ibu disini. Justru ibu merasa bisa beristirahat dengan tenang. Ibu tidak ingin menjadi beban bagi kalian semua yang saling bertanya giliran siapa yang akan menampung ibu di rumah megah kalian. Dan kalian tidak perlu khawatir anak-anak kalian salah didikan hanya karena ibu terlalu kolot mendidik cucu. Kita tidak pernah sepaham dalam mendidik anak, padahal dulu ibu mendidik kalian persis seperti apa yang ibu terapkan kepada anak-anak kalian, cucu-cucu ibu. Kalian lebih percaya dengan majalah, internet dan apa kata orang daripada ibu kalian sendiri. Tak apalah, kalian sudah lebih pintar dari ibu. Mungkin juga jaman yang sudah maju, tidak relevan lagi dengan cara didikan ibu yang ketinggalan jaman.
Anak-anakku,
Ibu sangat senang dan bersyukur kalian semua sudah menjadi orang yang mapan. Yang mempunyai kedudukan penting di tempat kerja kalian masing-masing. Ibu bangga, karena segala perjuangan ayah dan ibu dulu tidak sia-sia dalam membesarkan kalian. Tentunya ayah di surga bisa tersenyum bahagia melihat keberhasilan kalian semua.
Tapi, ibu juga khawatir dengan segala waktu yang kalian gunakan dalam bekerja setiap hari. Kalian sudah bangun pagi-pagi sekali saat anak-anak kalian masih terlelap tidur. Demikian pula denga suami ataupun istri kalian. Semua memilih jalannya meniti karier yang tertinggi. Kemudian kalian akan pulang saat hari sudah gelap, dan menyaksikan anak-anak kalian telah terlelap tidur. Mereka, anak-anak kalian, cucu-cucuku tersayang hanya tinggal dengan pembantu selepas usai sekolah. Mereka hanya punya waktu sempit bertemu dengan kalian saat kalian libur, itupun jika kalian tidak kelelahan ataupun saat tidak ada acara dengan relasi kerja kalian di hari libur. Ah..kalian melewatkan banyak momen penting dalam perkembangan anak-anak kalian.
Memang, kalian mampu memberikan pendidikan yang terbaik buat mereka. Melengkapi semua kebutuhan mereka dari pakaian, mainan dan makanan yang lebih dari cukup. Tapi kalian lupa, mereka bukanlah robot yang akan menurut diberi ini itu. Mereka juga berhak kasih sayang dari kalian yang sangat terbatas. Ibu mohon, jangan batasi kasih sayang kalian untuk mereka ya ? Sungguh, sebenarnya ibu ingin sekali menemani hari-hari mereka daripada hanya didiamkan saja oleh pembantu-pembantu kalian.
Anak-anakku,
Ibu tidak pernah menuntut kalian untuk membalas semua perjuangan yang telah ibu lakukan bersama ayah kalian dalam membesarkan kalian. Tidak. Sudah menjadi kewajiban ayah dan ibu sebagai orang tua kalian mendidik, memberikan pendidikan dan kebutuhan selayaknya. Kalian harus jadi orang yang lebih baik pendidikannya dari ayah ibumu ini yang hanya sampai bangku SMP. Tak peduli saat itu ayah harus membanting tulang berjualan apa saja dan ibu rela bekerja apa saja dari menjadi babby sitter, memasak di kost-kostan atau menjadi buruh cuci dan setrika pakaian sekalipun. Semua ayah dan ibu lakukan dengan tulus ikhlas demi tanggung jawab kami untuk penghidupan yang lebih layak bagi kalian.
Ibu pun tahu, saat kalian masih kecil, harus korban perasaan saat ada beberapa teman kalian yang menghina pekerjaan ayah dan ibu kalian. Tak apa, kalian jadi kuat karena itu. Walaupun awalnya, ibu tidak pernah tega melihat air mata yang kalian sembunyikan dari ibu. Ibu tahu, kalian menangis karena malu orang tua kalian bukan pejabat atau seorang pengusaha besar yang penuh limpahan materi. Tak apa, toh orang tua kalian bukan maling, pengemis atau orang yang bekerja dengan merampas hak orang lain. Kami bekerja apa saja yang kami bisa, seijin Tuhan yang selalu membimbing kita. Halal, itu yang kami cari, nak..
Melihat kalian bisa hidup layak seperti sekarang saja ibu sudah sangat bahagia. Tak ada lagi barang duniawi yang ingin ibu miliki. Toh, ibu hanya tinggal menunggu waktu dipanggil sang khalik. Ibu hanya ingin kalian pun bisa bahagia di dunia dan akhirat nanti.
Anak-anakku,
Ibu hanya sedikit menyesal kenapa tidak ada dari kalian yang mau mengalah menjadi ibu rumah tangga mendidik anak-anak kalian. Bukankah pekerjaan suamimu sudah cukup untuk menopang hidup kalian. Bukannya ibu mengabaikan pendidikan kalian yang sudah susah payah ibu perjuangkan, ibu hanya minta kalian memberikan waktu yang lebih untuk perkembangan anak-anak kalian yang masih kecil-kecil, yang masih sangat membutuhkan kasih sayang. Atau, kalian bisa membuka usaha di rumah sehingga anak-anak kalian bisa kalian awasi. Kalian tidak percaya kan saat ibu memergoki pembantu kalian memberi obat tidur kepada anak kalian yang rewel ? Bukannya kalian memecat pembantu itu, kalian malah menyalahkan ibu yang tidak ikut mengawasi pembantu. Tahukah kalian jika pembantu kalian itu seenaknya sendiri saat kalian tidak ada, berpacaran dengan tukang sayur dan meninggalkan anak-anak kalian dengan ibu ? Andai tenaga ibu masih sekuat dulu, mungkin ibu akan menampar pembantu kalian yang kurang ajar itu. Ibu sudah memberi tahu mereka tapi mereka bilang, tidak gampang cari pembantu lagi. Mereka merasa sangat dibutuhkan. Ibu sangat khawatir dengan perkembangan cucu-cucu ibu.
Anak-anakku,
Saat ini ibu sudah dimakan usia. Tenaga sudah tidak sekuat dulu. Ingatan ibu mulai banyak yang berkurang. Pendengaran ibu juga sudah tidak semaksimal dulu. Sering kalian harus membentak-bentak saat bicara dengan ibu. Saat ibu keberatan, kalian bilang serba salah, ngomong pelan tidak dengar, ngomong keras dikira membentak. Mana yang benar sebenarnya. Tidak adakah kesabaran lagi yang kalian miliki ?
Dulu, hanya ibu dan ayah yang bekerja keras membanting tulang, tapi sanggup membesarkan kalian, anak-anakku yang berjumlah lima orang. Sekarang, dari kalian berlima, tidak ada satupun yang mau merawat ibu, orang tua kalian yang tinggal satu-satunya. Kalian cukup patungan berlima membayar semua kebutuhan ibu di panti jompo ini. Mungkin lebih baik daripada ibu menjadi gelandangan karena ayah dan ibu tidak mampu membeli rumah karena penghasilan yang didapat selalu untuk biaya pendidikan dan kebutuhan kalian, selalu hanya bisa mengontrak rumah yang kecil. Tak apa, ibu terima semua ini. Ibu ikhlas. Ibu hanya minta, paling tidak kalian datang kesini menjenguk ibu, bersama dengan suami atau istri kalian, bersama anak-anak kalian, cucu-cucuku tersayang. Tapi apa ? Belum ada satupun yang menjenguk setelah ibu tinggal disini hampir satu bulan. Apa kalian pikir hanya dengan mentransfer uang ke panti ini saja sudah cukup tanpa perlu melihat bagaimana keadaan ibu ? Ibu rindu dengan kalian semua. Tapi kerinduan itu hanya mampu ibu ceritakan dengan teman-teman ibu penghuni panti disini. Kami sama-sama kesepian disini menantikan kunjungan anak-anak yang tak pernah datang.
Anak-anakku,
Jaman memang sudah berubah. Semua orang hanya berpikir praktisnya saja. Memang praktis bagi kalian tanpa harus repot mengurus ibu yang sudah tua ini, yang sudah tak mampu berbuat banyak Untuk menimang cucu saja sudah tidak mampu. Kalah gesit dengan anak kalian yang baru berumur satu tahun. Apalagi sifat ibu sekarang sudah seperti kanak-kanak lagi. Menjadi orang tua yang tak berguna. Hanya bikin malu teman-teman kalian saja. Ya sudah, tak usahlah itu diperdebatkan. Ini hidup ibu. Ibu akan jalani dengan sekuat tenaga. Toh, tugas ibu membesarkan kalian sudah selesai. Tak usahlah kalian ganti merawat ibu dengan sepenuh hati jika hanya merepotkan. Ibu masih terjamin hidup disini. Limpahan kasih sayang ibu tak perlu kalian balas dengan berbuat serupa ibu merawat kalian dari bayi dulu. Tidak, kalian tidak sedang berhutang budi kepada ibu. Karena ibu tidak pernah menganggap semua perjuangan ibu sebagai hutang kepada kalian. Tidak pantas didengar Tuhan. Orang tua tidak berhak menuntut apa-apa kepada anaknya. Pun ketika kalian berkeputusan membawa ibu ke panti jompo ini. Ini sudah lebih dari cukup daripada ibu dibiarkan mati sia-sia.
Salam sayang
Ibu
*****
Surat itu dikirim lewat pos kelima alamat di kota. Kepada lima orang anak dari seorang ibu yang tinggal di panti jompo.
Anak pertama, seorang laki-laki yang mempunyai kedudukan penting di sebuah perusahaan asing terhenyak membaca surat itu. Dia hanya mampu terdiam. Dialah yang pertama kali mempunyai gagasan untuk memasukkan ibunya ke panti jompo. Istrinya keberatan jika ibu mertuanya selalu tinggal di rumahnya yang megah, malu jika orang tuanya atau saudara-saudaranya yang sangat kaya berkunjung ke rumahnya. Maka, berembuglah si sulung dengan adik-adiknya. Memang tidak semua setuju, namun akhirnya tak ada pilihan lain karena semuanya sibuk.
Anak kedua, seorang perempuan langsung menangis membaca surat dari ibunya. Dia merasa sangat berdosa tapi tak mampu berbuat banyak. Anaknya tiga orang membutuhkan banyak biaya untuk sekolah yang tidak sedikit. Karena itu dia dan suaminya sibuk bekerja seharian sehingga tidak punya banyak waktu untuk anak-anak apalagi mengurus ibunya. Maka memasukkan ibu ke panti jompo sementara menjadi pilihan yang masuk akal.
Anak ketiga, seorang laki-laki merasa terpukul dengan isi surat dari ibunya. Dialah yang menuduh ibunya tidak mengawasi pembantunya dengan baik saat memberi obat tidur anaknya. Istrinya seorang wanita karier sukses yang melanglang buana kemana-mana hingga keluar negeri. Laki-laki itu merasa kalah saing dengan karier istrinya, maka dia bekerja siang malam demi mengejar kedudukan yang sejajar dengan istrinya. Maka, anak dan ibunya jadi korban ambisi butanya.
Anak keempat, seorang laki-laki, mempunyai keluarga paling sederhana diantara kakak-kakaknya. Menangis sesenggukan saat membaca surat dari ibunya. Dia bekerja sebagai guru di sebuah sekolah negeri. Istrinya juga seorang guru TK. Selama ini memang ibunya paling betah tinggal di rumahnya, namun demi menghidupi dua orang anak yang masih kecil dan harus membayar gaji pembantu, mereka hidup pas-pasan sehingga untuk ikut menanggung ibunya mereka kesulitan biaya. Untuk minta kepada kakak-kakaknya, dia tidak enak hati. Maka dia menyerah pada keputusan memasukkan ibu ke panti jompo. Sebuah ironi, karena dia dan istrinya adalah seorang guru.
Anak kelima, seorang perempuan yang bekerja sebagai seorang sekretaris. Menangis setelah membaca surat dari ibunya. Suaminya bekerja sebagai manager di perusahaan ternama. Suaminya pada awalnya adalah orang baik, tapi di saat-saat tertentu mempunyai kepribadian ganda di luar kesadarannya. Sering memukul istrinya tanpa alasan yang jelas dan menteror dengan kata-kata yang kasar. Anak kelima korban kekerasan dalam rumah tangga namun tidak berani melapor karena kasihan dengan anaknya yang masih kecil-kecil. Sudah pasti, ibunya tidak mungkin tinggal bersamanya. Dia tidak ingin ibunya tahu bahwa sebenarnya dia sangat menderita. Dan ibunya tidak pernah tahu, karena itu dia setuju saja saat ibunya dimasukkan ke panti jompo karena itu jalan terbaik untuk saat ini.
Mereka berlima akhirnya menjenguk ibunya ke panti jompo, mengajak anak, suami dan istri masing-masing. Semua bertekad, akan membawa ibu ke rumah mereka masing-masing seperti apa yang sebelumnya mereka lakukan. Mereka tidak ingin dianggap anak yang tidak tahu membalas kasih sayang orang tua. Mereka berjanji akan saling membantu untuk biaya ibu sehari-hari. Mereka bertekad untuk bersama-sama membahagiakan ibunya, terutama di hari tuanya. Biarkan ibunya merasa senang tinggal dengan cucu-cucunya.
Monday, October 24, 2011
Mau Pintar ? Ke Taman Pintar Yuk..!


Wednesday, October 19, 2011
101011

Kadang, angka tertentu diyakini mendatangkan keberuntungan. Entah sebagai sugesti atau apa, banyak orang berburu nomor cantik yang diyakini mendatangkan rejeki. Bahkan beramai-ramai orang memasang nomor supaya menang..eh..itu mah togel ya, masih adakah..atau ada yang setia pasang sampai sekarang ? Hehe..
Lain halnya dengan saya, tanggal 10 Oktober 2011, yang disingkat jadi angka 101011 merupakan hari istimewa, karena ada dua peristiwa yang menyertainya. Yang pertama, di tanggal ini genap anak kami, Andro berulang tahun ke-4. Secara kebetulan pula, hari ini adalah perayaan dua tahun Wiyono Putro Autoshop berdiri. Keduanya masih umur balita, sedang lucu-lucunya. Dua tahun adalah usia dimana anak sedang senang-senangnya berjalan, berlari, berbicara dan menyanyi. Sedangkan empat tahun adalah usia dimana anak sedang senang-senangnya bersekolah mempersiapkan pra TK-nya. Mulai senang menggambar, belajar huruf dan angka bahkan berusaha untuk bisa membaca dan menulis.
Keduanya adalah anugerah yang tak ternilai. Anak dan usaha. Harapannya, keduanya bisa sama-sama berkembang seiring sejalan saling melengkapi. Tidak mudah menciptakan sinergi yang seimbang untuk keduanya. Anak penting, usaha juga penting.
Percaya atau tidak, motivasi awal kami membuka usaha adalah karena anak. Anak adalah anugerah dari Tuhan yang sudah selayaknya dilimpahi kasih sayang yang berlimpah dari orang tuanya. Hal yang berkaitan dengan ini adalah waktu. Saat menjadi karyawan, saya dan suami sering kehabisan waktu bersama. Keduanya larut dalam pekerjaan di kantor yang menghabiskan seharian waktu kami. Akibatnya, kami terbatas untuk bertemu dan bersama dengan anak kami yang waktu itu masih bayi. Bahkan saat ibu saya yang biasa mengasuh anak kami harus pergi ke Kalimantan karena ada urusan keluarga, terpaksa anak kami titipkan eyangnya dari pihak suami yang tinggal di Yogya selama beberapa bulan sementara kami bekerja di Cirebon. Sedih rasanya harus berpisah dengan buah hati. Dua minggu sekali saya dan suami pulang ke Yogya untuk menengok anak.
Di sisi lain, menjadi dilema bagi kami untuk mencari nafkah yang sebanyak-banyaknya demi penghidupan dan pendidikan yang layak bagi buah hati. Tentunya dibutuhkan materi yang tidak sedikit. Karena itu, kami bersama-sama merancang masa depan kami dengan buka usaha bersama. Dengan berani membuka usaha, kami bisa menghasilkan pendapatan yang tidak terbatas. Tidak seperti saat menjadi karyawan yang gajinya naik tidak lebih dari 20% setiap tahunnya.
Jadi, saat ini kami merasakan banyak manfaat dengan buka usaha sendiri. Saya dan suami bisa ketemu anak setiap hari, setiap saat di toko dan di rumah. Waktunya juga lebih fleksibel untuk bertemu dengan anak. Bahkan kadang anak juga diajak ke toko. Waktu untuk kebersamaan melimpah, dan dengan restu Tuhan, semoga panghasilan yang tak terbatas bisa kami dapatkan. Tujuan akhirnya adalah keluarga harmonis, usaha lancar jaya, bermanfaat bagi semua orang. Selaras, serasi dan seimbang.
Masih teringat jelas dalam ingatan saya saat 2 tahun yang lalu, 10 Oktober 2009, awal berdirinya Wiyono Putro Autoshop yang sengaja tanggalnya dipilih sama dengan tanggal ulang tahun ke-2 anak kami. Tanggal ini dipilih sekaligus sebagai pengingat dan penyemangat bahwa ada 2 kelahiran yang sangat penting bagi kami yaitu anak dan usaha.
Sekedar diketahui, pembicaraan tentang buka usaha ini berlangsung sangat cepat. Saat lebaran di bulan September 2009, kami bertemu dengan Om Nur , Om dari suami saya yang mengajak kami untuk buka usaha di gunung Kidul, yang selanjutnya menjadi penyuport pinjaman modal awal dan motivasi. Beliau mengatakan kalau toko ban dan onderdil mobil di Gunung Kidul belum sebanyak seperti yang sudah ada di kota Yogya. Dikatakan pula, peluang buka usaha disana masih banyak.
Masalahnya, usaha harus segera dibuka karena Om Nur, memberikan deadline bahwa kalau tidak buka di bulan Oktober sesudah lebaran di tahun ini yang dianggap sebagai bulan baik untuk memulai usaha, maka usaha diundur setahun lagi. Mau tak mau kami harus bergerak cepat. Kami tertarik dengan tawaran itu, dan dalam jangka waktu satu bulan, tepatnya di bulan Oktober awal, kami resign dari pekerjaan masing-masing.
Kebetulan, tempat saya bekerja lebih memudahkan proses pengunduran diri saya karena kebetulan, karyawan pengganti posisi saya bisa cepat dicari sehingga saya bisa resign tepat sebelum anak saya berulang tahun. Sedangkan suami saya masih harus menunggu satu bulan lagi, yaitu di bulan November karena masih mengurus soal serah terima tugas dengan orang yang akan menjadi penggantinya nanti dan masih harus mengurus prosedur lain-lainnya di perusahaan yang cukup besar di Cirebon itu. Jadi, saya duluan pulang ke Yogya menyusul anak saya, sedangkan suami masih di Cirebon.
Tanggal 10 Oktober 2009, ulang tahun anak saya dirayakan di Gunung Kidul di kediaman Om kami. Suami bisa pulang dan berkumpul bersama keluarga terdekat sekaligus sebagai penanda bahwa usaha mulai dibuka. Sehari sesudah ulang tahun anak saya, suami kembali bekerja di Cirebon, anak saya ikut eyangnya di Yogya, satu jam dari Gunung Kidul. Jadi, saya terdampar sendirian di Gunung Kidul, membuka usaha sendiri. Bayangkan bagaimana rasanya jauh dari suami dan anak tercinta, dan untuk sementara saya tinggal di rumah keluarga Om Nur yang belum lama saya kenal dengan baik. Tentu rasa asing melingkupi perasaan saya. Untunglah, keluarga Om Nur adalah keluarga yang baik dan sangat mensupport sepenuh hati. O,ya Om kami ini punya usaha toko besi yang sudah besar di Gunung Kidul ini. Selama 13 tahun buka usaha, sudah punya karyawan lebih dari 20, mempunyai armada truk 10 buah, dan aset pribadi lainnya yang cukup banyak. Sudah menuai hasil pokoknya.
Awalnya, tempat yang digunakan sebagai toko ban dan onderdil ini adalah gudang tempat Om Nur menyimpan keramik dagangannya. Sambil menunggu kedatangan suami saya di bulan November nanti, saya hanya berjualan ban mobil saja tanpa onderdil. Pertimbangannya, saya masih sendirian sedangkan onderdil itu itemnya banyak sekali dan saya sama sekali belum tahu pengetahuan dasar tentang onderdil mobil. Ban saja saya belum paham. Jadi, silakan dibayangkan bagaimana bengongnya saya yang latar belakang pendidikannya adalah Sarjana Sains dari Biologi UGM, harus menjual produk berupa ban mobil yang saya belum paham betul jenisnya. Jadi, saya mempelajari sendiri sambil dibimbing oleh Om. Sedikit demi sedikit saya mulai bisa membedakan ban radial yang mana, ban standart , ukuran ban, merk ban yang ternyata jenisnya itu banyak sekali. Ampun deh..
Lama-lama, saya mulai enjoy jualan ban mobil. Apalagi saat ada yang beli. Wah..senangya tak terkira. Pernah, ada dua orang dengan perawakan tinggi besar, pakai baju u can see, trus lengannya bertato datang ke toko saya. Saya sendirian di toko dan biasanya memang sendiri, terdampar diantara tumpukan ban-ban. Awalnya agak takut juga saya, takutnya orang ini berniat jahat eh nggak tahunya beli ban truk dua. Hahay..kekhawatiran berubah menjadi keceriaan. Uang dua juta lebih saya terima. Larisss..hehe..
Lalu, bulan November suami sudah resmi keluar dari pekerjaan, bergabung bersama saya di toko. Saya lega sudah ada teman. Onderdil mobil mulai diorderkan. Ada 1000 item lebih, hah..? Gimana caranya belajar nih. Untung suami saya lulusan teknik mesin UGM, paham tentang onderdil mobil jadi saya bisa belajar pelan-pelan. Kemudian saya dan suami mulai menempati rumah sendiri, tidak tinggal di rumah Om dan bulek lagi. Masih ngontrak sih, tapi bagus untuk tempat tinggal. Kan masih berjuang.
Bulan Desember, kami dapat orang yang akan mengasuh anak kami dan mengurus kebutuhan rumah tangga saat kami di toko. Jadi, anak kami bawa, tidak dititipkan di eyangnya lagi. Resmi di bulan Desember kami tinggal sebagai keluarga yang utuh tidak tercerai berai lagi. Senangnya..
Bulan Maret 2010, kami mulai membeli alat tyre changer ( untuk memasang ban ) dan alat untuk balancing ban. Sedikit demi sedikit mulai ada perkembangan pelanggan. Paling tidak, setiap hari ada pembeli. Entah membeli onderdil atau beli ban atau sekedar balancing. Walaupun rame atau sepinya tidak mesti, tapi paling tidak ada pemasukan yang bisa membuat dapur ngebul. Pokoknya harus bisa mengatur keuangan saja. Berapa persen untuk kulakan, untuk kebutuhan sehari-hari, untuk biaya operasional, semuanya sudah ada posnya sendiri-sendiri.
Bulan Juni 2010, kami dipercaya oleh suplier ban truk dari India untuk menjadi agen satu-satunya di Gunung Kidul. Kami tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Terbukti, ban ini sangat awet dan berkualitas baik bila dibandingkan dengan ban truk lainnya. Sedikit demi sedikit kami bisa menjual produk ini.
Hingga perjalanan usaha kami menginjak usia dua tahun ini, banyak suka duka yang kami kecap. Ada kalanya kami merasakan enak saat jadi karyawan ( biasanya kalau toko lagi sepi ) karena gaji tiap bulan sudah pasti. Saat sekarang, pendapatan tidak pasti, tapi banyak sekali tantangan yang harus kami taklukkan. Saat toko ramai, gaji satu bulan bisa kami dapatkan dalam waktu beberapa jam. Rasanya senang sekali saat itu. Campur-campurlah rasanya. Trus, di usia 2 tahun ini kami juga sudah punya satu karyawan. Harapannya, dari satu ini bisa berkembang lebih banyak lagi seiring dengan perkembangan usaha.
Nah, semoga usia usaha kami yang masih hijau ini bisa berkembang secara signifikan dari waktu ke waktu, semakin dikenal, semakin banyak pasar yang diraih dan semakin menunjukkan kualitasnya. Dan semoga, anak kami pun semakin bertumbuh secara alami, menjadi anak yang membanggakan dan memuliakan semua orang. Amin.
Hm..ceritanya cukup sekian dulu ya, ada yang ban mobilnya bocor tuh, mau nambal ban tubeless dulu hehe..( karyawannya maksudnya, saya bagian kasir aja..). Dagh..lain kali disambung lagi ceritanya..semoga bermanfaat.
Saturday, August 13, 2011
Anakku Hiperaktif ?

Friday, August 12, 2011
Jawaban Jujur
Friday, July 1, 2011
Puisi Bingung
Monday, June 13, 2011
Happy Birthday, Ibu..
Beberapa waktu ini kita sering berselisih paham. Tentang caramu mendidik anakku, yang juga cucumu. Kuanggap tak sesuai dengan standart didikan yang kudapatkan dari buku, majalah ataupun internet yang sering aku baca. Padahal, aku dulu kau didik sama seperti mendidik cucumu sekarang. Kenapa dulu aku tak pernah protes ?
Lalu, seringkali aku bersungut-sungut saat kau meminta uang untuk keperluan mandimu seperti sabun, shampoo dan lain sebagainya atau untuk sekedar jajan. Kuanggap seperti anak kecil yang suka jajan. Pemborosan. Padahal dulu, demi membesarkanku, kau rela bekerja sebagai pembantu menjadi tukang cuci, tukang masak atau baby sitter.
Saat usia merenta, saat fisikmu tak sekuat dulu lagi, kau mudah terjatuh sakit. Tak mampu lagi menafkahi diri sendiri sehingga harus berpindah dari satu anak ke anak yang lain. Seringkali aku menganggapmu sebagai beban yang harus aku tanggung. Menyudutkanmu dengan berbagai alasan bahwa kau bukanlah orang tua yang baik karena tidak mampu mempunyai rumah sendiri untuk ditinggali. Apalagi sepeninggal bapak, tak banyak yang mampu kau kerjakan. Tak mampu mengatur uang. Sehingga kadang aku malu karena aku tidak pernah punya rumah sendiri selalu mengontrak dari satu rumah ke rumah yang lain.
Ah..bagaimanapun kau adalah wanita yang pernah melahirkanku. Baik burukmu, kau tetap ibuku. Setidaknya aku bisa menjadi seperti sekarang karena pengorbananmu. Semestinya begitu pikiranku, tapi seringkali kelakuanku padamu seperti seorang anak yang durhaka kepadamu.
Tak jarang aku membentak saat tak setuju dengan pendapatmu. Menganggapmu kurang pengetahuan. Merasa bahwa aku paling pintar. Dan seringkali pura-pura aku tidak melihat kilatan di sudut matamu. Aku tetap merasa paling jumawa. Hatiku keras membatu bahkan ketika tanpa sengaja aku mendengar isak tangismu di malam hari.
Aku selalu bingung dengan sikapku. Selalu sulit untuk sekedar mengucap sebuah kata maaf. Maaf untuk apa ? Bukankah selama ini kita hanya berselisih paham ?
Sampai suatu waktu aku tersadar, tanpamu..aku tak akan pernah ada. Kebaikanmu selama ini tak mampu aku balas sebaik apapun aku padamu. Terlebih dengan sikap burukku selama ini. Apalagi, saat inipun aku telah menjadi orang tua. Apa jadinya jika suatu hari nanti anakku pun bersikap seperti aku bersikap kepadamu. Owh..tak mampu aku bayangkan, rasanya tinggal menunggu waktu saja.
Semestinya, aku tak perlu terlalu hitung menghitung. Harta benda yang aku punya, tidaklah aku bawa mati. Menjadi peninggalan untuk anak-anakku. Mestinya sekuat tenaga pula aku berkorban untukmu, layaknya pengorbananmu kala aku masih bayi hingga sekarang. Mestinya, aku tak perlu mendengarkan pendapat orang lain tentangmu. Luar dalam aku lebih mengenalmu daripada mereka. Keburukan yang terlihat, tak sebanyak kebaikan yang pernah aku terima. Semestinya aku menyerahkan semuanya kepada Tuhan, yang akan memberikan pembalasan setimpal akan perbuatanku kepadamu. Bagaimanapun, Tuhan telah memilihmu untuk menjadi malaikat penjagaku, seburuk apapun penilaianku kepadamu. Semestinya, akupun menyadari bahwa akupun bukan anak yang sempurna untukmu.
Ibu, maafkan aku..selamat ulang tahun untukmu. Semoga aku mampu menikmati waktu yang masih ada bersamamu. Sudah semestinya aku bersyukur karena masih memilikimu sebagai orang tuaku satu-satunya. Ini kesempatanku untuk membahagiakanmu..
Friday, February 18, 2011
Ada Apa Dengan Pantai Baron ?
Lama tidak berlibur ke pantai, tanggal 15 Februari 2011 kemarin, bertepatan dengan tanggal merah peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, saya beserta suami, anak dan saudara melakukan tamasya dadakan ke Pantai Baron. Tanpa rencana sebenarnya, dan hampir batal karena cuaca mendung yang mengindikasikan akan turun hujan menjadi kendala terbesar. Tapi berbekal niat karena anak saya, Andro yang berusia 3 tahun lebih 4 bulan belum pernah melihat pantai secara live ( langsung ) dan saya ingin dia mengenal apa itu pantai dan laut, mendung tidak jadi masalah. Toh ada lagu yang mengatakan bahwa mendung tak berarti hujan kan ? Lagu ciptaan Deddy Dores sepertinya.
Maka, jadilah kita berlima menuju ke Pantai Baron yang berjarak 20 km dari kota Wonosari, memakan waktu perjalanan kurang lebih setengah jam dari lokasi rumah saya yang kebetulan tinggal di Gunung Kidul, 7 km dari kota Wonosari. Pantai Baron terletak di Desa Kemadang, Kecamatan Tanjung Sari, Kabupaten Gunung Kidul. Mendung masih menggayut, tapi perjalanan tetap kami lalui. Sedikit penasaran juga ingin melihat bagaimana kondisi pantai Baron terkini setelah lebih dari 10 tahun saya tidak kesana. Dan bedanya, dulu saya kesana masih gadis, sekarang sudah punya suami dan anak. Menakjubkan.
Sampai di lokasi masuk di depan, kurang lebih 100 m dari pantai, tampak kondisi yang tidak beda jauh dengan 10 tahun yang lalu. Hanya warung-warung berjualan semakin penuh sesak dibandingkan dulu yang masih jarang-jarang. Angin semilir menyambut kedatangan kami. Masih mendung, menghadirkan nuansa romantis yang menyejukkan.
Kapal-kapal nelayan diparkir di bibir pantai. Banyak jumlahnya, mungkin belasan. Jumlah tepatnya berapa, maaf saya tidak ngitung hehe..Bisa dibilang, pantai Baron adalah pantai nelayan. Dimana sumber ikan laut banyak didapat disini. Bau amis khas ikan menusuk hidung. Perpaduan antara jijik bagi yang tidak suka ikan dan lapar bagi yang menyukainya. Ikan Tongkol, Bawal putih,Kakap, lobster menjadi kekayaan hasil laut Baron. Tersedia dalam keadaan segar atau siap saji di warung-warung makan lokasi ini. Menu andalannya, sop Kakap. Mak nyuss..

Namun..ups..saya cukup terhenyak menyadari kenyataan air laut berwarna coklat yang biasanya bening dan kebiruan. Kok bisa ? Seumur hidup, baru kali ini saya melihat air laut berwarna coklat layaknya air kali nan keruh. Mencoba berpikir, mungkin karena musim hujan, sehingga air kali keruh yang masuk ke laut sedikit banyak membuat air laut ikut coklat. Mungkin juga, bisa jadi. Tapi sejak kapan ?
Apa boleh buat, terpaksa bermain ombak coklat dengan si kecil. Sungguh, sepuluh tahun yang lalu, terakhir saya kemari, air laut begitu bening sampai hewan-hewan kecil di dalam air kelihatan. Sekarang, boro-boro..mana kelihatan ?. Hanya beberapa ekor binatang kecil sejenis kepiting / yuyu dan jingking yang tampak berlarian di pasir. Banyak harapan, warna air coklat ini hanya sementara. Saat musim hujan saja.
Saat kegirangan membiarkan kaki-kaki basah oleh ombak yang bergulung, mata dibuat terbelalak saat ada sesuatu yang nyangkut di kaki. Aih..bungkus plastik, sandal dan materi-materi sampah berhamparan. Miris, menyadari kenyataan bahwa laut menjadi tempat sampah terluas. Jangan salahkan jika airnya berubah warna dan aroma.
Cuaca mendung menyembunyikan sang surya yang kembali ke peraduan. Harapan bisa menyaksikan sunset harus terkubur saat hujan tiba-tiba mengguyur tanpa permisi. Si kecil berlari-lari tertawa merasakan pertama kali hujan-hujanan. Bersama kami berlari menjauhi pantai dengan berlindung di atap-atap warung berharap tidak terlalu basah pakaian kami.
Akhirnya, wisata dadakan yang cukup singkat selama 30 menit harus kami sudahi. Hari mulai gelap dan hujan turun semakin deras. Sangat tidak nyaman jika tetap melanjutkan wisata. Hanya satu tujuan untuk kembali : pulang. Dengan sejuta rasa dan tanya. Kenapa dan ada apa dengan Pantai Baron. Jangan biarkan ini jadi misteri. Kembalikan keasrian pantai Baron yang dulu. Saya jadi penasaran, apakah nasib saudara-saudaranya seperti Pantai Kukup, Krakal dan Sundak tidak beda jauh dengan Pantai Baron. Mengalami perubahan warna dan aroma air. Plus menjadi tempat sampah terluas. Semoga tidak. Lain waktu, ingin saya buktikan.

Saturday, January 8, 2011
Es Cendol Kenangan
Sekolah Dasar Negeri tempat Nining menuntut ilmu sudah tampak lengang. Kelas-kelas sudah rapat terkunci dan pintu gerbang sudah tertutup selama hampir satu jam yang lalu. Tinggal Nining sendirian di depan pintu gerbang sekolah, tak jauh dari jalan raya nan hiruk pikuk oleh kendaraan yang berlalu lalang.
Seragam putih merahnya sudah tampak kotor. Pikirannya sibuk bertanya-tanya dan menerka. Bapak kemana ya ? Apa lupa ? Ketiduran barangkali ? Ah..tak ada akses apapun untuk bisa mengungkap kebenaran yang ada. Tak ada handphone, tak ada orang yang dikenal yang bisa memberinya sedikit info. Sempurna sudah penantian panjang Nining.
“Belum pulang, Nduk ?”Nining menoleh ke arah suara.
Nining menelan ludah, menahan rasa hausnya. Terbayang betapa segarnya segelas es cendol membasahi kerongkongannya. Ah..andai ada sekeping uang logam saja untuk ditukar dengan segelas es cendol. Nining merogoh saku baju seragamnya. Seperti dugaannya, tak ada sekeping uang logam pun disitu. Nining tertawa diam-diam, sejak kapan ada uang saku disitu. Hanya keajaiban jika ditemukan uang di sakunya. Bukankah selama ini Nining selalu akrab dengan puasa dan uang saku merupakan kemewahan bagi Nining ? Mewah karena Nining hanya bisa merasakan uang saat diberi oleh Tantenya yang datang dari Jakarta, atau saat Nining mendapat upah dari berjaga bola di lapangan tenis sebagai kacung. Itupun tidak semuanya dirasakan Nining untuk bisa sekedar jajan, sebagian uangnya akan diberikan kepada ibunya sebagai tambahan uang belanja untuk makan sehari-hari.
Kemiskinan. Ya, Nining sudah cukup paham apa arti dari miskin. Tadi Bu guru menjelaskan tentang penduduk Indonesia yang masih 30% berada di bawah garis kemiskinan. Itu pasti termasuk keluarga Nining. Jika melihat ke bawah, Nining masih bersyukur bisa mengenyam sekolah. Begitu banyak teman-teman sekampungnya yang mencari nafkah di jalanan, tidak bisa sekolah. Beruntung, kedua orang tuanya berpikiran sedikit lebih maju yang menganggap pendidikan sebagai prioritas utama. Sekalipun sehari hanya bisa makan satu kali dengan nasi dan garam, itu jauh lebih baik daripada membiarkan anak-anaknya mengemis di jalanan. Ibunya yang seorang buruh cuci di sebuah kost-kostan orang kaya dan bapaknya yang seorang petugas keamanan sebuah pabrik tekstil kecil, harus berjuang keras menghidupi kelima anaknya yang masih sekolah semua.
Itulah mengapa Nining hampir tidak pernah merasakan bagaimana rasanya punya uang saku. Dia hanya bisa terdiam di pojokan sekolah saat teman-temannya berlarian menuju kantin sekolah. Atau sesekali ada temannya yang berbaik hati mentraktir, tapi Nining selalu tidak enak hati hingga sering menolaknya secara halus. Bagaimanapun, Nining tidak ingin menggantungkan diri kepada orang lain atau memanfaatkan keadaan. Lebih baik bagi Nining untuk menahan rasa laparnya daripada harus mengorbankan perasaannya. Nining merasa belum mampu untuk gantian mentraktir sekalipun teman-temannya tulus memberikan itu. Nining selalu merasa harga dirinya dipertaruhkan. Sekalipun miskin, Nining tidak ingin jika di kemudian hari dirinya menjadi bahan ejekan hanya karena tidak punya uang.
“Mau es cendol, Nduk ?”, bapak tua menatap Nining iba.
Lekas-lekas Nining menggelengkan kepalanya. Nining tidak berani bilang tidak punya uang. Padahal sungguh, Nining sangat ingin bisa merasakan segarnya es cendol bapak tua. Ah..terpaksa Nining harus mengenal kebohongan. Gelengan kepalanya sangat bertentangan dengan keinginan hati dan mulutnya. Dan berkali-kali Nining harus menelan ludahnya yang tersisa. Betapa rasa dahaganya sangat menyiksa.
Beberapa pembeli mulai menyerbu es cendol bapak tua. Nining menduga, pasti es cendol ini sangat enak, terbukti pembelinya selalu rela berdesak-desakan. Mungkin dalam hitungan beberapa jam sudah habis. Apalagi cuaca yang cukup panas membuat dagangan pak tua selalu laris manis. Harganya juga murah, hanya seribu rupiah per gelasnya. Ironis, karena walaupun hanya seribu, Nining tidak mampu membelinya. Saat ini, Nining hanya ingin bapaknya segera datang menjemputnya, membawanya pulang dan segera melupakan keinginannya untuk minum es cendol yang sangat menggoda ini.
Nining sampai terkantuk-kantuk menunggu jemputan yang tak kunjung tiba. Disandarkannya tubuhnya di tembok pagar sekolah. Duduk beralaskan koran yang ditemukannnya di pinggir jalan. Entah berapa lama Nining tertidur saat mendengar suara bapak tua.
“Nduk..minumlah..kamu pasti haus..”
Nining tergagap sekaligus ternganga melihat bapak tua mengulurkan segelas es cendol ke arahnya. Nining hampir menggeleng ketika pak Tua segera menukasnya.
“Tidak usah bayar, gratis..”
“Tapi pak..”
“Sudahlah..bapak ikhlas kok..bapak inget sama cucu bapak..”
Ragu-ragu Nining menerima uluran tangan bapak tua.
“Terima kasih banyak pak, Tuhan akan membalas kebaikan Bapak..”
Mata Nining berkaca-kaca terharu. Tuhan mengabulkan keinginan Nining untuk bisa merasakan es cendol melalui ketulusan hati bapak tua. Dalam hati Nining berjanji untuk bisa membalas kebaikannya suatu hari nanti. Ditandaskannya segelas es cendol dalam beberapa teguk hingga tetes terakhir. Rasa dahaganya terpuaskan sudah. Bapak tua tersenyum bahagia, sebahagia hati Nining kini.
“Nduk, bapak pulang dulu ya..sudah habis dagangan bapak..”
“Hati-hati, ya Pak..terima kasih..salam untuk keluarga bapak..”
Pak tua mengangguk. Pikulannya sudah terasa ringan. Senyumnya terkembang. Nining mengikuti langkah pak tua dengan pandangan matanya. Betapa semangat bapak tua begitu besar. Di usianya yang cukup renta, mampu berjalan kaki membawa dagangannya dengan dipikul. Tak berapa lama, muncul dari kejauhan sepeda hijau tua bapak. Nining hampir menangis karena menunggu terlalu lama. Bapak mengusap kepala Nining pelan.
“Maafkan bapak..tadi ban sepedanya bocor, ditambal dulu..”
Nining mengangguk. Hilang sudah semua kesalnya. Segera Nining membonceng dan sepeda hijau tua itu bergerak pelan membelah keramaian jalan. Sekitar 500 m dari sekolah Nining, ada keramaian yang tidak biasa. Banyak orang berkerumun dan kendaraan banyak yang berhenti yang mengakibatkan kemacetan. Nining dan bapak bertanya-tanya ada apa. Tak jauh dari pandangan Nining, ada pecahan tanah liat dan kaca-kaca. Selain itu, Nining sangat mengenal sebuah pikulan yang tampak teronggok di pinggir jalan dengan keadaan yang sudah rusak. Deg..seketika Nining teringat bapak tua penjual es cendol. Bapak..ah..bahkan untuk menyebut namanya saja Nining tidak tahu. Baru disadarinya betapa tololnya tidak menanyakan siapa nama bapak tua itu.
“Ada apa pak ?”
“Ada kecelakaan pak, sebuah truk menabrak tukang es yang sedang menyeberang..”
Seketika Nining merasa lemas. Terbayang betapa ketulusan bapak tua saat memberinya minuman. Tuhan memanggilnya begitu cepat sebelum Nining sempat untuk membalas kebaikannya. Bahkan dengan cara yang tidak diduga. Sebuah kecelakaan. Beristirahatlah dalam ketenangan Bapak Tua..




